Essay:

Essay details:

  • Subject area(s): Engineering
  • Price: Free download
  • Published on: 7th September 2019
  • File format: Text
  • Number of pages: 2

Text preview of this essay:

This page is a preview - download the full version of this essay above.

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Pedagang kaki lima (PKL) merupakan salah satu pekerjaan yang sering dijumpai di Indonesia. PKL biasanya berupa pedagang makanan, minuman, atau bahkan hanya barang-barang kebutuhan sekunder seperti rokok, mainan, dan majalah.Perbedaan antar PKL dengan toko atau warung adalah dalam ketersediaan lahan. Toko atau warung memiliki sebuah tempat yang menetap sedangkan PKL kebanyakan tidak memiliki lahan. Mereka berjualan secara nomaden atau menetap di suatu tempat sementara waktu dan pulang di malam hari. Hal ini menuntut mereka untuk memiliki tempat berjualan yang mudah berpindah, dan juga dapat mengakomodasi kegiatan mereka. Tempat berjualan para PKL ini dapat berupa gerobak, sepeda kayuh, tenong, baki, dan banyak bentuk lain. Gerobak merupakan tempat berjualan PKL yang umum dipakai karena kapasitasnya yang lebih besar (Arifin, 2013).

Gambar 1: PKL yang berjualan turun ke jalur kendaraan bermotor dengan volume kendaraan yang tinggi

Sumber: Dokumentasi pribadi

Berdasarkan pengamatan peneliti, berkembangnya infrastruktur kota dan bertambahnya volume kendaraan menyebabkan jalan tempat PKL biasanya beraktivitas juga berubah. Pelebaran jalur kendaraan bermotor tanpa adanya pelebaran jalur pedestrian menyebabkan PKL kesulitan mencari lahan tempat mereka biasa berjualan. Gerobak PKL yang dahulu dapat berhenti dan berjualan di jalur pejalan kaki kini kehilangan tempat. Walaupun sudah mulai banyak terbangun sentra PKL, tetapi masih banyak gerobak yang berhenti di trotoar sempit, pinggir sungai, bahkan sampai turun ke jalan kendaraan bermotor. Peneliti mengamati bahwa desain gerobak yang kini tersedia belum mampu menjawab permasalahan masa kini yaitu terbatasnya lahan dan ramainya jalan. Hal ini membawa permasalahan baru bagi masyarakat karena gerobak tersebut menjadi penyebab kemacetan, mempersempit jalur pedestrian dan juga membahayakan pengguna jalan. Bahkan untuk para pedagang sendiri juga terdapat resiko tertabrak kendaraan dan longsoran pinggiran sungai. Kurangnya dana serta ilmu dalam pembuatan dan desain gerobak PKL menjadi penyebab masalah-masalah di atas.

Berangkat dari masalah-masalah tersebut, peneliti melihat perlunya sebuah inovasi pada desain gerobak atau tempat berjualan PKL. Gerobak PKL yang banyak digunakan sekarang sudah tidak lagi relevan dan kontekstual pada lingkungan modern di kota-kota besar. Gerobak yang saat ini digunakan cenderung tidak ergonomis, kurang fleksibel dalam pergerakannya, dan juga memiliki dimensi yang kurang efisien dari sudut pandang arsitektural. Oleh karena itu dibutuhkan sebuah konsep perancangan gerobak yang mampu mengakomodasi seluruh kegiatan PKL, ergonomis dan efisien, serta kontekstual di tengah lingkungan perkotaan modern ini.

1.2 PERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan dari pengamatan peneliti, ditemukan bahwa terdapat fenomena dimana Gerobak Pedagang Kaki Lima yang berjualan tidak di tempat yang seharusnya. Gerobak tersebut berhenti untuk berjualan di tempat-tempat yang mengganggu dan kurang aman seperti di trotoar yang sempit bahkan turun sampai ke jalur kendaraan bermotor. Yang menyebabkan hal ini terjadi adalah rancangan desain gerobak yang sudah tidak sesuai dengan konteks masa kini. Dari uraian latar belakang penelitian yang dikemukakan maka dapat dinyatakan rumusan masalah penelitian yaitu:

Bagaimana konsep perancangan gerobak PKL yang efisien dan kontekstual di trotoar yang kurang memadai dan jalan yang ramai?

1.3 BATASAN PENELITIAN

Gerobak PKL yang akan diteliti dibatasi pada PKL makanan yang berjualan di area jalur kendaraan bermotor, bukan yang berada di lahan terbuka atau di sentra PKL. Jalan yang akan diteliti adalah jalan-jalan ramai di sekitar wilayah Jalan Ahmad Yani, Surabaya. Kami membatasi pada jumlah 1 PKL di 3 titik yang berbeda. Ketiga titik tersebut harus memiliki karakteristik seperti ramai kendaraan bermotor, trotoar minim, dan PKL berjualan pada tempat yang mengganggu pengguna jalan lain.

1.4 TUJUAN PENELITIAN

Tujuan dari penelitian terbagi menjadi dua yaitu tujuan teoritis dan tujuan praktis. Tujuan teoritis yaitu menghasilkan sebuah konsep desain gerobak PKL yang lebih kontekstual terhadap kondisi saat ini. Konsep tersebut harus bisa menjawab masalah lahan yang terbatas dan memiliki kemampuan pergerakan yang lebih baik. Tujuan praktis yang diharapkan adalah untuk para PKL supaya dapat berjualan dengan lebih nyaman dan tidak menggangu pengguna jalan lain.

1.5 MANFAAT PENELITIAN

Manfaat dari penelitian ini adalah menjadi acuan konsep desain gerobak baru bagi para produsen gerobak, bengkel gerobak, dan juga pemilik gerobak. Hal ini supaya gerobak-gerobak PKL nantinya akan menjadi lebih nyaman bagi penjual dan juga tidak mengganggu pengguna jalan lain yaitu pejalan kaki dan kendaraan bermotor.

1.6 KEASLIAN PENELITIAN

Berdasarkan penelusuran peneliti tidak ditemukan adanya penelitian serupa yang membahas tentang gerobak PKL. Penelitian-penelitian sebelumnya membahas tentang PKL saja atau gerobak saja. Penelitian tentang PKL seluruhnya membahas dalam bidang-bidang seperti etnografi, demografi, kesehatan dan perekonomian. Sedangkan untuk gerobak sendiri yang dibahas adalah dalam bidang-bidang mekanika dan ergonomi. Untuk penelitian gerobak yang memiliki kemiripan dengan penelitian kami dalam hal lokasi adalah:

(1) Penelitian atas nama Febriono, Wignjosoebroto dan Sudiarno pada tahun 2009 berjudul Perancangan Gerobak Sampah Yang Ergonomis Dengan Menggunakan Metode Kansei Engineering dan Metode Quality Function Deployment dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya.

(2) Penelitian atas nama Arifin tahun 2013 berjudul Perancangan Sarana Bantu Jual Berupa Rombong 2 In 1 Bagi Penjual Sayur dan Minuman dari Universitas Surabaya

Penelitian kami sangat berbeda dengan penelitian lain karena kami meneliti dan membahas mengenai desain gerobak yang sesuai dengan kebutuhan PKL makanan di masa kini. Kami membahas dari segi ergonomi, efisiensi besaran dan juga fitur-fitur gerobak lain. Penelitian juga tidak hanya mendesain berdasarkan pendapat peneliti semata, tetapi juga meneliti dari sudut pandang PKL sendiri. Batasan pada PKL sendiri juga bukan sangat berbeda dengan penelitian lain yang membahas tentang PKL di area terbuka atau sentra PKL. Peneliti akan membahas pada PKL yang berjualan di daerah jalur ramai kendaraan. Topik ini tidak pernah dibahas dalam penelitian-penelitian yang sudah ada. Oleh karena itu keaslian penelitian ini dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Pedagang Kaki Lima

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pedagang dibagi 2 jenis, yaitupedagangbesardanpedagangkecil. Pedagang kecil merupakan seorang pedagang yang menjual barang dagangannya kepada orang lain dengan mengggunakan modal yang kecil. (KBBI, 2002). Menurut UU Nomor 29 tahun 1948, pedagang adalah orang atau badan yang membeli suatu barang, menerima atau menyimpan suatu barang yang kemudian dijual kepada pihak/orang lain dengan maksud untuk menerima penghasilan dari barang yang telah dijualnya tersebut. (Widodo, 2008). Pedagang Kaki Lima dikategorikan sebagai pedagang kecil, karena mereka berdagang atau berjualan dengan modal yang kecil.

Pedagang Kaki Lima (sektor informal) adalah mereka yang melakukan usaha dagang secara perorangan atau kelompok yang dalam menjalankan usahanya menggunakan tempat-tempat fasilitas umum, seperti trotoar, dan pinggir-pinggir jalan umum. Pedagang yang menjalankan kegiatan usahanya dalam jangka waktu tertentu dengan menggunakan sarana atau perlengkapan yang mudah dipindahkan, dibongkar pasang, dan mempergunakan lahan fasilitas umum sebagai tempat usaha mereka (Permadi, 2007).

2.2 Persebaran Pedagang Kaki Lima di Surabaya

Jumlah Pedagang Kaki Lima di Indonesia khususnya di kota-kota besar terbilang cukup besar. Menurut Asosiasi Pedagang Kaki Lima (APKLI), secara kasar jumlah PKL di 27 provinsi Indonesia berjumlah 22 juta orang. Jumlah yang sangat besar ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah karena rendahnya lapangan pekerjaan di perkotaan, sementara tingkat urbanisasi terus meningkat. Sebagai contoh, PKL tersebar hampir di seluruh wilayah Surabaya, yang terbanyak terdapat pada Kecamatan Gubeng, Krembangan, Tambaksari, Rungkut, dan Genteng (Endah, 2007).

Gambar 2: Peta Persebaran Jumlah Titik PKL di Surabaya.

Sumber: http://endahgf.blogspot.co.id/

PKL berarti pedagang yang menggunakan trotoar dan emperan toko sebagai tempat berjualannya. "Pedagang lima kaki" melambangkan luas trotoar yang dibuat pemerintah kolonial Belanda (Permadi, 2007).

Gambar 3: Contoh Pedagang Kaki Lima di Surabaya.

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Penggunaan lahan sekitarnya Lebar minimum (m)

Perumahan 1,5

Perkantoran 2,0

Industry 2,0

Sekolah 2,0

Terminal/stop bus 2,0

Pertokoan/perbelanjaan 2,0

Jembatan/terowongan 1,0

Adapun dimensi trotoar  yang pada umumnya dipakai untuk berjualan adalah sebagai berikut.

Tabel 1 Lebar Minimum Trotoar Menurut Penggunan Lahan Sekitarnya.

Sumber: Direktorat Jenderal Bina Marga dan Direktorat Pembinaan Jalan Kota

2.3 Gerobak Pedagang Kaki Lima

Terdapat beberapa bentuk gerobak PKL yaitu:  Bentuk gerobak dorong, gerobak kayuh, dan  kendaraan bermotor/mobil (Sutrisno, 2014). Gerobak kebanyakan tidak ditambahkan tenda oleh pedagang. Namun beberapa menambahkan  payung atau terpal untuk sarana peneduh.  

   

Gambar 4: Dari kiri; gerobak dorong, gerobak kayuh, gerobak kendaraan bermotor

Sumber:  http://im0.olx.biz.id/images_olxid/

Ukuran gerobak rata-rata yang digunakan memiliki dimensi 120 cm x 60-65 cm (Arifin, 2013). Ukuran ini ditambah dengan studi besaran fasilitas pendukung lain akan menghabiskan dimensi trotoar minimum  yang ada. Sedangkan, ukuran trotoar di kota-kota di Indonesia tidak selalu memenuhi lebar minumumnya. Gerobak ini akhirnya menghalangi pejalan kaki yang hendak menggunakan trotoar atau bahkan turun ke jalan dan mengganggu jalur kendaraan.

Gambar 5: Contoh studi besaran ruang tempat berjualan PKL

Sumber: Sutrisno. (2014). Dinamika Pemanfaatan Ruang Pejalan Kaki Di Jalan Babarsari Kabupaten Sleman Yogyakarta

2.4 Jenis Gerobak dan Pengaplikasiannya

Berdasarkan karakteristik dari gerobak yang digunakan oleh Pedagang Kaki Lima, gerobak yang digunakan dibagi menjadi dua yaitu:

1. Karakteristik pedagang kaki lima dengan gerobak yang beratap memeiliki sifat semi permanen (fleksibel) dengan lama menetap di suatu tempat sekitar 7 sampai 9 Jam. Area yang digunakan sebagai tempat menjual dagangan antara lain adalah badan jalan dan trotoar. Material atau konstruksi gerobak menggunakan stainless steel yang dilapisi dengan triplek atau dari kayu dengan lempengan seng. Ukuran gerobak bervariasi ada yang berukuran 2 m x 75 cm x 1,5 m dan 2 m x 1m x 2m dengan jenis dagangannya adalah makanan siap saji atau makanan yang belum diproses. (Bustamil, 2011)

Gambar 6 : Contoh Gerobak Yang Beratap Pedagang Kaki Lima

Sumber: http://celotehistri.com/wp-content/uploads/2013/08/gerobak-nasi-goreng.jpg

2. Warung semi permanen yang memiliki gerobak  dan di lengkapi dengan kursi dan meja serta

sekelilingnya di tutup dengan terpal atau kain. Karakteristik pedagang kaki lima yang menggunakan warung,  memiliki gerobak di lengkapi dengan kursi dan meja serta sekelilingnya di tutup dengan terpal atau kain ini bersifat semi permanen dengan lama menetap 7 sampai 9 jam setiap harinya di tempat yang sama. Hal ini di pengaruhi oleh banyaknya pembeli di kawasan tersebut. Warung ini dibongkar pasang dengan konstruksi dari besi atau kayu. Ukuran warung bervariasi dengan ukuran 4 m x 3,5 m dan 4 m x 3 m dengan ukuran gerobak bervariasi untuk jenis A berukuran 2,5 m x 1mx 3m dan untuk jenis B berukuran 2m x 75cm x 2m. Jenis dagangan umumnya adalah makanan yang belum diproses. (Bustamil, 2011)

Gambar 7 : Contoh Warung Semi Permanen Pedagang Kaki Lima

Sumber: http://www.bisnisnasigoreng.com/image/mangkal.jpg

2.5 Keperluan Yang Menunjang Kegiatan Pedagang Kaki Lima

Penataan ruang publik kota harus mampu mewadahi aktivitas pedagang kaki lima, mengingat ruang publik yang baik harus bersifat responsif, demokratis dan bermakna (Carr, 1992). Kendala yang dihadapi oleh Pedagang Kaki Lima antara lain adalah:

1. Tidak adanya fitur kebersihan pada gerobak. Pedagang  kaki  lima  cenderung  membuang   sampah  di  sembarang  tempat  serta minimnya ketersediaan infrastruktur yang memungkinkan limbah makanan yang menjadi komoditas utama pedagang kaki lima di kawasan tersebut. (Bustamil, 2011)

2. Keterbatasan ruang yang tersedia di trotoar maupun badan jalan. Agar dapat berjualan dengan maksimal, Pedagang Kaki Lima memerlukan ruang yang luas agar pengerjaan dapat berjalan dengan lancar dan agar para konsumen dapat menunggu atau menikmati langsung hidangan di tempat.

3. Munculnya kemacetan apabila Pedagang Kaki Lima mengambil ruang terlalu banyak dan menjorok kearah jalan. Tempat berjualan Pedagang Kaki Lima mengambil area disekitar jalan agar dapat terlihat secara mudah oleh masyarakat yang lewat. Akan tetapi, keadaan ini kurang menguntungkan pengguna jalan lain karena jalan yang digunakan akan semakin menyempit. Lebar jalan Ahmad Yani yang tersusun atas 3 jalur, berkisar antara 7,5 – 8 meter. sedangkan ruang yang akan digunakan oleh Pedagang Kaki Lima berkisar antara 1 - 2 meter. Lebar yang diperlukan 1 buah mobil adalah sekitar 2 – 2,4 meter dan 1 buah motor sekitar 0.8 meter. Dengan pengurangan lebar jalan karena adanya Pedagang Kaki Lima, berakibat berkurangnya 1 jalur kendaraan yang dapat mengakibatkan macet saat tingkat lalu lintas di jalan Ahmad Yani sedang meningkat. (Perhitungan pribadi berdasarkan buku Data Arsitek Jilid 2)

 

BAB III

METODE PENELITIAN

Metode penelitian ini berisi tentang: (1) jenis penelitian,  (2) lokasi dan waktu penelitian, (3) variabel penelitian, (4) definisi operasional, (5) metode pengumpulan data, (6) instrumen penelitian, (7) teknik pengolahan data, dan (8) metode analisis data.

3.1 Jenis Penelitian

Penelitian dengan judul “Konsep Perancangan Gerobak Pedagang Kaki Lima yang Efektif dan Kontekstual di Area Trotoar yang Sempit” menggunakan metode penelitian kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Permasalahan yang akan diteliti oleh peneliti merupakan masalah yang bersifat sosial dan dinamis. Berdasarkan pengamatan peneliti, permasalahan Pedagang Kaki Lima (PKL) antara lain adalah membuat lingkungan menjadi kumuh, kotor, tidak teratur, dan macet, belum lagi tingkat kebersihan yang rendah. Oleh karena itu, peneliti memilih menggunakan metode penelitian kualitatif untuk mendapatkan, mengumpulkan, mengolah, dan menganalisis data hasil penelitian tersebut. Penelitian kualitatif ini dapat digunakan untuk memahami interaksi sosial, misalnya dengan wawancara mendalam sehingga akan ditemukan pola-pola yang jelas.

Format desain penelitian kualitatif terdiri dari tiga model, yaitu format deskriptif, format verifikasi, dan format grounded research. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif, yaitu penelitian yang memberi gambaran secara cermat mengenai individu atau kelompok tertentu tentang keadaan dan gejala yang terjadi (Koentjaraningrat, 1993:89). Jenis penelitian ini dipilih karena peniliti akan memberikan sebuah gambaran yang cermat mengenai konsep perancangan sebuah gerobak PKL yang kemudian bisa memberikan manfaat bagi setiap orang yang bersangkutan.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

Setelah menentukan metode penelitian dan jenis penelitian, penelitian dilanjutkan dengan wawancara beberapa pedagang kaki lima yang berada di sekitar Jalan Ahmad Yani Surabaya. Peneliti mengumpulkan data-data primer melalui pengamatan langsung di lapangan, kemudian  dianalisan dan diteliti dengan perbandingan data sekunder hasil informasi dan dokumentasi yang pernah ada.

Berikut adalah langkah-langkah yang akan dilakukan dalam proses penelitian:

WAKTU LOKASI KEGIATAN

3 Juni 2016 Sekitar Jalan Ahmad Yani Surabaya Melakukan wawancara dengan para pedagang kaki lima yang berada di sekitar Jalan Ahmad Yani Surabaya.

4 Juni 2016 Perpustakaan Universitas Kristen

Petra Surabaya Melakukan analisa dan membandingkan data-data yang sudah ada dengan data-data yang diperoleh dari hasil wawancara yang telah dilakukan.

6 Juni 2016 Perpustakaan Universitas Kristen

Petra Surabaya Pengambilan kesimpulan dan saran.

Tabel 2: Rundown Penelitian

3.3 Variabel Penelitian

Variabel-variabel yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini antara lain:

• Variabel Bebas : Konsep perancangan gerobak Pedagang Kaki Lima.

• Variabel Terikat : Efektif dan kontekstual.

3.4 Definisi Operasional

Terdapat beberapa bentuk gerobak PKL yaitu:  Bentuk gerobak dorong, gerobak kayuh, dan  kendaraan bermotor/mobil (Sutrisno, 2014). Gerobak kebanyakan tidak ditambahkan tenda oleh pedagang. Namun beberapa menambahkan  payung atau terpal untuk sarana peneduh.  

Ukuran gerobak rata-rata yang digunakan memiliki dimensi 120 cm x 60-65 cm (Arifin, 2013). Ukuran ini ditambah dengan studi besaran fasilitas pendukung lain akan menghabiskan dimensi trotoar minimum  yang ada. Sedangkan, ukuran trotoar di kota-kota di Indonesia tidak selalu memenuhi lebar minumumnya. Gerobak ini akhirnya menghalangi pejalan kaki yang hendak menggunakan trotoar atau bahkan turun ke jalan dan mengganggu jalur kendaraan.

3.5 Metode Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, peneliti akan menggunakan metode pengumpulan data berupa wawancara, observasi, dan dokumentasi. Metode ini digunakan oleh peniliti karena peneliti telah memilih jenis penelitian kualitatif,  maka data yang diperoleh haruslah mendalam, jelas dan spesifik.

1. Wawancara

Teknik wawancara dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu wawancara terstruktur, wawancara semi-terstruktur, dan wawancara mendalam (in-depth interview). Dalam penelitian ini, peneliti memilih melakukan wawancara mendalam, teknik wawancara ini bertujuan untuk mengumpulkan informasi yang kompleks, dan sebagian besar berisi pendapat, sikap, dan pengalaman pribadi (Sulistyo-Basuki, 2006:173). Peneliti akan menggunakan alat perekam pada saat wawancara berlangsung, supaya peniliti tidak kehilangan informasi dari narasumber yang telah dipilih sebelumnya.

2. Observasi

Observasi adalah pengamatan yang dilakukan dengan sengaja dan sistematis terhadap aktivitas individu atau obyek lain yang diselidiki. Adapun  jenis-jenis observasi tersebut diantaranya yaitu observasi terstruktur, observasi tak terstruktur, observasi partisipan, dan observasi nonpartisipan. (Kusuma, 1987:25) Dalam penelitian ini, peneliti memilih observasi partisipan. Observasi partisipan yaitu suatu teknik pengamatan dimana peneliti ikut ambil bagian dalam kegiatan yang dilakukan oleh objek yang diselidiki. Observasi ini dilakukan dengan mengamati dan mencatat langsung terhadap objek penelitian, yaitu dengan mengamati kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh pedagang kaki lima di sekitar Jalan Ahmad Yani Surabaya, seperti proses memasak, menyajikan makanan, serta menyuci peralatan dagang tersebut. Hal ini dilakukan, supaya peneliti bisa mendapatkan informasi yang lengkap mengenai kebutuhan dan perlengkapan yang dibutuhkan oleh pedagang kaki lima dalam berdagang.

3. Dokumentasi

Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu (Sugiyono, 2009:240). Dokumen yang digunakan peneliti dalam penelitian ini berupa foto, gambar, serta data-data yang diperoleh dari narasumber sendiri, yaitu para pedagang kaki lima di sekitar Jalan Ahmad Yani Surabaya.

 3.6 Instrumen Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti akan menggunakan instrumen penelitian berupa interview, observasi, dan dokumentasi. Peneliti memilih jenis instrumen penelitian tersebut, supaya peneliti bisa mendapatkan informasi dan data-data yang jelas, serta didapatkan secara langsung dari narasumber yang bersangkutan, yaitu para pedagang kaki lima di sekitar Jalan Ahmad Yani Surabaya, sehingga informasi dan data yang diperoleh bisa dipertanggung-jawabkan.

3.7 Teknik Pengolahan Data

Setelah Peneliti mendapatkan data-data yang diperoleh dari hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi yang telah dilakukan, langkah selanjutanya adalah peneliti akan melakukan analisis terhadap data-data yang diperoleh, serta membandingkannya dengan data-data dari buku-buku yang ada, sehingga didapatkan kesimpulan mengenai konsep perancangan gerobak yang efektif dan kontekstual di daerah trotoar yang sempit.

3.8 Metode Analisis Data

 Analisis data dimulai dengan melakukan wawancara mendalam dengan narasumber yang dipilih, yaitu pedagang kaki lima di sekitar jalan Ahmad Yani Surabaya. Setelah melakukan wawancara, analisis data selanjutnya adalah dengan membuat transkrip hasil wawancara, dengan cara memutar kembali rekaman hasil wawancara, mendengarkan dengan seksama, kemudian menuliskan kata-kata yang didengar sesuai dengan apa yang ada direkaman tersebut. Setelah peneliti menulis hasil wawancara tersebut kedalam transkrip, selanjutnya peneliti harus membaca secara cermat untuk melakukan reduksi data. Peneliti membuat reduksi data dengan cara membuat abstraksi, yaitu mengambil dan mencatat informasi-informasi yang bermanfaat sesuai dengan konteks penelitian atau mengabaikan kata-kata yang tidak perlu sehingga didapatkan inti kalimatnya saja, tetapi bahasanya sesuai dengan bahasa narasumber. Langkah selanjutnya adalah peneliti akan melakukan analisis dan perbandingan manakah ukuran gerobak yang paling efektif dan kontekstual di daerah trotoar yang sempit, sehingga didapatkan konsep perancangan gerobak pedagang kaki lima yang diinginkan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, J. A. (2013). Perancangan Sarana Bantu Jual Berupa Rombong 2 In 1 Bagi Penjual Sayur dan Minuman. Surabaya: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya, 2(1). Diunduh dari http://journal.ubaya.ac.id/index.php/jimus/article/view/301

Bangsa Online. (2015) DPRD Surabaya Kritik Sentra PKL Tak Optimal. Diunduh pada (11 Maret 2016) dari http://bangsaonline.com/berita/10482/dprd-surabaya-kritik-sentra-pkl-tak-optimal

Bustamil,  (2015, Juni 30). Diunduh pada (26 Mei 2016) dari http://dokumen.tips/documents/pkm-gt-2011-pengolahan-limbah-pkl.html

Endah, (2007, September 22). Diunduh pada (21 maret 2016) dari http://endahgf.blogspot.co.id/2007/09/belajar-melihat-potensi-wilayah-dengan.html

Koentjaraningrat, (1993). Metode-metode Penelitian Masyarakat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Kusuma, S.T. (1987). Psiko Diagnostik. Yogyakarta : SGPLB Negeri Yogyakarta

Neufert, Ernst. (1996). Data Arsitek. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Permadi, Gilang. (2007). Pedagang Kaki Lima. Jakarta: Penerbit Yudhistira

Sugiyono, P. Dr. (2009). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif dan R&D. Bandung: CV. Alfabeta

Sulistyo-Basuki. (2006). Metode Penelitian. Jakarta: Wedatama Widya Sastra dan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia

Sutrisno, F. (2014). Dinamika Pemanfaatan Ruang Pejalan Kaki di Jalan Babarsari Kabupaten Sleman Yogyakarta. S2 thesis, Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Diunduh dari http://e- journal.uajy.ac.id/5239/

Tim Mitra Guru. (2007). Ilmu Pengetahuan Sosial Sosiologi untuk SMP dan MTs Kelas VII. Jakarta: Esis.

...(download the rest of the essay above)

About this essay:

This essay was submitted to us by a student in order to help you with your studies.

If you use part of this page in your own work, you need to provide a citation, as follows:

Essay Sauce, . Available from:< https://www.essaysauce.com/essays/engineering/2016-6-12-1465728162.php > [Accessed 22.10.19].