Essay:

Essay details:

  • Subject area(s): Hospitality
  • Price: Free download
  • Published on: 15th October 2019
  • File format: Text
  • Number of pages: 2

Text preview of this essay:

This page is a preview - download the full version of this essay above.

Destination Image Tanjung Lesung oleh Masyarakat Setempat , Pasca Ditetapkan Sebagai KEK

Makalah Ini Disusun Guna Memenuhi Tugas Akhir Semester 6

Mata Kuliah Metodologi Penelitian Komunikasi 2

DISUSUN OLEH:

GISELLE IVANA 14140110295

PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI

KONSENTRASI MULTIMEDIA PUBLIC RELATIONS

FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI

UNIVERSITAS MULTIMEDIA NUSANTARA

2017

Destination Image Tanjung Lesung oleh Masyarakat Setempat , Pasca Ditetapkan Sebagai KEK

ABSTRAK

Oleh : Giselle Ivana

Salah satu aspek pendukung keberhasilah sebuah destinasi wisata adalah image baik yang tercipta oleh wisatawan atau calon wisatawan dan tentunya oleh masyarakat masyarakat karena image yang terbentuk di masyarakat dapat memengaruhi sikap dan prilaku masyarakat terhadap destinasi wisata tersebut dan pada wisatawan. Makadari itu, tujuan penelitian ini adalah mengetahui image apa yang terbentuk oleh masyarakat setempat pasca Tanjung Lesung ditetapkan sebagai KEK. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif, yang bersifat deskriptif dan menggunakan metode fenomenologi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan studi dokumen.

Kata kunci : destination image, Kawasan Ekonomi Khusus, Tanjung Lesung

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

 Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak keindahan alam. Gunung, laut, hutan dan pantai semua terdapat di Indonesia. Terbentang sepanjang 3.977 mil di antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik dan memiliki luas daratan sebesar 1.922.570 km² dan luas perairannya 3.257.483 km². Indonesia juga merupakan negara kepulauan. Menurut Bryahmantya Satyamurti Poerwadi selaku Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (PRL) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), pulau yang ada di Indonesia saat ini berjumlah 14.572 dan sisanya masih dalam proses pemberian nama (Ambari, 2017). Sebagian besar datanya berasal dari jumlah yang sudah ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB). Selain itu, ada tambahan dari  verifikasi tahun 2015 yang berjumlah 537 dan 749 pada tahun 2016.  Dengan jumlah tersebut, Pemerintah Indonesia akan mendepositkannya pada Sidang UN GEGN (United Nations Group of Experts on Geographical Names) yang akan berlangsung Agustus mendatang di New York, Amerika Serikat. (Benmetan, 2017)

Diantara 14.572 pulau tersebut, hanya sekitar 6.000 pulau yang berpenghuni. Seperti Pulau Flores yang berada dibagian dari Provinsi Nusa Tenggara Timur yang terbagi dalam delapan Kabupaten. Pulau ini memiliki kekayaan yang sangat langka, seperti terdapat salah satu hewan purba yaitu komodo dan terdapat pula danau Tiga Warna Kelimutu. Berdasarkan luas wilayahnya, Pulau Flores merupakan pulau terbesar kedua di Nusa Tenggara Timur dengan luas wilayah 14.300 km2.

Pulau Halmahera merupakan pulau yang terletak di bagian kepulauan Maluku yaitu di sebelah Timur Laut Maluku. Pulau ini memiliki luas sekitar 17.780 km2 yang dihuni oleh sekitar satu perlima juta jiwa, yang memiliki kekayaan akan barang-barang tambang seperti Emas, Nikel, Kobalt dsb.

Pulau Kalimantan terletak disebelah utara Laut Jawa ini merupakan pulau yang memiliki luas wilayah hampir empat pertiga juta km2. Pulau Kalimantan memiliki hutan hujan tropis yang sangat luas sehingga tidak heran jika pulau ini memiliki keanekaragaman hayati yang sangat kaya. Selanjutnya Pulau Seram, pulau ini merupakan pulau yang terletak disebelah selatan Laut Seram dan di sebelah utara Laut Banda yang memiliki luas wilayah sekitar 17.100 km². Secara administrasi pulau ini termasuk dari bagian wilayah dari Provinsi Maluku. 

Pulau Sulawesi terletak disebelah Laut Sulawesi dan di sebelah utara Laut Flores ini merupakn pulau yang dikenal dengan sebutan Celebes di dunia Internasional. Pulau ini sangat unik, karena jika dilihat dari atas, pulau ini terlihat seperti huruf “K”. Pulau Sulawesi merupakan pulau terbesar ke empat, setelah Pulau Kalimantan, Papua, dan Sumatera.

Pulau Sumatera berada disebelah utara lautan Indonesia merupakan pulau terbesar ke tiga di Indonesia dan pulau terbesar ke enam di Dunia. Di Pulau ini terdapat sekitar 10 provinsi dan dua diantaranya merupakan provinsil hasil pemekaran di Era Reformasi. Pulau Sumatera juga dikenal dengan sebutan Pulau Andalas ini memiliki luas hampir setengah juta kilometer persegi dengan jumlah penduduk lebih dari 50 juta jiwa.

Pulau Jawa merupakan pulau yang terletak di sebelah selatan Laut Jawa dan disebelah utara Lautan Indonesia ini sering disebut dengan istilah ‘Jantung nya Negeri’, mengapa demikian? Karena pusat dari pemerintahan di Negara Indonesia ada di Kota Jakarta, yang merupakan bagian dari pulau Jawa. Pulau ini memiliki luas sekitar 126.700 km², namun pulau ini merupakan pulau dengan jumlah penduduk terpadat di Indonesia dengan sekita 136 juta jiwa. Pulau jawa juga dapat dikatakan sebagai barometer kehidupan masyarakat Indonesia dalam kehidupan politik, sosial dan ekonomi.

Pulau Sumbawa yang terletak disebelah Utara Lautan Indonesia dan disebelah selatan laut Flores, Pulau Sumbawa merupakan pulau terbesar di Nusa Tenggara Barat dengan luas wilayah sekitar 15.448 km2,yang merupakan 75% luas wilayah Nusa Tenggara Barat. Sedangkan populais penduduknya hampir 1,5 juta jiwa. Selain itu pulau ini juga merupakan daerah tujuan wisata baik wisatawan domestik maupun manca negara karena pulau sumbawa memiliki beberapa tempat destinasi pantai yang cantik.

Dan pulau Papua berada di wilayah timur negara Indonesia. Pulau Papua memiliki luas wilayah sekitar 890.000 km2, yang merupakan pulau terbesar kedua di Dunia setelah Greeland. Namun sebagian dari pulau ini dimiliki oleh Negara Papua New Guinea. Pulau Papua memiliki hasil tambang yang berlimpah dan memiliki harga jual yang tinggsi , yaitu Emas dan Perak (Min, 2016). Dan masih banyak lagi pulau-pulau di Indonesia.

 Makadari itu, untuk memanfaatkan alam yang ada sebagai salah satu aspek pemasukkan negara, pemerintah melakukan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Fauzi (2004) dalam Wawanudin (2013) berkata bahwa sumber daya alam merupakan faktor input dalam kegiatan ekonomi yang juga menghasilkan output karena proses produksi. Satu hal yang paling mendasar dari aspek ekonomi sumber daya alam adalah bagaimana ekstraksi sumber daya alam tersebut dapat memberikan manfaat atau kesejahteraan kepada masyarakat secara keseluruhan.

Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) atau Special Economic Zone (SEZ) adalah wilayah geografis yang memiliki peraturan ekonomi khusus yang lebih liberal dari peraturan ekonomi yang berlaku di suatu negara. Kawasan Ekonomi Khusus itu sendiri adalah suatu kawasan yang secara geografis dan jurisdiktif merupakan kawasan perdagangan bebas, termasuk kemudahan dan fasilitas duty free atas impor barang-barang modal untuk bahan baku komoditas sebagaian ekspor, dan dibuka seluas-luasnya. KEK memiliki jenis wilayah yang lebih khusus mencakup Daerah Perdagangan Bebas - Free Trade Zones (FTZ), Daerah Penanganan Ekspor - Export Processing Zones (EPZ), Daerah Bebas - Free Zones (Fz), Kawasan Industri - Industrial Estates (IE), Pelabuhan Bebas - Free Ports, dan sebagainya. Dalam perkembangannya di Indonesia, KEK ini didasari pada perkembangan kawasan industri yang telah ada di era tahun 1970-an. Banyak negara-negara  berkembang pada era tersebut yang melaksanakan pembentukan kawasan-kawasan khusus pembangunan ekonomi. Namun secara formal, KEK baru lahir sejak dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2009 tentang Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Tujuan utama dari pembentukan kawasan khusus ini adalah pengintergrasian perusahaan-perusahaan yang beroperasi di dalamnya dengan ekonomi global, dengan cara melindungi mereka terhadap berbagai distorsi seperti tarif dan birokrasi yang berbeli-belit. Selanjutnya jika melihat ke belakang, kawasan industri di Indonesia telah ada sejak tahun 1970-an. Hal ini didahului oleh lahirnya PT Jakarta Industrial Estate Pulogadung (PT. JIEP) dengan luas kawasan 570 ha di DKI Jakarta pada Tahun 1973, yang merupakan upaya dari pemerintah untuk mengendalikan pertumbuhan industri yang jumlahnya semakin meningkat pada saat itu. Pada umumnya, sasaran penerapan KEK adalah untuk meningkatkan investasi asing di suatu negara dengan menyediakan berbagai insentif berupa: insentif perpajakan (PPN, PPnBM, PPh Pasal 22, Tax Holiday), insentif kepabeanan (pembebasan, pengurangan tarif, atau penyederhanaan prosedur cukai atau bea masuk), insentif penanaman modal (menyederhanakan syarat dan prosedur), serta insentif perlindungan lingkungan hidup. Selain Indonesia, telah banyak negara yang berusaha menarik investor asing dengan menerapkan KEK untuk menggairahkan perekonomian negara tersebut. Diantara banyaknya KEK, ada yang berhasil mengalami pertumbuhan dengan pesat dan fantastis seperti Shenzhen di RRC, dan ada yang gagal total sama sekali seperti di Korea Utara (Sukoco, 2017).

Jadi KEK juga merupakan upaya untuk menjadikan destinasi Indonesia sebagai tempat yang tak kalah menarik dari luar negeri sebagai destinasi untuk berlibur. KEK dikembangkan melalui penyiapan kawasan yang memiliki keunggulan geoekonomi dan geostrategi dan berfungsi untuk menampung kegiatan industri, ekspor, impor, dan kegiatan ekonomi lain yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan daya saing internasional.

Salah satu kawasan yang sudah menjadi KEK adalah Tanjung Lesung. Tanjung Lesung merupakan salah satu tempat yang selama ini keindahannya seolah tersembunyi. Meski ketenarannya tidak setara dengan pantai Anyer dan Carita, keindahan alam Tanjung Lesung cukup diancungi jempol. Tidak hanya menyediakan hamparan pasir putih, ombak, serta tiupan angin sepoi, Tanjung Lesung juga memiliki pemandangan bawah laut yang luar biasa. Disana terdapat tempat konservasi terumbu karang yang dapat membuat pengetahuan dan pengalaman kita bertambah.

 Untuk menikmati destinasi alam ini, wisatawan bisa bermain di pesisir pantai ataupun menyewa peralatan menyelam yang dapat digunakan untuk melihat pemandangan bawah laut yang tak kalah indah. Tak hanya menawarkan pemandangan pantai yang indah, Tajung Lesung juga memiliki pesona bawah laut yang terdiri dari berbagai binatang laut seperti ubur-ubur, ikan-ikan, siput-siput dengan cangkang yang beranekaragam, dan tentunya ratusan terumbu karang yang indah yang dapat memanjakan mata kita yang selama ini hanya disodori bangunan dan kemacetan kendaraan (1001malam.com. para 1.). Keanekaragaman alam yang ada disana dapat membuat pikiran kita menjadi lebih tenang dan damai, cukup untuk membuat diri relax dari kesibukkan pekerjaan.

 Jaraknya yang hanya sekitar 3 jam dari kota Jakarta, menjadikan daerah yang berada di sebelah barat Pulau Jawa, tepatnya di Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten ini menjadi salah satu peluang daerah untuk dijadikan destinasi liburan.

Tak hanya infrastruktur yang harus dibangun, namun image sebuah desinasi wisata juga harus dibangun. Sebagaimana yang dikatakan Echtner dan Ritchie (2003) because image is based on the tourist expected benefits, psychological characteristics, and meanings, which as a result influence the destination positioning (Govers, 2005). Molina (2010) berpendapat dalam Matos, Mendes, Valle (2012) bahwa images serve many functions, such as expressing ideas, sending messages.

Jadi disini jelas terlihat, image merupakan variabel yang signifikan dalam keberhasilan suatu daerah, sebanding dengan faktor lain seperti rute akses, konsentrasi penduduk, fasilitas fisik, dan sebagainya (Hunt, 1975). Menurut Mayo (1975) wisatawan tidak memiliki banyak pengetahuan tentang tujuan yang mereka belum mengunjungi, tetapi meskipun fakta ini, mereka mampu membuat gambar dalam pikiran mereka tidak hanya dari tujuan ideal, tetapi juga dari tujuan alternatif. Tasci, Gartner, dan Cavusgil (2007) juga berpendapat, bahwa esensi tourism destionation image adalah untuk menemukan bagaimana destinasi pariwisata terlihat dan dirasakan oleh mata para wisatawan. Dengan demikian, image para wisatawan sangat penting bagi pemasaran strategi untuk menjadi sukses.

Namun, tidak hanya image turis yang memengaruhi tingkat kedatangan wisatawan. Image dari masyarakat setempat juga memengaruhi “hawa” destinasi wisata. Jika image seseorang pada sesuatu atau seseorang baik/positif, ia akan berlaku baik pada hal tersebut orang tersebut. Namun sebaliknya, jika seseorang memiliki image yang buruk dimata orang lain, ia akan diperlakukan tidak baik oleh orang lain tersebut. Hal ini juga bisa terjadi dalam kasus seperti ini, jika image masyarakat buruk pada lingkungan wisata (lingkungan hidup mereka), mereka akan bersikap tidak baik di lingkungan wisata tersebut yang bisa mengakibatkan pengunjung atau wisatawan tidak merasa nyaman dan enggan untuk datang kembali ke tempat wisata tersebut. Mereka mungkin bisa berlaku tidak ramah, tidak mau menjaga kebersihan tempat wisata, membuat lokasi wisata menjadi kumuh dengan sampah atau barang-barang mereka bahkan yang paling dihindari mereka bisa berlaku anarkis. Seperti memeras atau mencuri barang para wisatawan.

Namun sebalikknya, jika image masyarakat pada tempat tersebut baik atau positif, sikapnya pada lingkungan wisata (lingkungan hidup mereka) tersebut juga akan baik. Seperti contoh, mereka akan berlaku ramah, sopan dan baik hati. Mereka juga akan menjaga kebersihan lokasi wisata, bahkan mereka bangga bahwa “rumahnya” dikunjungi banyak orang dan disenangi banyak orang. Mereka akan lebih berpikir segala hal dengan sisi positif. Misalnya tingkat wisatawan meningkat, mereka bisa mempergunakan moment ini untuk menambah pendapatan mereka, misalkan dengan cara menjual jasa seperti menjadi tour guide, pemijat, fotografer dan hal lainnya. Mereka juga bisa menjual makanan atau minuman, mereka juga bisa membuat barang-barang kerajinan tangan yang dapat dijadikan buah tangan oleh para wisatawan.

Berbeda halnya dengan mereka yang memiliki image buruk pada lingkungan hidup mereka yang dijadikan tempat wisata. Mereka bisa menjadi kesal dan seolah terganggu, karena kehidupan yang dulu tidak sama dengan sekarang. Misalkan dulu kendaraan tidak banyak, sehingga kemacetan dan polusi tidak tinggi, namun setelah “rumahnya” dijadikan tempat wisata kendaraan menjadi banyak dan polusi meninggkat. Mereka juga bisa menjadi kesal karena biasanya suasana yang sepi kini berubah menjadi ramai dan ricuh. Padahal mereka bisa menggunakan situasi tersebut untuk menambah penghasilan bahkan relasi dengan para pengunjung. Makadari itu peneliti ingin meneliti apa image yang terbentuk di masyarakat Tanjung Lesung, pasca “rumahnya” ditetapkan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus.

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana pemaknaan image Tanjung Lesung sebagai destinasi wisata pasca penetapan KEK oleh masyarakat di wilayah tersebut?

1.3 Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui bagaimana pemaknaan image Tanjung Lesung sebagai destinasi wisata pasca penetapan KEK oleh masyarakat di wilayah tersebut.

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian dibagi menjadi dua, yaitu :

1.Manfaat Akademis

a.Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan kontribusi positif bagi ilmu komunikasi, khususnya di bidang public relations dalam mempelajari tourism destination image.

b.Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi penelitian kualitatif sejenis yang menguji tourism destination image.

c.Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengentahuan dalam melihat tourism destination image oleh masyarakat yang tinggal di tempat destinasi wisata.

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukkan bagi pemerintah dalam mengelola image yang terbentuk di masyarakat linkungan destinasi wisata, agar dapat menunjang pemasukan negara dengan cara meningkatan jumlah wisatan.

BAB II

LITERATURE RIVIEW

2.1 Komunikasi Pariwisata

Dalam bukunya Bungin (2015, h.127) berpendapat bahwa ada dua kelompok yang terbentuk di masyarakat mengenai pemahaman terhadap pariwisata. Yang pertama adalah kelompok awam, mereka adalah kelompok yang melihat pariwisata hanya sebagai bagian dari rekreasi, jalan-jalan, plesir dan sebagainya. Mereka bersifat konsumtif, apatis bahkan sebagian bersifat destruktif. Kelompok yang kedua adalah kelompok cerdas. Kelompok ini benar-benar memahami makna pariwisata. Kelompok cerdas dibagi menjadi tiga bagian :

1.Kelompok Cerdas Konsumen Pariwisata (wisatawan domestik dan internasional )

Mereka adalah kelompok konsumen namun kritis terhadap parisiwata baik di dalam negri maupun di luar negeri.

2.Kelompok yang melakukan eksplorasi dan eksploitasi terhadap destinasi untuk kepentingan bisnis.

3.Kelompok penggiat

Kelompok ini tahu mengenai pariwisata, yang kemudian melakukan pembinaan terhadap destinasi SDM dan kelembagaan adat agar dapat memperkuat substansi masyarakat untuk keunggulan destinasi secara sustainable.

Pariwisata modern adalah konsep pariwisata yang mendefinisikan dirinya sebagai produk bisnis modern. Jadi semua produk pariwisata didesign sebagai produk bisnis, mulai dari destinasi, ekonomi kreatif, transportasi, perhotelan, venue rekreasi, atraksi seni dalam paket-paket wisata yang menarik, mengagumkan, menantang dan mengesankan. (Bungin, 2015, h.85).

Menurut John Paul (2015) komponen utama pariwisata adalah :

1.Aksesbilitas

2.Akomodasi

3.Atraksi

Sedangkan menurut Ramesh (2015) komponen pariwisata yang terpenting adalah :

1.Akomodasi

2.Aksesbilitas

3.Fasilitas

4.Atraksi

5.Aktivitas

Sehingga dapat disimpulkan bahwa apabila semuanya disediakan secara sempurna maka sebenarnya pariwisata bukanlah sarana rekreasi saja, melainkan sebagai sarana yang digunakan untuk melepaskan kepenatan dan tekanan ketika menjalankan rutinitas hidup (Bungin 2015, h. 86).

Menurut Bungin (2015, h.94), komunikasi pariwisata memiliki beberapa bidang yang dapat dikembangankan dari waktu ke waktu sejalan berkembangnya komunikasi pariwisata. Bidang-bidang tersebut antara lain, komunikasi pemasaran pariwisata, brand destinasi, manajemen komunikasi pariwisata, komunikasi transportasi pariwisata, komunikasi visual pariwisata, komunikasi kelompok pariwisata, komunikasi online pariwisata, public relations, MICE, dan riset komunikasi pariwisata.

Menurut Bungin (2015, h.126) ada beberapa hambatan dalam membangun komunikasi pariwisata dalam pembentukkan brand destinasi, antara lain :

1.Pemahaman Masyarakat Terhadap Pariwisata,

2.Regulasi,

3.Kelembagaan Masyarakat Adat,

4.Koordinasi

5.Industri dan Profesionalisme.

2.2 Implementasi KEK di Indonesia

Pada tahun 2009, pemerintah Indonesia mengeluarkan Undang-Undang nomor 39 yang berisi tentang Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). KEK adalah kawasan dengan batas tertentu dalam wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ditetapkan untuk penyelenggara fungsi perekonomian dan memeroleh fasilitas tertentu. Dalam  UU no. 39 pasal 2 dijelaskan bahwa “KEK dikembangkan melalui penyiapan kawasan yang memiliki keunggulan geoekonomi dan geostrategi dan berfungsi untuk menampung kegiatan industri, ekspor, impor, dan kegiatan ekonomi lain yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan daya saing internasional.”

Dalam penelitian Komala (2015) yang berjudul ‘Implementasi Kebijakan dan Kendala Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata Tanjung Lesung Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten’ ditulis bahwa secara umum tujuan KEK adalah :

1.Peningkatan investasi

2.Penyerapan tenaga kerja

3.Penerimaan devisa sebagai hasil dari peningkatan eksport

4.Meningkatkan keunggulan kompetitif produk eksport

5.Meningkatkan sumber daya lokal, pelayanan dan modal bagi peningkatan eksport

6.Mendorong terjadinya peningkatan kualitas SDM melalui transfer teknologi

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2011, Tentang Penyelenggaraan Kawasan Ekonomi Khusus, Pasal 2 penyelenggaraan KEK memiliki 5 tahapan :

1.Pengusulan KEK

2.Penetapan KEK

3.Pembangunan KEK

4.Pengelolaan KEK

5.Evaluasi pengelolaan KEK

Data Sekretariat Dewan Nasional KEK mencatat, bahwa dalam melaksanakan amanat Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2009 tentang Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), pemerintah menyelenggarakan kebijakan pengembangan KEK. KEK adalah kawasan tertentu, dalam wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ditetapkan untuk menyelenggarakan fungsi perekonomian dan memperoleh fasilitas tertentu.

Fungsi KEK adalah mendorong pengembangan aktifitas ekonomi tertentu dalam kerangka peningkatan daya saing nasional dibidang-bidang perdagangan, jasa, industri, pertambangan dan energi, transportasi, kemaritiman dan perikanan, pos dan telekomunikasi, pariwisata, dan bidang lain.

Hingga akhir 2016, terdapat 10 KEK yang telah ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah (PP). Dua diantaranya telah diresmikan kesiapan beroperasinya sejak 2015, yaitu Sei Mangkei dengan kegiatan utama industri pengolahan sawit dan karet, dan KEK Tanjung Lesung dengan kegiatan utama pariwisata.

Terdapat enam KEK lainnya yang ditetapkan pada 2014 dan masih dalam tahap pembangunan, yaitu KEK Palu, Bitung, Tanjung Api-Api, Morotai, Mandalika, dan Maloy Batuta Trans Kalimantan (MBTK). Kemudian terdapat dua KEK yang baru ditetapkan pada tahun 2016, yaitu KEK Tanjung Kelayang dan KEK Sorong. “Sesuai dengan PP bahwa KEK yang telah ditetapkan harus siap beroperasi paling lambat 3 tahun sejak tanggal ditetapkan,” kata Enoh yang diwawancari oleh Tempo.co pada tanggal 10 Januari 2017 silam.

2.3 Destination Image

Dalam menentukan tempat berlibur, pasti kita akan memilih tempat yang terkenal dengna keindahannya. Maka, sebenarnya arti dari destination image sudah tidak asing lagi di telinga kita. Blain (2005) berpendapat bahwa destination brand sering juga dikatakan sebagai merek suatu tempat. Merek daerah didefinisikan sebagai aktivitas pemasaran untuk mempromosikan citra positif suatu daerah tujuan wisata demi mempengaruhi keputusan konsumen untuk mengunjunginya (Roostika, 2012). Sedangkan Croy (2004 dalam Hendarto, 2006) menyebutkan pentingnya citra bagi sebuah daerah tujuan wisata, yaitu menciptakan harapan, dapat digunakan sebagai strategi pemasaran dan segmentasi pasar, merupakan salah satu bentuk dari konsumsi, mempengaruhi pasar yang prospektif, dan berperan dalam kepuasan dan pemilihan daerah tujuan. Di bagian akhir, ia menuliskan bahwa citra dan kepuasan akan mempengaruhi loyalitas konsumen.

Dalam penelitian yang berjudul Antecedents of Tourists' Loyalty to Mauritius: The Role and Influence of Destination Image, Place Attachment, Personal Involvement, and Satisfaction, Prayag dan Rya menuliskan Tasci, Gartner, and Cavusgil (2007) suggested that “destination image is an interactive system of thoughts, opinions, feelings, visualizations, and intentions toward a destination” (p. 200), which not only recognizes the multiplicity of elements (cognitive, affective, and conative) forming the construct but also their influence on the purchase decision process. An overall or composite image is formed as a result of interactions between these elements (Gartner 1993; Lin et al. 2007). Jadi seperti yang dikatakan Tasci, Gartner dan Cavusgil, destination image adalah pemikiran yang interaktif, opini, perasaan dan visualisasi (gambaran) dan niat dari seseorang pada tujuan tersebut.

Menurut Reynolds (1965) dalam Echtner & Ritchie (2003) citra destinasi dapat didapatkan melalui poster, brosur, majalah, TV, koran, cerita dari orang lain dan yang paling jelas dengan mengunjunginya secara langsung. Gunn (1988) telah merumuskan model pembentukkan citra destinasi. Dalam model ini, ada 7 fase :

1.Accumulation of mental images about vacation experiences

2.Modification of those images by further information

3.Decision to take a vacation trip

4.Travel to the destination

5.Participation at the destination

6.Return home

7.Modification of images based on the vacation experience.

Dari model ini, bisa kita lihat ada 3 kali pembentukkan citra destinasi. Fase 1 dan 2 citra destinasi dibentuk dari sumber informasi sekunder, seperti membaca majalah, buku, menonton, belajar atau bahkan mendengar cerita orang, Sedangkan fase ke 7 didapat melalui pengalaman pribadi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagai hasil dari mengunjungi destinasi, image cenderung lebih realistis, kompleks, dan dibedakan (Pearce, 1982; Murphy & Hodel, 1980; Phelps, 1986; Chon, 1987).

Namun, sebelum lebih jauh membahas citra destinasi, kita harus lebih dahulu mengetahui destinasi itu apa. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), destinasi adalah tempat tujuan. Sehingga lebih jelasnya destinasi wisata adalah suatu kawasan spesifik yang dipilih oleh seseorang pengunjung, yang mana ia dapat tinggal dan berdomisili selama periode waktu tertentu. (Hadinoto, 1996).

Hingga saat ini, masih banyak perdebatan mengenai pengukuran citra destinasi, hal ini disebabkan oleh banyaknya pembentuk dimensi citra destinasi yang terdiri atribut-atribut destinasi yang saling terkait. Pengukuran citra destinasi juga masih dianggap relatif sehingga cara penafsirannya akan menjadi subjektif antara seorang dengan yang lainnya dan sangat tergantung kepada perbandingan yang digunakan. Citra destinasi juga bukan sesuatu yang statis, tetapi sangat dinamis seiring dengan terjadinya perubahan ruang, waktu, dan tempat (Utama, 2015).

Saat ini, masih banyak terjadi perbedaan pandangan tentang komponen-komponen pembentuk citra destinasi. Misalnya, Mazursky dan Jacoby (1986) menganggap bahwa konsumen membangun total citra (overall image) berdasarkan evaluasi dari berbagai atribut produk barang maupun jasa. Namun Fakeye dan Crompton (1991) menganggap bahwa citra destinasi hanya terdiri atas komponen kognitif saja, sedangkan persepsi atau evaluasi kognitif hanya mengacu pada sebuah pengetahuan individu dan keyakinannya terhadap sebuah objek yang dipersepsikan atau dievaluasi. Serupa dengan Mazurzky dan Jacoby, dalam penelitian Utama (2016) Gartner (1993) menyatakan bahwa persepsi wisatawan terhadap berbagai atribut destinasi akan berinteraksi dalam membentuk citra total (overall image).

Secara kognitif Milman dan Pizam (1995) menawarkan tiga komponen yang membentuk citra destinasi, yakni: atraksi (attractions), perilaku tuan rumah (the hosts’ behavior and attitude), dan lingkungan destinasi (the environment) seperti iklim, fasilitas, dan sebagainya. Sementara itu, Goeldner and Ritchie, (1999) mengindentifikasi bahwa secara kognitif, citra destinasi terdiri atas komponen psikologis wisatawan, keunikan, dan atribut destinasi secara holistik. Lebih dalam lagi,dalam penelitian Utama (2016), Chi (2005) telah melakukan penelitian dan mengklasifikasikan sembilan atribut yang mempengaruhi citra destinasi, yaitu (1) atribut alamiah, (2) kesempatan wisatawan untuk bersenang-senang dan rekreasi, (3) lingkungan alamiah, (4) fasilitas umum, (5) budaya, sejarah, dan seni, (6) lingkungan sosial, (7) infrastruktur pariwisata, (8) faktor ekonomi dan politik, dan (9) suasana destinasi.

2.4 Sejumlah Permasalahan Terkait Tanjung Lesung sebagai KEK

Pasca ditetapkan sebagai KEK tanggal 23 Februari 2015 silam, Tajung Lesung masih memiliki permasalahan. Diantaranya adalah jalan yang rusak. Dilansir dari Kompas.com tanggal 7 Mei 2016, Ramadhiani (2016) menyebutkan bahwa jalanan menuju Tanjung Lesung bergelombang, bahkan di beberapa titik jalan ada yang sampai tebelah dan mengakibatkan pengendara roda empat hanya bisa menggunakan satu ruas jalan dan bergantian dengan arah yang berlawanan. Saat Presiden Jokowo datang beberapa waktu lalu, jalanan memang sempat diperbaiki namum tak lama rusak lagi.

Bahkan sebelum ditetapkan menjadi KEK, perencanaan tersebut telah mendapat penolakan dari ulama dan tokoh masyarakat Banten. Sampai-sampai mereka juga telah melayangkan surat penolakan kepada Presiden Jokowi. Hal ini dikarenakan mereka takut tempat tersebut pasca ditetapkan sebagai KEK, akan menjadi tempat kemaksiatan (Putri, 2015).

Pada penelitian Komala (2015, h.78) juga dikatakan bahwa adanya ketidak sesuaian rencana aksi nasional, rencana aksi daerah dengan implementasi kebijakan pengembangan KEK Tanjung Lesung. Selain itu, adanya ketidak terlaksanakannya target investasi dan kontribusi dan pengembangan Tanjung Lesung. Lalu, terjadi keterlambatan pembentukkan Dewan Kawasan di Provinsi Banten, belum dibangunnya fasilitas pendukung KEK di Tanjung Lesung, dan persiapan pengembangan KEK di Tanjung Lesung pun belum terpenuhi secara menyeluruh.

Dalam penelitian Mukhroman dan Gumelar (2013) yang berjudul ‘Perencanaan Strategi Humas Pemprov Banten Pasca Ditetapkannya KEK Pariwisata Tanjung Lesung, Pandeglang, Banten’ terdapat kesimpulan bahwa pasca ditetapkannya PP. No.26 Tahun 2012, peran Humas Pemprov Banten terasa belum maksimal. Koordinasi atau kerjasama yang dilakukan antara pemerintah provinsi dan daerah dalam hal ini adalah pemerintah Kabupaten Pandeglang lebih banyak melibatkan dalam ranah komunikasi antar bidang yang berkaitan dengan teknis semata. Dalam kenyataan ini pula bahwa peneliti memiliki kesimpulan, yaitu:

Pertama, dalam hal perencanaan strategi melakukan riset formatif pengembangan KEK Pariwisata Tanjung Lesung, Humas Pemprov Banten belum memahami sepenuhnya bagaimana menggunakan tahapan yang ada pada riset formatif tersebut, sehingga terkesan dalam merespon Tanjung Lesung sebagai KEK Pariwisata dianggap bukan sesuatu yang menjadi mutlak tugas Humas Pemprov Banten, karena terkait juga dengan instansi vertikal lainnya.

Kedua, dalam hal perencanaan strategi melakukan strategi pengembangan KEK Pariwisata Tanjung Lesung, Humas Pemprov Banten belum memiliki strategi yang khusus. Dalam hal ini, Humas Pemrov Banten masih belum memahami apa yang menjadi tujuan dan sasaran KEK dan menganggap kerja-kerja terkait pengembangan KEK dikerjakan oleh tim khusus untuk itu, sehingga terkesan Humas Pemprov Banten tidak melakukan strategi yang pro aktif dan responsif dalam memberikan informasi terkait hal tersebut.

Ketiga, dalam hal perencanaan strategi melakukan taktik-taktik pengembangan KEK Pariwisata Tanjung Lesung, Humas Pemprov Banten belum memahami bagaimana pelaksanaan taktik PR, yang mana dalam menyikapi tentang Tanjung Lesung sebagai kawasan KEK itu bukan menjadi suatu agenda penting dan agenda utama Humas Pemprov Banten, sehingga dengan demikian bahwa hal ini akan menjadi suatu kelemahan dalam mereka bertindak.

Keempat, dalam hal perencanaan strategi melakukan Riset Evaluasi pengembangan KEK Pariwisata Tanjung Lesung, Humas Pemprov Banten belum bisa melakukan evaluasi yang mendalam. Analisis evaluasi yang dilakukan pada setiap fase berserta tahapan-tahapan rencana strategi Humas Pemprov tersebut menyiratkan kecilnya peranan Humas Pemprov Banten. Perencanaan Humas tidak berjalan dengan semestinya, dikarenakan terminologi akan Humas masih sangat sempit.

Berdasarkan hasil simpulan penelitian tersebut, dapat terlihat bahwa pasca Tanjung Lesung sudah ditetapkan sebagai KEK masih ada permasalahan yang terjadi.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis dan Sifat Penelitian

Menurut jenisnya penelitian dibagi menjadi dua, yang pertama adalah kuantitatif dan yang kedua adalah kualitatif. Penelitian kualitatif biasanya digunakan untuk meneliti tentang sebuah fenomena, memahami sebuah interaksi sosial ataupun perasaan seseorang. Sedangkan penelitian kuantitatif biasanya untuk meneliti seputar jumlah populasi. Menurut Newman dalam buku Semiawan (h. 80) penelitian kuantitatif mengukur fakta objektif, fokus pada variable, berkunci pada reliabilitas, bebas nilai, bebas dari konteks, banyak subjek dan kasusserta menggunakan analisis statistik. Sedangkan penelitian kualitatif mengkonstruksi realitas sosial, fokus pada proses interaktif, berkunci pada autentitas, perkuat nilai, tergantug pada konteks, sedikit subjek dan kasus, tematis dan peneliti terlibat dalam proses. Berdasarkan hal tersebut peneliti memutuskan untuk menggunakan penelitian kualitatif, karena penelitian ini meneliti mengenai perasaan seseorang (tepatnya image yang terbentuk pada masyarakat Tanjung Lesung pasca Tanjung Lesung ditetapkan sebagai KEK.).

Dalam setiap penelitian, ada sifat yang dimiliki penelitian tersebut, misalkan saja eksplanatif, deskriptif dan eksplorasi. Eksplanatif adalah sifat penelitian yang bertujuan untuk menerangkan, menguji hipotesis dari variabel-variabel penelitian. Fokus penelitian ini adalah analisis hubungan-hubungan antara variabel (Singarimbun, 1981). Sedangkan penelitian desktiptif, tulisannya dapat menolong pembaca untuk melihat dimana dan kapan peristiwa itu terjadi, sehingga peneliti harus mampu menuliskan data dengan detail dan jelas. Tujuan penelitian yang bersifat deskriptif ini peneliti dapat membuat subyek menjadi terlihat nyata dan hidup (K, Setiawan, 2007). Dalam penelitian deskriptif, peneliti tidak melakukan menipulasi atau memeberiak perlakuan-perlakuan tertentu terhadap variable, tetapi semua kegiatan, keadaan, kejadian, aspek komponen dan variable berjalan apa adanya. Akan tetapi, seperti yang dikatakan John W. Best (dalam Sukmadinata, 2005, h.74) bahwa penelitian deskriptif tidak hanya berhenti pada pengumpulan data, pengorganisasian, analisis dan penarikan interpretasi serta penyimpulan, tetapi dilanjutkan dengan pembandingan, mencari kesamaan-perbedaan dan hubungan kasual dalam berbagai hal (Dasim, 2012).

Sifat penelitian selanjutnya adalah eksplorasi, dalam penelitian Dwi Lianasari (2009, h.32) dituliskan bahwa penelitian eksploratif bertujuan untuk memperoleh wawasan dan pengertian yang mendalam. Menurut Berg (2007, dalam Suryatiningsih,2013) studi kasus eksploratif adalah metode yang menekankan pada eksplorasi dari sebuah kasus guna menggali dasar-dasar dari sebuah permasalahan penelitian dan mempermudah peneliti untuk menemukan berbagai faktor signifikan yang saling berinteraksi untuk menemukan berbagai faktor signifikan yang saling berinteraksi untuk menentukan suatu karakter dari fenomena yang berkaitan dengan individu, komunitas, atau bahkan institusi.

Dalam penelitian ini, peneliti memilih untuk menggunakan sifat deskriptif. Karena tujuan dari penelitian ini mencari image apa yang terbentuk dimasyarakat terhadap Tanjung Lesung pascra ditetapkan sebagai KEK. Berarti disini akan terlihat, adakah perbedaan image yang terbentuk sebelum ditetapkan sebagai KEK dan pasca ditetapkan sebagai KEK.

3.2 Metode Penelitian

Dalam pembuatan penelitian, ada beberapa metode yang bisa digunakan, yang pertama adalah etnografi. Menurut Harris (1968, dalam Creswell, 1998 h.58), etnografi adalah deskripsi dan interpretasi atas suatu budaya, kelompok sosial, atau sistem. Dalam metode ini, peneliti mempelajari pola prolaku, adat, dan gaya hidup pada suatu kelompok. Dalam Creswell (1998 h.58), Agar (1980) berpendapat bahwa etnografi merupakan produk penelitian, biasanya ditemukan dalam bentuk buku. Pada intinya, penelitian ini mendalami tentang prilaku yang terjadi secara alami dalam sebuah masyarakat atau kelompok sosial tertentu. Tujuan penelitian etnografi adalah untuk mendeskripsikan situasi, interaksi, praktik-praktik budaya dan kepercayaan yang terjadi di kelompok yang dijadikan penelitian tersebut. Makadari itu pada penelitian ini, peneliti harus berbaur dengan objek penelitian karena untuk mengetahui praktik budaya dan kepercayaan tersebut peneliti harus tahu dari narasumber secar langsung. Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah observasi dan wawancara mendalam.

Metode yang kedua adalah metode studi kasus. Menurut Bungin (2007:132) studi kasus adalah metode penelitian yang mendalam kepada satu kelompok tertentu atau satu peristiwa tertentu. Peristiwa yang dipilih pun harus yang tidak biasa, sehingga disini peneliti berperan sebagai ‘pemecah’ masalah. Dalam menggunakan metode ini ada tiga langkah yang harus dilakukan, yaitu mengumpulkan data, melakukan analisis serta menulis.

Dan metode yang selanjutnya adalah fenomenologi. Penelitian fenomena ini pertama dikemukakan oleh Edmund Hursserl (1859-1938) seorang filsuf Jerman. Pada mulanya penelitian ini bermula dari penelitian sosial. Ada beberapa pengertian tentang fenomenologi menurut Hursserl diantaranya yaitu:

a)pengalaman subjektif atau fenomenologikal,

b) suatu studi tentang kesadaran dari perspektif pokok dari seseorang.

 Hal ini dapat dipahami bahwa penelitian fenomenolgi merupakan pandangan berfikir yang menekankan pada pengalaman-pengalaman manusia dan bagaimana manusia menginterpretasikan pengalamannya. Ditinjau dari hakekat pengalaman manusia dipahami bahwa setiap orang akan melihat realita yang berbeda pada situasi yang berbeda dan waktu yang bebeda. Sebagai contoh “ perasaan” ( feeling) pada pagi ini akan berbeda pada pagi besok. Sehingga kalau kita melakukan wawancara kepada seseorang pada pagi hari akan berbeda pada pagi lainnya. Sehinga jarak, waktu, hubungan manusia, tempat tinggal akan mempengaruhi setiap pengalaman manusia. Maka metode dalam fenomenologis ini menekankan kepada bagaimana seseorang memaknai pengalamannya. Istilah fenomenologis sering digunakan sebagai anggapan umum untuk menunjuk pada pengalaman subjektif dari berbagai jenis dan tipe subjek yang ditemui. Dalam arti khusus istilah ini mengacu kepada pada penelitian terdisiplin tentang kesadaran dari persfektif pertama seseorang. Ada beberapa ciri-ciri pokok fenomenologis yang dilakukan oleh peneliti fenomenologis menurut Moleong ( 2007:8) yaitu:

a)mengacu kepada kenyataan, dalam hal ini kesadaran tentang sesuatu benda secara jelas

b) memahami arti peristiwa dan kaitankaitannya terhadap orang-orang yang berada dalam situasi –situasi tertentu

c)memulai dengan diam.

Para fenomenologis berasumsi bahwa kesadaran bukanlah dibentuk karena kebetulan oleh sesuatu hal yang lain daripada dirinya sendiri. Demikian juga dalam kehidupan sehari hari, seseorang tidak ada kontrol terhadap kesadaran terstruktur. Analisis fenomenologis berusaha mencari untuk menguraikan ciri-ciri dunianya, seperti apa aturan-aturan yang terorganisasikan , dan apa yang tidak dan dengan aturan apa objek dan kejadian itu berkaitan. Aturan-aturan ini bukanlah sebenarnya ciri-ciri yag berdiri sendiri namun terbentuk oleh kebermaknaan dan nilai-nilai dalam kesadaran yang kita alami sebagai hal yang berdiri sendiri dari kita. Para fenomenologis berusaha memahami arti peristiwa dan kaitan-kaitannya terhadap orang-orang yang berada dalam situasi – situasi tertentu (Jailani, 2013).

 Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah fenemenologi. Metode ini dipilih oleh peneliti, karena dianggap sesuai dengan pengertian fenomenologi yang berkata bahwa peneliti melakukan sejumlah wawancara kepada individu yang memiliki pengalaman. Dalam melakukan fenomenologi, peneliti tidak boleh mencampurkan pandangannya, sehingga peneliti tidak boleh memasukkan pendapatnya. Dalam fenemenologi juga ada dua tahan yang perlu didapat, yang pertama adalah untuk mendeskripsikan dan yang kedua adalah untuk melihat pemaknaan yang diberikan narasumber pada objek yang diteliti.

3.3 Key Informan dan Informan

Informan adalah pihak-pihak yang terlibat langsung dalam objek penelitian. Menurut Moleong (2010, h. 132) informan adalah orang yang dimanfaatkan untuk memberikan informasi tentang situasi dan kondisi latar penelitian. Sedangkan key informan adalah informan kunci, yang dinilai lebih mengerti atau lebih bisa ‘menjawab’ dengan baik. Jadi key informan dan informan harus memiliki banyak pengalaman tentang latar belakang penelitian. Pada penelitian ini, peneliti merumuskan ada dua pihak yang akan dijadikan narasumber. Pertama adalah opinion leader di lingkungan masyarakat Tanjung Lesung dan yang kedua adalah keluarga yang sudah tinggal disana selama dua puluh tahun atau lebih. Sedangkan sebagai informan, peneliti memutuskan untuk mewawancarai lima keluarga yang tinggal di Tanjung Lesung selama kurang dari dua puluh tahun namun tetap merasakan perbedaan antara Tanjung Lesung ditetapkan menjadi KEK maupun belum.

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Untuk mendapatkan informasi yang valid, akurat, dan berguna dalam penelitian ada empat teknik dalam pengumpulan data. Pertama adalah observasi, teknik ini dilakukan dengan cara melakukan pengamatan di lingkungan yang dijadikan objek penelitian. Menurut Bungin (2007:118) Observasi atau pengamatan adalah kegiatan keseharian manusia dengan menggunakan pancaindra mata sebagai alat bantu utamanya selain pancaindra lainnya seperti telinga,penciuman, mulut, dan kulit. Karena observasi adalah kemampuan seseorang untuk mennggunakan pengamatannya melalui hasil kerja pancaindra mata serta dibantu dengan pancaindra lainnya. Jadi dalam teknik mengumpulkan data ini, peneliti lebih memaksimalkan indra pengelihatan dibanding yang lain, namun bukan berarti tidak menggunakan indra yang lainnya. Peneliti harus mengamati interaksi sosial yang terjadi dan kondisi lingkungan yang ada, sehingga dalam metode ini peneliti menggunakan panca indra semaksimal mungkin untuk mendapatkan informasi. Menurut Krisyantono (2006, h.110) observasi adalah metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati secara langsung kegiatan yang dilakukan oleh objek tersebut. Observasi merupakan metode untuk menjelaskan dan merinci gejala-gejala yang terjadi.

Kedua adalah wawancara, dalam teknik ini untuk mendapatkan informasi peneliti harus melakukan tanya jawab kepada key informan dan informan yang sudah ditentukan sebelumnya. Hal ini dilakukan untuk dapat mengetahui langsung pendapat, pengalaman, dan perasaan yang dirasakan secara langsung oleh narasumber sehingga peneliti tidak berspekulasi sendiri. Menurut Krisyantono (2006, h.100) wawancara merupakan percakapan yang digunakan untuk mendapatkan data dan informasi langsung dengan key informan sehingga memperoleh data yang mendalam dan maksimal mengenai penelitian yang dilakukan.

Dalam melakukan wawancara, sebaiknya peneliti harus sudah menyiapkan poin-poin yang akan ditanya jangan menyiapkan pertanyaan dalam sebuah kalimat karena jika peneliti malah mempersiapkan pertanyaan, peneliti akan berfokus pada pertanyaan saja. Tidak bisa mengembangkan pertanyaan. Jika peneliti mempersiapkan poin-poin, peneliti akan lebih leluasa atau ‘luwes’ dalam melakukan wawancara. Poin-poin ini berguna untuk mengingatkan hal penting apa yang peneliti harus dapatkan dari narasumber tersebut.

Kata-kata yang digunakan dalam melakukan wawancara juga harus dipilih yang paling sederhana, agar narasumber tidak bingung dan merasa nyaman melakukan wawancara tersebut. Waktu dan lokasi dalam melakukan wawancara juga menentukan kualitas jawaban yang diberikan. Sebisa mungkin dipilih yang paling nyaman. Jangan lupa dalam melakukan wawancara juga peneliti harus merekam, bukan hanya untuk menjadi sumber data namun juga untuk menjadi bukti dalam penelitian yang dilakukan.

Teknik pengumpulan data yang selanjutnya adalah FGD (focus group discussion), teknik ini seperti melakukan diskusi mengenai topik penelitian yang dilakukan, dengan orang-orang yang dianggap kompeten dan sesuai dengan topik penelitian. Dalam melakukan wawancara dan FGD, peneliti juga harus memberikan consent form sebagai formulir persetujuan narasumber untuk diwawancarai. Dalam consent form harus ada judul penelitian, tujuan penelitian, latar belakang penelitian secara singkat dan manfaat ataupun ‘kerugian’ yang akan didapat oleh narasumber seperti memakan waktu nya selama sekian menit, akan ditanya-tanya sehingga kemungkinan privasinya terganggu. Lalu dalam consent form juga harus terdapat identitas dari narasumber dan peneliti.

Selain itu dalam melakukan FGD peneliti bisa berperan sebagai moderator ataupun pengamat. Jika sebagai moderator sekaligus peneliti, ia harus melakukan rekaman juga, memerhatikan setiap jawaban yang diberikan dan reaksi ataupun respon yang diberikan. Jika sebagai pengamat (tidak terjun langsung dalam FGD) ia harus mencatat poin-poin penting yang didapat dari jawaban-jawaban yang diberikan jika perlu juga, proses FGD bisa sambil direkam.

Teknik pengumpulan data yang terakhir adalah dengan cara studi pustaka. Studi pustaka adalah teknik untuk melakukan pengumpulan data dimana untuk menelaah buku-buku, literatur-literatur, catatan-catata, dan laporan-laporan yang ada hubungannya dengan masalah yang dipecahkan (Nazir, 2003, h.111)

Hal ini tidak harus dilakukan di lokasi penelitian, hal ini bisa dilakukan dimana saja. Dokumen yang diteliti adalah dokumen yang memiliki sangkut paut dengan objek atau topik penelitian. Hal ini bisa didapat dari bentuk teks, gambar, ataupun suara. Bisa bersumber dari media konvensional, media massa, kepustakaan ataupun sosial media.

Dari empat teknik yang ada, peneliti memutuskan untuk melakukan observasi, wawancara dan studi dokumen sebagai teknik untuk mengumpulkan data. Observasi dilakukan selama dua minggu. Pada awalnya peneliti hanya melihat lingkungan penelitian sekitar terlebih dahulu, sambil mulai menjalin relasi dengan penduduk setempat seperti pengunjung biasa. Lalu, setelah relasi itu terbangun peneliti mulai mengkomunikasikan maksud dan tujuan utama peneliti datang kesini. Setelah diterima baik, peneliti meminta ijin untuk tinggal di rumah warga agar memiliki hubungan yang lebih dekat.

 Wawanacara ini dilakukan dengan para key informan seperti ustad (yang masih menjadi opinion leader) dan ketua RT dan RW yang menjabat sebelum dan sesudah Tanjung Lesung ditetapkan sebagai KEK. Selain itu, key informan yang perlu diwawancara adalah lima keluarga yang sudah tinggal di kawasan Tanjung Lesung selama lebih dari dua puluh tahun. Hal ini dipilih karena mereka dianggap merasakan perubahan yang terjadi antara Tanjung Lesung yang belum ditetakan sebagai KEK dan sesudah. Wawancara ini akan dilakukan di rumah para narasumber, agar wawancara terasa lebih nyaman dan santai. Jam yang dipilihpun sekitar sore hari ataupun setelah sholat magrib, karena jam tersebut dilinai jam ‘santai’  

Dokumen yang dijadikan penelitian dalam studi dokumen pun diambil dari dokumen dari pemerintahan Tanjung Lesung, karena menurut pengamatan tidak ada media konvensional yang melakukan pemberitaan terkain image Tanjung Lesung oleh masyarakt Tanjung Lesung.

3.5 Keabsahan Data

Dalam menguji keabsahan data di penelitian kuantitatif dilakukan uji validitas serta uji reabilitas, karena data yang didapatkan berupa jumlah yang bisa dihitung. Sedangkan dalam kualitatif, tidak ada data yang bisa dihitung untuk menguji keabsahan data. Maka perlu dilakukan triangulasi yaitu pengecekan data melalui 3 teknik pengumpulan data. Menurut Nasution dalam (Ardianto, 2010, h.97) triagulasi data tidak hanya digunakan sekedar menilai kebenara data, melainkan juga untuk menyelidiki validitas tafsiran kita mengenai data tersebut.

Dalam bukunya, Sugiyono (2007, h.274) berpendapat bahwa ada tiga macam teknik triagulasi, yaitu triagulasi sumber, triagulasi teknik dan triagulasi waktu. Sehingga kredibilitas di dalam penelitian kualitatif dapat menentukan proses dan hasil akhir yang dapat dipercaya.

3.6 Teknik Analisis Data

Langkah pertama yang dilakukan adalah observasi. Disini peneliti dapat membuat denah atau peta mengenai lokasi penelitian, suasana yang terjadi, cuaca termasuk suara apa yang terdengar di lokasi tersebut. Setelah itu peneliti melakukan wawancara, hasil awal yang didapat berupa rekaman wawancara, foto narasumber, identitas narasumber serta poin poin penting yang ditulis peneliti sebagai hasil jawaban wawancara. Begitu pula dengan saat studi dokumen, peneliti memfoto ataupun merekam dokumen yang dirasa penting dan bersangkutan dengan penelitian. Setelah itu, peneliti mulai merapihkan dan mengolah data tersebut. Rekaman yang didapat ditranskrip, setelah itu digaris bawahi/ditandai hal yang pentingnya (berkaitan dengan penelitian). Langkah selanjutnya peneliti mulai memilih data mana yang penting dan mulai menggabungkan satu temuan dengan yang lainnya.

Sedangkan menurut Miles dan Huberman (dalam Ardianto, 2010, h.223) terdapat tiga jenis kegiatan ketika melakukan analisis data yaitu :

1. Reduksi

  Reduksi data merupakan suatu bentuk analisis data yang fungsinya untuk mempertajam, memilih, memfokuskan, membuang, dan melakukan penyusunan data untuk membuat kesimpulan akhir.

2.Model data

  Model data digunakan untuk mengumpulkan informasi yang sudah disusun untuk kemudian dilakukan penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Teks naratif adalah model yang paling sering digunakan ketika melakukan penelitian kualitatif.

3.Penarikan Kesimpulan

  Penarikan Kesimpulan dilakukan setelah melakukan pengumpulan data yang gunanya adalah untuk menarik keputusan atas makna, mencatat keteraturan, melakukan penjelasan, dan melakukan konfigurasi misalnya dalam pembuatan pola-pola, alur sebab-akibat, dan proposi-proposi.

DAFTAR PUSTAKA

Aji, Muhammad Afnan Banu. “Pengaruh Tingkat Pemahaman Materi Sosialisasi Pemilihan Umum Walikota Yogya 2017 Oleh KPU Kota Yogyakarta Terhadap Tingkat Partisipasi Politik Pada Warga Gondokusuman di Yogyakarta”. Diakses pada 5 Juni. https://www.academia.edu/32306357/PENGARUH_TINGKAT_PEMAHAMAN_MATERI_SOSIALISASI_PEMILIHAN_UMUM_WALIKOTA_YOGYA_2017_OLEH_KPU_KOTA_YOGYAKARTA_TERHADAP_TINGKAT_PARTISIPASI_POLITIK_PADA_WARGA_GONDOKUSUMAN_DI_YOGYAKARTA

Ambari,M. 2017.”Bukan 13.466 Pulau, Indonesia Kini Terdiri dari …”.Mongabay Indonesia. Diakses pada 28 Februari 2017.http://www.mongabay.co.id/2017/01/12/bukan-13-466-pulau-indonesia-kini-terdiri-dari/

Ardianto, Elvinaro. 2010. Metode Penelitian Untuk Public Relatios Kuantitatif Dan Kualitatif. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

Benmetan, 2017.”Bukan 13.466, Berapa Jumlah Pulau Indonesia Saat Ini?”. Good News From Indonesia. Diakses pada 5 Juni 2017. https://www.goodnewsfromindonesia.id/2017/01/20/bukan-17-000-bukan-pula-13-466-berapa-jumlah-pulau-indonesia-saat-ini

...(download the rest of the essay above)

About this essay:

This essay was submitted to us by a student in order to help you with your studies.

If you use part of this page in your own work, you need to provide a citation, as follows:

Essay Sauce, . Available from:< https://www.essaysauce.com/essays/hospitality/2017-6-7-1496844817.php > [Accessed 11.12.19].