Essay:

Essay details:

  • Subject area(s): Engineering
  • Price: Free download
  • Published on: 7th September 2019
  • File format: Text
  • Number of pages: 2

Text preview of this essay:

This page is a preview - download the full version of this essay above.

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada tahun 1997 Indonesia mengalami krisis yang bermula dari krisi nilai tukar rupiah terhadap dollar AS serta krisis moneter dan sebagai dampaknya perekonomian Indonesia mengalami resesi ekonomi. Dengan kejadian ini tentu menjadi pelajaran yang sangat perlu untuk mengkaji kembali suatu perekonomian yang benar-benar memiliki struktur yang kuat serta mampu bertahan dalam situasi dan kondisi apapun.

UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) merupakan isu yang menarik untuk dicermati. Tentu hal ini memiliki beberapa alasan yang diantaranya menurut Wahyuni, dkk (2005:91) ialah sebagai berikut:

1. Saat Krisis sektor UMKM dapat bertahan sampai saat ini

2. Perhatian pemerintah terhadap sektor UMKM masih kurang

3. Sektor UMKM yang jumlahnya cukup banyak sangat potensial dalam menyerap tenaga kerja

4. Sektor UMKM memiliki peran penting dan kontribusinya cukup besar dalam struktur perkonomian nasional

Saat ini upaya pengembangan UMKM masih banyak hambatan serta tantangan untuk menghadapi persaingan dalam bisnis yang semakin ketat. Namun, meskipun dengan berbagai keterbatasan, UMKM diharapkan dapat dijadikan sebagai andalan dalam membangun perekonomian Indonesia kedepan. UMKM diharapkan mampu menjadi sumber pendapatan dan menciptakan peluang kerja yang luas bagi masyarakat Indonesia sehingga akan mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran. Jika dibandingkan unit-unit UMKM lebih banyak jumlahnya daripada usaha industri berskala besar serta UMKM memiliki keunggulan dalam menyerap tenaga kerja yang lebih banyak dan mempercepat proses pemerataan yang merupakan bagian dari pembangunan. Oleh karena itu di Indonesia UMKM merupakan bagian penting dari sistem perekonomian Indonesia.

Sektor UMKM umumnya memanfaatkan (SDA) sumber daya alam dan juga padat karya seperti perkebunan, perdagangan, pertanian, dan peternakan. Sehingga UMKM sering disebut kegiatan ekonomi yang berbasis kerakyatan yang mana umumnya produk-produk yang dihasilkan berupa kebutuhan sehari-hari yang dibutuhkan oleh hampir seluruh lapisan masyarakat. Jika ditinjau dari proporsi unit usaha pada sektor ekonomi, UMKM yang mempunyai proporsi unit usaha terbesar adalah sektor (www.depkop.go.id):

1. Pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan

2. Perdagangan, hotel dan restoran

3. Industri pengolahan

4. Pengangkutan dan komunikasi

5. Jasa-jasa

Hambatan dan rintangan yang dihadapi oleh pengusaha-pengusaha UMKM dalam  upaya peningkatan kemampuan usaha pada dasarnya sangat kompleks dan meliputi beberapa aspek yang mana aspek satu dengan lainnya saling terkait yang antara lain: Kurangnya jumlah dan sumber modal, kurangnya kemampuan manajerial dan keterampilan dalam beroperasi, adanya keterbatasan pasar dan lemahnya organisasi. Selain beberapa hal tersebut juga terdapat persaingan yang kurang sehat serta adanya desakan ekonomi yang mengakibatkan ruang lingkup usaha terbatas.

Salah satu keberhasilan suatu usaha ialah dari faktor permodalan. Sehingga peran pemerintah dan swasta untuk memenuhi kebutuhan modal UMKM sangat diperlukan. Peran tersebut bisa diwujudkan dalam pemberian kredit oleh lembaga keuangan seperti Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Peranan BPR sendiri sebagai pemberi kredit menunjukkan kinerja  yang semakin meningkat. Selain BPR bank umum juga memiliki peran bagi pemenuhan kebutuhan modal UMKM. Sejak tanggal 5 November tahun 2007 oleh presiden SBY diluncurkan program pemberian kredit dari bank umum dalam bentuk KUR (Kredit Usaha Rakyat). Dan telah terbukti dengan adanya KUR (Kredit Usaha Rakyat) banyak berperan dalam pengembangan UMKM serta berperan dalam upaya mengurangi kemiskinan dan pengangguran.

Namun, pada kenyataanya masih saja banyak UMKM yang mengalami kekurangan dalam permodalan. Oleh karena itu kami tertarik untuk melihat seberapa besar dan seberapa penting peranan bank umum dan BPR dalam memberikan modal bagi kelangsungan para pengusaha UMKM. Namun, disini kami mencoba membandingkan lebih efektif mana antara peran bank umum dengan programnya KUR (Kredit Usaha Rakyat) dibandingkan dengan BPR (Bank Perkreditan Rakyat) dalam memberikan modal sebagai wujud pemberdayaan UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah).

1.2 Ruang Lingkup Permasalahan

Ruang lingkup masalah dalam penulisan ini adalah mengenai analisis perbandingan peran bank umum dan BPR dalam upayanya memberdayakan UMKM. Penelitian ini menitik beratkan pada aspek permodalan dari bank umum bagi UMKM yang diwujudkan dalam bentuk KUR (Kredit Usaha Rakyat) dan BPR (Bank Perkreditan Rakyat) yang selanjutnya dilakukan perbandingan lebih baik manakah antara peran bank umum dan BPR dalam memberdayakan UMKM.

1.3 Rumusan Masalah

Dari latar belakang dan ruang lingkup masalah di atas, terdapat permasalahan yang dapat diangkat dalam penelitian ini:

a. Bagaimana peranan bank umum bagi pemberdayaan UMKM?

b. Bagaimana peranan BPR bagi pemberdayaan UMKM?

c. Lebih efektif manakah antara pemberian kredit antara bank umum dan BPR bagi pemberdayaan UMKM?

1.4 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini ialah anatara lain sebagai berikut:

a. Mengetahui peranan bank umum bagi pemberdayaan UMKM

b. Mengetahui peranan BPR bagi pemberdayaan UMKM

c. Mengetahui lebih efektif manakah antara pemberian kredit antara bank umum dan BPR bagi pemberdayaan UMKM

1.5 Manfaat Penelitian

a. Bagi Peneliti

Bagi peneliti, peneliti ini semoga berguna dalam membuka wawasan baru mengenai obyek penelitian.

b. Bagi pengusaha

Sebagai salah satu bahan untuk pengambilan keputusan yang tepat untuk memilih lebih efektif manakah antara memperoleh kredit dari bank umum atau BPR sebagai salah satu sumber modal untuk mengembangkan usaha mereka utamanya pengusaha UMKM..

c. Bagi Masyarakat

Bagi masyarakat luas, peneliti berharap dengan hasil penelitian ini, semakin banyak UMKM yang berkembang akan lebih banyak menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat yang tentunya dengan bertambahnya lapangan pekerjaan ini akan membantu mengurangi angka pengangguran di Indonesia sehingga akan banyak membantu perekonomian masyarakat kedepannya.

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

2.1.1 Kredit

2.1.1.1 Pengertian Kredit

Kredit ialah kemampuan dalam melakukan suatu pembelian atau membuat suatu pembelian atau membuat suatu peminjaman dengan sebuah perjanjian pembayaran yang akan dilakukan pada jangka waktu yang telah disepakati antara kedua belah pihak (Teguh Pudjo Mulyono, 1990:9).

2.1.1.2 Unsur-unsur Kredit

Menurut Abdulkadir dan Rilda (2000:59) beberapa unsur yang terkandung dalam kredit ialah sebagai berikut:

a. Kepercayaan

Permohonan kredit yang akan diberikan oleh pemberi kredit itu dapat dikembalikan berdasar persyaratan yang telah disepakati kedua belah pihak.

b. Agunan

Setiap permohonan kredit yang diajukan selalu disertai dengan barang yang digunakan sebagai jaminan bahwa kredit yang diberikan oleh kreditur akan dilunasi oleh debitur, sehingga dengan jaminan ini akan menambah kepercayaan pihak bank.

c. Jangka Waktu

Kredit akan dilunasi sesuai dengan jangka waktu yang layak yang telah disepakati.

d. Risiko

Pegembalian kredit terdapat risiko terhalang, terlambat, atau macet dalam pembayaran, baik secara sengaja maupun tidak, sehingga ini menjadi beban bagi bank.

e. Bunga Bank

Kredit pasti disertai bunga yang harus dibayar oleh debitur sebagai imbalan jasa dan keuntungan yang diterima bank.

f. Kesepakatan

Semua persyaratan, prosedur pengembalian kredit, dan akibat hukumnya merupakan hasil kesepakatan yang tertuan dalam akta perjanjian (kontrak kredit).

2.1.1.3 Prinsip-prinsip Pemberian Kredit

Apabila bank menerima permohonan kredit, bank perlu menganalisis kredit yang meliputi (Abdulkadir dan Rilda, 2000:61):

a. Latar belakang nasabah

b. Prospek usaha nasabah

c. Agunan yang diberikan

d. Hal lain yang ditentukan bank

Menurut Dahlan Siamat (1995) berdasar hasil analisis kredit, bank memberikan pertimbangan apakah kredit akan diterima atau tidak dengan prinsip pemberian kredit atau konsep 5C yaitu: Character, capacity, capital, collateral, condition.

Selain itu juga terdapat penilaian kredit terhadap beberapa aspek yang menyangkut kegiatan usaha calon debitur antara lain:

a. Aspek Pemasaran

b. Aspek Manajemen

c. Aspek Teknis

d. Aspek Sosial Ekonomi

e. Aspek Yuridis

2.1.2 Kredit Usaha Rakyat

Kredit usaha rakyat dalam peraturan kementrian bidang perekonomian Republik Indonesia No. 13 Tahun 2015 ialah pembiayaan kepada UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) dalam bentuk modal kerja serta investasi yang didukung dengan penjaminan usaha produktif. Sumber dana KUR sepenuhnya  berasal dari bank, namun program ini yang mencanangkan adalah pemerintah.

2.1.3 Bank BPR

Menurut UU no. 10 tahun 1998 tentang perbankan mnyebutkan bahwa BPR ialah sebuah badan usaha yang menghimpun dana masyarakat yang berupa simpanan dan disalurkan kepada masyarakat dalam bentuk kredit atau dalam bentuk lain yang bertujuan untuk menigkatkan taraf hidup masyarakat yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional.

2.1.4 Usaha Mikro Kecil dan Menengah

2.1.4.1 Definisi UMKM

Berdasarkan UU no. 20 tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) terdapat beberapa kriteria yang digunakan untuk mendefinisiskan pengertian serta kriteria UMKM. Pengertian-pengertian Usaha Mikro, Kecil dan Menengah tersebut ialah sebagai berikut:

a. Usaha Mikro

Kriteria dari usaha mikro ialah usaha produktif yang dimiliki oleh orang perorangan dan/atau badan usaha millik perorangan yang telah memenuhi kriteria usaha mikro yang sesuai dengan UU ini.

b. Usaha Kecil

Kriteria dari usaha kecil ialah sebuah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan orang perorangan ataupun badan usaha yang bukan sebagai anak perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian dari usaha menengah atau usaha besar baik secara langsung maupun tidak langsung yang telah memenuhi kriteria usaha kecil yang sesuai dengan UU ini.

c. Usaha Menengah

Kriteria dari usaha menengah ialah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan orang perorangan ataupun badan usaha yang bukan sebagai anak perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian dari usaha menengah atau usaha besar baik secara langsung maupun tidak langsung dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan yang sesuai dengan UU ini.

2.1.4.2 Masalah-masalah yang dihadapi UMKM

Meskipun menjadi salah satu kegiatan usaha yang akan dikembangkan oleh pemerintah namun UMKM masih mendapati beberapa permasalahan umum antara lain menurut Hubeis (2009:4-6) ialah sebagai berikut:

a. Kesulitan pemasaran

Pemasaran merupakan salah satu kendala yang serius bagi UMKM. Menurut James dan Akrasanee (1988) setelah dilakukan studi dibeberapa negara ASEAN, UMKM tidak melakukan koreksi yang cukup di semua aspek terkait dengan pemasaran seperti halnya dalam kegiatan promosi dan peningkatan kualitas produk, oleh karena itu sangat sulit bagi UMKM dapat berpartisipasi dalam era perdagangan liberal.

b. Keterbatasan SDM

Kendala serius selanjutnya bagi UMKM khususnya di Indonesia adalah keterbatasan sumber daya manusia utamanya dalam aspek manajemen, entrepreneurship, teknik produksi, engineering design, pengembangan produk, quality control, akuntansi data processing, organisasi bisnis, penelitian pasar, dan teknik pemasaran. Semua keahlian ini sangat dibutuhkan untuk meningkatkan dan mempertahankan kulitas produk, meningkatkan produktivitas dan efisiensi produk, memperluas pasar serta menembus pasar barang.

c. Keterbatasan finansial

Dua masalah utama dalam kegiatan UMKM di Indonesia yaitu aspek finansial dan finansial jangka panjang untuk investasi yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan output jangka panjang. Meskipun umumnya modal awal bersumber dari modal sendiri (tabungan) atau sumber-sumber informal, namun sumber modal ini sering kali tidak memadai. Meskipun demikian banyak skim kredit perbankan dan bantuan BUMN, sumber pendanaan dari sektor informal masih dominan dalam pembiayaan kegiatan UMKM.

d. Permasalahan bahan  baku

Permasalahan bahan bagu juga termasuk sebagai kendala yang serius bagi UMKM. Hal ini bisa jadi karena harga bahan baku yang relatif mahal, sehingga bayak pengusaha yang harus gulung tikar akibat mahalnya bahan baku sehingga mereka lebih memilih beralih profesi ke sektor lain.

e. Kemampuan manajemen

Belum mampunya pengusaha kecil dalam menentukan pola manajemen yang cocok dengan kebutuhan usahanya membuat pengelolaan usaha menjadi terbatas.

f. Keterbatasan teknologi

Umumnya di Indonesia masih banyak sekali UMKM yang dalam kegiatan produksinya masih menggunakan teknologi tradisionl, sehingga akan mengurangi efisiensi produk, jumlah produksi dan kualitas produksi pun rendah yang mengakibatkan UMKM tidak mampu bersaing dengan usaha dengan teknologi yang lebih modern.

g. Kemitraan

Kemitraan disini ialah sebagai kerjasama antara pengusaha kecil dan pengusaha besar. Istilah tersebut mengandung makna, meskipun tingkatannya berbeda, hubungan mereka tetap setara.

2.2 Hasil Penelitian Terdahulu

Menurut penelitian Anggraini, Dewi & Nasution, S.H. (2013) yang berjudul “Peranan Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi Pengembangan UMKM di Kota Medan (Studi Kasus Bank BRI) “. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian KUR berpengaruh positif  terhadap pendapatan pengusaha UMKM. Menurutnya ada 5 faktor pendorong UMKM mengambil KUR di BRI: Saran teman/keluarga, Suku bunga kredit rendah, Kemudahan administrasi, waktu pelunasan lebih lama dan pelayanan yang baik.

Sedangkan penelitian Fitria Sari (2011) yang membahas “Peran Koperasi Simpan Pinjam dalam Perkembangan UMKM Agribisnis di Bogor (Studi Kasus Kospin Jasa Bogor)”. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pendapatan yang diterima UMKM setelah memperoleh KUR terdapat peningkatan sebesar Rp. 712.102.500 sebelum kredit dan setelah kredit menjadi Rp. 1.803.206.000.

Penelitian Situmorang, Jannes (2007) dalam “Model Perkreditan dan Komitmen Bank dalam Mendukung UMKM” menyebutkan bahwa sampai sekarang masih terdapat issue dan sinyalemen yang mengindikasikan belum terlihatnya komitmen dari banyak pihak dalam memprioritaskan pemberdayaan UMKM. Hal ini dibuktiiikan dengan rendahnya alokasi kredit bagi kalangan UMKM.

 

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang kami gunakan adalah data deskriptif kualitatif. Sedangkan sumber data yang kami gunakan ialah data primer dengan melakukan wawancara kepada pihak bank umum yang memiliki program KUR dan pihak BPR baik secara lisan maupun secara tulisan guna memperoleh data-data yang kami butuhkan.

3.2 Setting Penelitian

3.2.1 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian kami ialah di salah satu bank umum yang menyediakan jasa KUR yaitu Bank BRI dan BPR yang berlokasi di Kabupaten Jepara.

3.2.2 Informan

Informan kami ialah pengelola dari Bank BRI dan BPR yang siap kami wawancara yang mengurusi bagian perkreditan bagi UMKM.

3.3 Metode Pemilihan Sampel

Metode pemilihan sampel yang kami gunakan ialah metode nonprobability sampling dengan menggunakan sampling purposive.

3.4 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang dilakukan yaitu:

1. Wawancara

Yaitu wawancara langsung dengan pengelola BRI dan BPR yang mengurusi bagian perkreditan.

2. Metode studi pustaka

Yaitu data yang berupa teori-teori yang diperoleh dari literatur-literatur yang berkaitan dengan permasalahan yang ada dalam penelitian.

3.5 Metode Analisis Data

Metode analisis data yang akan kami gunakan yaitu dengan pengumpulan data melalui analisis regresi linear berganda  yang berfungsi untuk mencari tahu pengaruh variabel bebas dan variabel terikat dan analisis deskriptif komparatif.

...(download the rest of the essay above)

About this essay:

This essay was submitted to us by a student in order to help you with your studies.

If you use part of this page in your own work, you need to provide a citation, as follows:

Essay Sauce, . Available from:< https://www.essaysauce.com/essays/engineering/2017-1-17-1484625214.php > [Accessed 24.10.19].