Essay:

Essay details:

  • Subject area(s): Engineering
  • Price: Free download
  • Published on: 7th September 2019
  • File format: Text
  • Number of pages: 2

Text preview of this essay:

This page is a preview - download the full version of this essay above.

ANALISIS PENGARUH KETERLAMBATAN PEMBUKAAN LAHAN TAMBANG TERHADAP KETERSEDIAAN TOP SOIL DAN SUB SOIL UNTUK REKLAMASI DI PIT BATU HIJAU, PT. NEWMONT NUSA TENGGARA, SUMBAWA BARAT

THE EFFECT OF DELAYED LAND CLEARING TO TOP SOIL AND SUB SOIL STOCKPILE FOR RECLAMATION  ANALYSIS IN BATU HIJAU PIT PT. NEWMONT NUSA TENGGARA, SUMBAWA BARAT

Gea Aslamiyah1, RR Harminuke Eko Handayani2, dan Bochori3

1,2,3Jurusan Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya

Jl. Raya Palembang - Prabumulih Km.32 Inderalaya, 30662, Indonesia

E-mail: [email protected]

ABSTRAK

PT. Newmont Nusa Tenggara merupakan salah satu perusahaan pertambangan tembaga dan emas berskala besar di Indonesia yang berlokasi di Batu Hijau, Kecamatan Sekongkang, Sumbawa Barat. Sebagai perusahaan pertambangan multinasional, PT. Newmont Nusa Tenggara sangat memperhatikan lingkungan dan upaya perbaikan lingkungan bekas tambang yaitu reklamasi.  Perencanaan reklamasi dilakukan dengan penimbunan material waste terlebih dahulu dan dilapisi dengan top soil dan sub soil. PT. Newmont Nusa Tenggara saat ini mengalami keterlambatan bukaan lahan tambang sehingga menyebabkan perbedaan perencanaan jumlah material waste yang akan ditimbun dengan jumlah sebesar 21.575 ton. Berdasarkan perhitungan top soil dan sub soil menggunakan software TSS Miner dan penyesuaian kriteria tanah  Golder Model maka didapatkan ending soil balance sebesar 3.252.740 ton dengan deviasi 1,07. Hal ini dikarenakan total soil yang digunakan untuk reklamasi berbeda 2.329.000 ton yang dipengaruhi oleh perbedaan topografi area timbunan terakhir, meskipun soil salvage yang didapatkan lebih kecil 898.210 ton. Ending soil balance yang positif menyatakan bahwa meskipun terjadi keterlambatan untuk pembukaan tanah dan reklamasi sampai dengan tahun 2044 namun PT. Newmont Nusa Tenggara masih memiliki ketersediaan top soil dan sub soil yang cukup.  

Kata Kunci: waste, soil salvage, reklamasi, ending soil balance

ABSTRACT

PT. Newmont Nusa Tenggara is one of the biggest gold and copper mining company in Indonesia that located in Batu Hijau, Sekongkang district, Sumbawa Barat. As the multinational company, PT. Newmont Nusa Tenggara took a serious attention to environment and always strive to achieve nature recovery from the mining activity which called by reclamation. Reclamation planning started by stockpilling the waste material continued by top soil and sub soil layering. Nowadays, PT. Newmont Nusa Tenggara having a delay on land clearing process which caused discrepancies between the planned stockpile material by 21.575 tons. Based on the calculation and analysis of top soil and sub soil using TSS Miner software and adjustment of Golder Model, the conclusion stated that the ending soil balance was equal to 3.252.740 tons with 1.07 deviation with the previous ending soil balance. This differences was caused by total soil that would be used for reclamation 2.329.000 tons less than before and  affected by the differences of topography area from the last dumping area although the number of soil salvage is 898.210 tonss less. This positive ending soil balance indicates that although there was delayed for land clearing and reclamation until 2044 but PT. Newmont Nusa Tenggara still have enough top soil and sub soil in their stockpile.

Keywords: waste, soil salvage, reclamation, ending soil balance

1. PENDAHULUAN

PT. Newmont Nusa Tenggara adalah perusahaan yang bergerak dalam pertambangan tembaga dan emas di Sumbawa Barat, Provinsi Nusa Tenggara. Aktivitas pertambangan tembaga dan emas meliputi beberapa kegiatan termasuk pengolahan lingkungan pasca tambang dengan reklamasi. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari dampak buruk lingkungan. Reklamasi didefinisikan sebagai suatu kegiatan yang dilaksanakan dalam  usaha pertambangan untuk memperbaiki, menata, maupun memulihkan kualitas lingkungan dan ekosistem sehingga dapat dikembalikan sesuai fungsinya [1].

PT. Newmont Nusa Tenggara sedang mengalami keterlambatan bukaan lahan tambang dan dimulai kembali tahun 2017. Hal ini mengakibatkan perubahan perencanaan reklamasi yang telah ditetapkan sebelumnya, adapun jumlah timbunan material waste sebesar 748.118.100 ton sedangkan rencana jumlah material waste apabila terdapat keterlambatan pembukaan lahan tambang yaitu sebesar 769.693.000 ton. Keterlambatan lahan  ini menunjukan perbedaan 21.575.900 ton waste yang akan ditimbun dan  terhambatnya ketersediaan top soil maupun sub soil untuk kebutuhan reklamasi.  Maka diperlukan analisis jumlah material timbunan yang terbaru, sehingga apabila terdapat kekurangan tanah maka dapat ditindaklajuti. Dengan demikian proses reklamasi dapat berjalan dengan baik meskipun terdapat keterlambatan pembukaan lahan tambang.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh perubahan disturbance area sehingga apabila terjadi perbedaan yang cukup signifikan maka akan diajukan pertimbangan untuk perizinan pembukaan lahan yang baru, menganalisis jumlah tanah yang dapat diselamatkan (soil salvaged) untuk mencukupi kebutuhan tanah dalam tahapan reklamasi perusahaan meskipun terjadi keterlambatan pembukaan lahan tambang, dan menganalisis perubahan ending soil balanced  pada perencanaan reklamasi revisi sehingga apabila hasil menyatakan negatif maka perencaan revisi harus dilakukan perhitungan ulang.

Tanah adalah bahan padat (bahan mineral atau bahan organik) yang terletak dipermukaan, yang telah dan sedang serta terus menerus mengalami perubahan yang dipengaruhi oleh faktor – faktor yaitu bahan induk, iklim, organisme, topografi dan waktu. Tanah merupakan hasil akhir dari proses pelapukan batuan baik secara fisika dan kimia [2]. Tanah diartikan sebagai kumpulan butir – butir mineral alam yang melekat tidak erat sehingga mudah untuk dipisahkan [3]. Pengertian profil tanah adalah irisan vertikal dari lapisan paling atas hingga ke batuan induk tanah. Tanah yang mengalami perkembangan lanjut akan memiliki horisonisasi yang lengkap, yang terdiri dari horison O, horison A, horison eluviasi, horison B dan horison C serta batuan induk tanah  [4].

Kegiatan reklamasi lahan bekas tambang hendaknya dilakukan secara holistik dan tidak hanya mencakup perbaikan fisik lingkungan semata, tetapi dilakukan juga dengan kegiatan pengembangan masyarakat [5]. Perencanaan didefinisikan sebagai tahapan yang penting dalam operasi penambangan baik dalam perancangan dan penentuan batas akhir penambangan serta perjadwalan produksi [6].

Perencanaan memiliki banyak kegunaan dalam suatu kegiatan dan secara umum fungsi perencanaan yaitu pengarah kegiatan, adanya pedoman bagi pelaksanaan kegiatan dalam pencapaian tujuan, perkiraan terhadap masalah pelaksaan, kemampuan, harapan, hambatan, dan kegagalannya mungkin terjadi, usaha untuk mengurangi ketidakpastian, kesempatan untuk memilih kemungkinan terbaik, penyusutan urutan kepentingan tujuan, alat pengukur atau dasar ukuran dalam pengawasan dan penilaian, dan cara penggunaan dan penempatan sumber daya secara berdaya guna dan berdaya saing [7]. Pembersihan lahan adalah kegiatan pembersihan tumbuh – tumbuhan pada daerah yang akan ditambang. Proses pembersihan pada lereng yang mempunyai kemiringan lebih besar dari 300 dilakukan dengan tenaga manusia, dengan cara menebang pohon – pohon besar atau kecil kemudian dibakar. Sedangkan untuk lereng yang mempunyai kemiringan kurang dari 300, proses pembersihannya dapat menggunakan alat berat. [6].

PT. Newmont Nusa Tenggara menyelamatkan top soil dan sub soil yang bersumber dari tanah outpit dan tanah inpit. Area tanah yang dimodelkan berdasarkan asumsi kimia dan ketebalan. Model tanah saat ini mengacu pada Golder model (tahun 2008). Tanah inpit dimodelkan berdasarkan kriteria kimia dan litologi. Sumber tanah merupakan terbatas untuk daerah yang berada di sekitar 10 m dibawah topografi. Top soil memiliki kesuburan fisik, kimia, dan biologi lebih baik dibanding sub soil hal ini dikarenakan pelapukan yang lebih lanjut [8].

Top soil memiliki beberapa kriteria tanah yaitu jumlah kandungan tembaga adalah maksimal 500 ppm sedangkan sub soil memiliki jumlah kandungan tembaga adalah maksimal 900 ppm. Top soil dan sub soil juga mempunyai nilai keasaman dengan skala 5. Kadar persentase kerikil pada top soil yaitu 0 – 25 persen sedangkan pada lapisan tanah sub soil yaitu 5 – 35 %. Persentase pasir pada top soil dan sub soil yaitu 10 – 60 % (Tabel 1) [9].

Tabel 1. Kriteria Top soil dan Sub soil Berdasarkan Parameternya

Acceptable

Ranges

Parameter

Topsoil

Subsoil

Total Copper (Cu)

≤ 500 ppm

≤ 900 ppm

Net Carbonate Value

≥ - 0,01 %

≥ - 0,01 %

pH

> 5

> 5

Percentage Gravel

0 – 25

5 – 35

Percentage Sand

10 – 60

10 – 60

Percentage Fines

30 – 85

30 – 75

Plasticity Index

5 – 35

5 – 35

Kegiatan reklamasi pada PT. Newmont Nusa Tenggara  dilakukan dengan proses penimbunan waste dan dilanjutkan dengan kegiatan penempatan top soil dan sub soil dengan kriteria yang berbeda, berikut penjelasan mengenai penempatan top soil dan sub soil (Gambar 1).

a. Penempatan : Akhir – keujung dari crest dan didorong kebawah.

b. Metode pemadatan : Track Dozer.

c. Tingkat kepadatan : 90 % lewat > 85 % dari standart proctor.

d. Kadar kelembaban : -2 sampai 3 % dari optimal.

e. Ketebalan total : 0,5 m tegak lurus ke lereng.

f. Ketebalan lapisan : 0,5 m dari satu lapisan.

Pemadatan harus dilakukan dengan memastikan bahwa overlap minimal 0,3 m dicapai antara melewati urutan pemadatan .

a. Penempatan : Akhir – keujung dari crest dan didorong kebawah.

b. Metode pemadatan : Sheep-foot Roller (setiap lapisan).

c. Tingkat kepadatan : 90 %  lewat > 95 % dari standar proctor.

d. Kadar kelembaban : -2 sampai 3 % dari optimal.

e. Ketebalan total : 2,25 m tegak lurus ke lereng.

f. Ketebalan lapisan : 0,5 m (4-5 lapisan).

Gambar 1. Penempatan Topsoil dan Subsoil (Soil Placement for Final Reclamation PT. Newmont Nusa Tenggara, 2009)

2. METODE PENELITIAN

Penilitian ini dilaksanakan pada tanggal 1 Maret – 30 April 2016 di PT. Newmont Nusa Tenggara yang berlokasi pada Kecamatan Sekongkang dan Jereweh Kabupaten Sumbawa Barat Provinsi Nusa Tenggara Barat. Metode penelitian dilakukan dengan berbagai kegiatan yaitu kegiatan studi literatur pencarian bahan – bahan pustaka, pengenalan dan pembelajaran software TSS Miner dan Mine Sight 3D, perhitungan kebutuhan dan ketersediaan tanah untuk perencanaan reklamasi, dan laporan perusahaan yang bersifat tahunan dan bulanan.

Penelitian dilakukan dengan tahapan pertama yaitu penentuan jumlah (waste) revisi secara volumetrik dengan menggunakan data perencanaan penambangan waste PT. Newmont Nusa Tenggara mulai dari bulan April tahun 2016 sampai akhir penambangan waste tahun 2025 sebagai panduan awal untuk merencanakan desain timbunan. Selanjutnya yaitu penentuan perencanaan waste revisi dilakukan dengan mengasumsikan data rencana bulan April tahun 2016 pada perencanaan PT. Newmont Nusa Tenggara menjadi bulan Januari tahun 2017 untuk perencanaan revisi, hal ini merupakan akibat dari penundaan pembukaan lahan tambang di pit Batu Hijau.

Penelitian dilanjutkan dengan penentuan model area timbunan revisi dengan aplikasi TSS Miner dengan memasukan koordinat yang tepat. Sistem koordinat merupakan suatu parameter yang menunjukkan bagaimana suatu objek diletakkan dalam  koordinat [10]. Penentuan dan perhitungan luas disturbance area menggunakan aplikasi TSS. Perhitungan soil salvage dengan menggunakan IPTools pada aplikasi MineSigth 3D. Perhitungan dan perencanaan area reklamasi pada perencanaan revisi menggunakan aplikasi TSS Miner.

Perancangan contact channel pada perencanaan revisi dengan menggunakan TSS Miner untuk menentukan kebutuhan top soil dan sub soil. Perhitungan ending soil balance menggunakan perumusan TSSIR dengan MS. Excel untuk semua parameter seperti disturbance area, soil salvage, reklamasi, contact channel dan sumber tanah, sehingga didapatkan soil balance summary untuk perencanaan reklamasi revisi.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Tonase Waste pada Perencanaan Revisi dan Perencanaan PT. Newmont Nusa Tenggara

Perencanaan revisi ini sebagai acuan untuk membuat desain area timbunan tiap tahunnya sesuai dengan besarnya target waste yang dapat diproduksi. Perencanaan revisi memiliki sepuluh tahun untuk melakukan penambangan waste di pit Batu Hijau. Berdasarkan perencanan revisi akan dilakukan penambangan waste sebesar 138.231.000 ton pada tahun 2017 dan selesai pada tahun 2021 dengan jumlah waste sebesar 16.500 ton (Tabel 2). Perencanaan revisi memiliki jumlah tonase keseluruhan yaitu sebesar 21.575 ton lebih kecil daripada jumlah tonase secara keseluruhan pada perencanaan PT. Newmont Nusa Tenggara. Hal ini disebabkan masih dilakukannya penambangan pada phase 7 pada bulan Januari sampai Maret tahun 2016 dan mendapatkan material waste sebesar 15.482.800 ton, dengan demikian keadaan aktual saat penambangan material waste di phase 7 tahun 2016 bulan Januari sampai Maret lebih kecil dari perencanaan.

Tabel 2. Tonase waste Perencanaan Revisi dan Perencanaan PT. Newmont Nusa Tenggara

Tahun

Perencanaan Revisi (ton)

Perencanaan PT. Newmont Nusa Tenggara (ton)

2016

15.482.800

137.722.000

2017

138.231.000

149.953.000

2018

154.533.000

180.324.000

2019

175.358.000

149.248.000

2020

141.922.000

116.614.000

2021

100.297.000

31.535.000

2022

19.365.000

2.857.000

2023

1.491.000

1.423.000

2024

1.423.000

17.000

2025

16.500

0

Jumlah

748.118.100

769.693.000

3.2. Perbandingan Disturbance Area pada perencanaan Revisi dan Perencanaan PT. Newmont Nusa Tenggara

Pengaruh disturbance area pada perencanaan revisi terhadap perencanaan PT. Newmont Nusa Tenggara dapat dilihat dengan perbedaan luas disturbance area tiap tahunnya baik pada tahun pertama maupun tahun terakhir yang masih ada gangguan daerah akibat penimbunan. Jumlah area yang dibuka pada perencanaan PT. Newmont Nusa Tenggara berakhir pada tahun 2020 sedangkan pada  perencanaan revisi yaitu tahun 2021 (Tabel 3). Hal ini dikarenakan keterlambatan pembukaan lahan tambang pada pit Batu Hijau pada tahun 2016.

Perbedaan luas disturbance area pada perencanaan PT. Newmont Nusa Tenggara dan perencanaan revisi yaitu sebesar 3,9 Ha, dimana disturbance area pada perencanaan revisi lebih kecil dari perencanaan PT. Newmont Nusa Tenggara. Hal ini disebabkan oleh tidak ada pembukaan area Kanloka (disturbance area 15e)  seperti yang terdapat pada perencanaan PT. Newmont Nusa Tenggara. Apabila kemampuan area timbunan telah mencukupi waste yang lebih sedikit maka pembukaan daerah tidak perlu dilakukan meskipun telah direncanakan. Perubahan pada luas disturbance ini, akan mempengaruhi total jumlah soil salvaged yang didapatkan, karena soil salvage didapatkan dari luas disturbance area.

3.3. Analisis Perubahan Soil Salvaged

Penyelamatan tanah dapat bersumber dari dalam pit dan pembukaan area baru (disturbance area). Pada perencanaan revisi, penyelamatan tanah tidak dapat dilaksanakan pada tahun 2016 akibat tidak adanya disturbance area pada tahun tersebut. Perhitungan ketebalan tanah disekitar area penambangan dihitung dengan menggunakan IP Tools dari MineSight 3D dengan menggunakan acuan Golder Soil Model berdasarkan internal memo pada tahun 2008. Perbedaan soil salvage yang mendasar terletak pada tahun 2016 yaitu pada perencanaan revisi tidak ada tanah yang bisa diselamatkan sedangkan pada perencanaan . PT. Newmont Nusa Tenggara memiliki tanah sebesar 795.600 ton dan berhenti pada tahun 2020 (Tabel 4).

3.4. Analisis Perubahan Tonase Reklamasi

Luas area reklamasi dilakukan pada daerah seluruh aktivitas penambangan kecuali area yang tidak memungkinkan untuk direklamasi seperti area didalam pit dikarenakan ketinggian dan kecuraman daerah dalam pit tersebut. Reklamasi dilakukan mengikuti bentuk area timbunan yang telah ada sehingga terdapat perbedaan tonase tanah yang dibutuhkan untuk perencanaan revisi. Dengan demikian terdapat pengaruh jumlah tonase tanah yang dibutuhkan untuk reklamasi.

Tabel 3. Disturbance area Perencanaan PT. Newmont Nusa Tenggara dan Perencanaan Revisi

Tahun

Disturbance Area (Ha)

Perencanaan PT. NNT

Perencanaan Revisi

Kumulatif Perencanaan PT. NNT

Kumulatif

Perencanaan Revisi

2016

18,1

0,0

34,7

0,0

2017

35,3

31,6

70,0

31,6

2018

24,1

24,1

94,1

55,7

2019

18,8

13,8

112,9

69,5

2020

17,6

22

130,5

91,5

2021

0,0

41,6

130,5

126,6

Tabel 4. Soil Salvage pada Perencanaan PT. Newmont Nusa Tenggara dan Perecanaan Revisi

Tahun

Soil Salvage (ton)

Perencanaan PT.NNT

Perencanaan Revisi

Kumulatif Perencanaan PT.NNT

Kumulatif Perencanaan Revisi

2016

795.600

0

2.275.410

0

2017

1.946.210

1.429.170

4.221.620

1.429.170

2018

2.135.060

995.080

6.356.690

2.424.250

2019

391.090

1.393.520

6.747.770

3.817.770

2020

1.098.300

536.320

7.846.070

4.354.100

2021

0

2.593.760

7.846.070

6.947.860

Total luas area reklamasi antara perencanaan revisi dan perencanaan PT. Newmont Nusa Tenggara adalah sama, hal ini dikarenakan batasan area reklamasi Batu Hijau adalah sama. Perencanaan revisi reklamasi yang telah di lakukan PT. Newmont Nusa Tenggara pada tahun 2016 dengan luas 25 Ha, sedangkan pada tahun 2017 reklamasi ditargetkan hanya sebesar 29 Ha mengingat jumlah waste yang digunakan sebagai topografi awal belum optimal untuk mencapai luasan sebesar 40 Ha.

Meskipun, luas area reklamasi antara perencanaan revisi dan perencanaan PT. Newmont Nusa Tenggara adalah sama namun jumlah tonase tanah baik top soil maupun sub soil yang dibutuhkan untuk reklamasi pada kedua perencanaan memiliki perbedaan. Hal ini dikarenakan perbedaan bentuk area timbunan pada topografi akhir timbunan pada perencanaan PT. Newmont Nusa Tenggara dan perencanaan revisi. Selisih tonase yang mempengaruhi perencanaan

PT. Newmont Nusa Tenggara yaitu sebesar 2.329.280 ton untuk kedua jenis tanah.

Perbedaan perancangan reklamasi antara kedua perencanaan juga terlihat pada desain bentuk reklamasi dan perbedaan waktu. Berdasarkan perencanaan revisi, bentuk slope memiliki luasan yang lebih kecil sekitar delapan persen dari perencanaan PT. Newmont Nusa Tenggara, hal ini disebabkan oleh topografi final yang berbeda pada kedua perencanaan.

3.5. Analisis Pengaruh Panjang Contact Channel

Pembuatan contact channel berdasarkan panjang pembukaan area yang terganggu untuk melindungi air bersih dari alam agar tidak tercampur dengan air dari waste. Semakin panjang area terganggu yang dibuka, maka akan semakin banyak tanah yang dibutuhkan untuk pembuatan contact channel.

Berdasarkan hasil penelitian, perencanaan revisi memiliki disturbance area yang lebih kecil dari perencanaan

PT. Newmont Nusa Tenggara, dengan demikian pada perencanaan revisi kebutuhan untuk contact channel lebih sedikit. Pembuatan contact channel pada perencanaan PT. Newmont Nusa Tenggara berhenti pada tahun 2020, sedangkan pada perencanaan revisi pembuatan contact channel berhenti pada tahun 2021 (Tabel 5). Hal ini dikarenakan pada tahun 2021 masih terdapat topografi alami yang diganggu untuk membuat area timbunan dan menampung material waste.

Secara keseluruhan panjang contact channel pada perencanaan revisi adalah sepanjang 12,37 km, sedangkan panjang contact channel pada perencanaan PT. Newmont Nusa Tenggara yaitu 13,16 km. Dengan demikian, panjang contact channel perencanaan revisi lebih pendek sebesar 0,76 km daripada perencanaan PT. Newmont Nusa Tenggara. Hal ini berkaitan dengan jumlah luasan disturbance area pada kedua perencanaan, dimana perencanaan revisi memiliki luasan lebih kecil dibandingkan dengan perencanaan PT. Newmont Nusa Tenggara.

3.6.  Analisis Pengaruh Soil Balance

Perhitungan dan analisis data – data mengenai disturbance area, soil salvage, reklamasi dan contact channel dapat disimpulkan menjadi soil balance summary (Tabel 6). Soil balance summary ini memperlihatkan jumlah tonase tanah secara total (top soil dan sub soil) yang telah didapatkan serta digunakan baik untuk reklamasi maupun keperluan lainnya dan hasil terakhir akan membandingkan ending soil balance pada kedua perencanaan.

Tabel 5.  Panjang Contact Channel pada Perencanaan Revisi dan Perencanaan   PT. Newmont Nusa Tenggara

Tahun

Panjang Contact Channel (km)

Perencanaan

PT. NNT

Perencanaan Revisi

Kumulatif Perencanaan

PT. NNT

Kumulatif Perencanaan Revisi

2016

1,58

0,00

4,32

0,0

2017

3,19

3,97

7,51

3,97

2018

1,43

2,05

8,94

6,02

2019

1,44

1,58

10,38

7,60

2020

2,79

1,98

13,16

9,59

2021

0,00

2,79

13,16

12,37

Tabel 6. Soil balance summary Perencanaan Revisi dan Perencanaan PT. Newmont Nusa Tenggara

Items

Perencanaan Revisi

Perencanaan PT. NNT

Varians

Soil Inventory (Kton)

37.902,54

37.460,06

1%

Soil Salvage (Kton)

Inpit

95,33

226,04

-58% *

Outpit

6.852,52

7.619,77

-10%

Total soil salvage

6.947,86

7.846,07

-11%

Other Soil Source (Kton)

All Embankment

4.567,50

4.567,50

0%

Barakebo Soil Stockpile

268,27

268,27

0%

Redisturb ED Reclamation P7 West

196,90

196,90

0%

Total Additional Soil Source

5.032,66

5.032,66

0%

Reclamation

Calculated Soil (KT)

49.442,72

51.752,00

-5%

Total Reclamation (Ha)

1.149,00

1.149,00

0%

Wide /Catch Bench Requirement

26.383,40

26.611,40

-1%

Slope Requirement

23.039,32

25.140,60

-8%

Soil Substraction (Barakebo)

(1.661)

(1.661)

0%

Soil Subtraction (drop structure area)

(1.741)

(1.872)

7%

Total Soil Subtraction

(3.402)

(3.533)

4%

Total Soil Required for Reclamation

46.153,75

48.218,75

-4% **

Permanent Contact Channel

Total Soil Required for Contact Channel

476,58

551,00

-14%***

Ending Balance

3.252,74

1.569,05

1,07

*) Aktual soil salvage inpit 2015 quarter 3 dan quarter 4 lebih besar dari plan

**) Topografi timbunan terakhir berbeda

***) Tidak ada lagi permanent contact channel di kanloka (450 mRL)

Soil balance summary menjelaskan ending soil balance pada perencanaan revisi 1.817.000 ton tanah lebih besar dari perencanaan PT. Newmont Nusa Tenggara, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yang mempengaruhi, yaitu :

a. Jumlah soil inventory pada perencanaan revisi menggunakan data teraktual yaitu pada tahun 2016 quarter pertama sebesar 37.902.540 ton. Hal ini menyebabkan perbedaan soil inventory sebesar 442.480 ton (keadaan aktual dari 2015 quarter ketiga dan keempat serta 2016 quarter pertama).

b. Jumlah soil salvage yang didapatkan pada perencanaan revisi 898.210 ton lebih kecil dibandingkan dengan perencanaan PT. Newmont Nusa Tenggara, dikarenakan luas area yang diganggu (disturbance area) pada perencanaan revisi yang dibuka lebih kecil dari perencanaan perencanaan PT. Newmont Nusa Tenggara,.

c.  Jumlah total soil yang digunakan untuk reklamasi perencanaan revisi semakin berkurang dengan selisih yaitu 2.329.000 ton yang disebabkan oleh perbedaan topografi area timbunan terakhir pada perencanaan revisi. Selain itu berkurangnya pembuatan permanent contact channel di Kanloka dengan selisih 74.420 ton dan pengurangan pembuatan drop structure sebesar 130.890 ton yang mengakibatkan bertambahnya soil substraction.

4. KESIMPULAN

Berdasarkan uraian pembahasan diatas, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Total luas disturbance area pada perencanaan revisi berkurang sebesar 3,4 Ha dari perencanaan PT. Newmont Nusa Tenggara dikarenakan ketidaksesuaian pembukaan daerah pada daerah Kanloka, dengan demikian tidak perlu diajukan perizinan pembukaan lahan yang lain.

2. Soil salvaged pada perencanaan revisi yaitu sebesar 49.442.720 ton sedangkan kebutuhan tanah untuk reklamasi pada perencanaan revisi adalah sebesar 46.153.750 ton, dengan demikian tanah yang diselamatkan secara keseluruhan mampu memenuhi kebutuhan tanah untuk proses reklamasi.

3. Soil balance terakhir pada perencanaan PT. Newmont Nusa Tenggara adalah sebesar 1.569.050 ton sedangkan pada perencanaan revisi yaitu 3.252.740 ton dengan nilai positif yang menunjukkan tidak perlu perhitungan ulang untuk perencanaan revisi.  

5.  DAFTAR PUSTAKA

[1] Anonim, (2009). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2009. Jakarta : Pertambangan Mineral dan Batubara, Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4959.

[2] Noor D., (2008). Pengantar Geologi, CV Graha Ilmu. Bogor : Universitas Pakuan.

[3] Santosa, B., (2000). Dasar Mekanika Tanah. Jakarta : Penerbit Gunadarma.

[4] Hardjowigeno, S., (1993). Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis, Jakarta : Akapress.

[5] Kurniawan, R, A., (2013). Model Reklamasi Tambang Rakyat Berwawasan Lingkungan : Tinjauan atas Reklamasi Lahan Bekas Tambang Batu Apung Ijobalit, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara 9 (3).

[6] Singgih S., (2015). Perencanaan Tambang 2. CV Awan Poetih. Yogyakarta : UPN “Veteran”.

[7] Nurhakim, (2008). Perencanaan dan Permodelan Tambang. Kalimantan Selatan : Universitas Lambung Mangkurat Banjar Baru.

[8] Subowo, (2011). Penambangan Sistem Terbuka Ramah Lingkungan dan Upaya Reklamasi Pasca Tambang untuk Memperbaiki Kualitas Sumberdaya Lahan dan Hayati Tanah. Jurnal Sumberdaya Lahan 5 (2).

[9] Mine Engineering Department, 2015. TMEN1004-Soil Placement on 2H1V For Final Reclamation, Sumbawa:

PT. Newmont Nusa Tenggara Batu Hijau.

[10] Kartika, E., (2010). Perangkat Lunak Pembelajaran Sistem Koordinat. Jurnal Techno.Com 9 (3).

...(download the rest of the essay above)

About this essay:

This essay was submitted to us by a student in order to help you with your studies.

If you use part of this page in your own work, you need to provide a citation, as follows:

Essay Sauce, . Available from:< https://www.essaysauce.com/essays/engineering/2016-10-18-1476816630.php > [Accessed 15.10.19].