Essay:

Essay details:

  • Subject area(s): Marketing
  • Price: Free download
  • Published on: 14th September 2019
  • File format: Text
  • Number of pages: 2

Text preview of this essay:

This page is a preview - download the full version of this essay above.

Pondok Pesantren di Era Modernisasi ( Studi Kasus: Pondok Pesantren Al – Adzkar Tangerang Selatan)

Rahma Dani Puji Astuti

Departemen Sosiologi Universitas Indonesia

Email: [email protected]

Abstrak

Perubahan dan perkembangan pondok pesantren saat ini merupakan suatu fenomena yang menarik untuk dikaji. Tidak sedikit pondok pesantren saat ini yang berubah menjadi Islamic Modern Boarding School yang telah menerapkan biaya yang relative mahal, padahal pondok pesantren tradisional sangat menerapkan konsep keikhlasan yang berkaitan dengan biaya pendidikan di pondok pesantren, sehingga akan terjadi ketimpangan masyarakat kelas bawah dalam mengakses pendidikan di Islamic Modern Boarding School. Penulis berargumen bahwa Islamic Modern Boarding School akan mematok biaya yang cukup mahal, sehingga biaya tersebut hanya dapat dijangkau oleh masyarakat kelas menengah hingga kelas atas. Selain itu, Pondok Pesantren Modern yang yayasannya telah ternama atau citra baik dimata masyarakat, cenderung akan mengembangkan yayasannya tersebut sehingga memunculkan komodifikasi dalam pendidikan pesantren. Pada artikel ini, penulis menggunakan metode kualitatif. Penelitian ini dilakukan di sebuah Pondok Pesantren Modern yang dikelola oleh Yayasan Al-Adzkar di Pamulang, Tangerang Selatan. Peneliti mengambil data primer pada pengelola pesantren, kepala sekolah pesantren, ustad/ustadzah, serta beberapa orangtua santri. Penelitian ini juga menggunakan data pendukung berupa data sekunder dari Pondok Pesantren serta beberapa penelitian sebelumnya yang sejenis.

Keyword: Pondok Pesantren, Modern, Kelas Sosial, Komodifikasi, Ketimpangan sosial

Pendahuluan

Keberadaan lembaga pendidikan pesantren di Indonesia sudah sejak lama, sistem ini diperkenalkan sejak Islam mulai masuk di Indonesia. Berdasarkan data yang diperoleh dari Pendidikan Islam Kementerian Agama tercatat bahwa pada tahun pelajaran 2011-2012 terdapat 27.230 Pondok Pesantren yang berada di seluruh Indonesia. Persebaran Pondok Pesantren diseluruh Indonesia cenderung lebih banyak di Provinsi Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Banten dengan persentase 78,60%. Dari jumlah total  Pondok Pesantren yang ada di Indonesia, Pondok Pesantren terbagi lagi berdasarkan tipologinya, yaitu Pesantren Salafiyah, Pesantren Khalafiyah dan Pesantren Kombinasi.  Pondok Pesantren di Indonesia di dominasi oleh Pondok Pesantren Salafiyah yaitu sebanyak 14.459 (53,10%), sedangkan Pondok Pesantren Khalafiyah berjumlah 7.727 (28,38%), serta Pondok Pesantren Kombinasi sebanyak 5.044 (18,52%) (pendis.kemenag.go.id/file/dokumen/pontreanalisis.pdf). Tipologi yang membedakan pesantren ini terjadi karena perubahan sosial dan perkembangan tekhnologi yang modern. Perubahan yang terjadi diantaranya perubahan yang menyangkut bangunan atau kondisi fisik pesantren ini. Kedua, perubahan mengenai pola pengelolaan dan kepengasuhan teknis pesantren, dari bentuk kepemimpinan personal kiai menjadi bentuk pengelolaan secara kolektif yang berwujud dalam bentuk yayasan. Ketiga adanya peningkatan jumlah program pendidikan di pesaantren. Keempat perubahan yang berkaitan dengan keterbukaan pesantren untuk menerima atau bersinggungan dengan ‘pengetahuan praktis' non agama seperti ekstrakulikuler pesantren (Ma'shum, 1998).

Pesantren kombinasi yang biasanya melabel dirinya sebagai Pesantren Modern menggabungkan sistem pesantren tradisional dengan sistem sekolah formal. Pesantren Modern mulai memasukan kurikulum sekolah formal kedalam sistem pelajarannya, bahkan santri dituntut mampu menguasi Bahasa Inggris juga. Pesantren Modern melihat bahwa tidak hanya ilmu agama saja yang perlu diperdalam tetapi menguasai skill juga perlu untuk menghadapi perubahan zaman. Santri Pesantren Modern yang tinggal secara menetap di pondok datang dari berbagai macam daerah, budaya hingga latar belakang ekonomi yang berbeda. Sehingga santri bertemu dengan beragam latar belakang sosial dalam satu tempat, hal ini dapat menghasilkan akulturasi dan membentuk gaya hidup santri yang berbeda satu dengan lainnya.

Noor (2010) menemukan bahwa pesantren merupakan sub kulltur yang memiliki ciri khas tersendiri, dengan pola kepemimpinan mandiri, memiliki kitab yang menjadi rujukannya sehingga baik atau buruknya managemen pesantren tergantung pada cara individu seorang kyai dalam memimpin. Selain itu, Widyarini (2014) dalam penelitiannya tidak menemukan pengaruh yang signifikan antara persepsi kepuasan santri terhadap biaya, dan metode belajar di pondok Pesantren Salafi, akan tetapi figur pengasuh yang memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kepuasan santri. Penelitian yang dilakukan oleh Chamid (2008) menemukan faktor yang menyebabkan kurikulum dipesantren berubah yaitu karena faktor para kiyai pesantren mulai sadar akan adanya perubahan yang terjadi di Indonesia yang disebabkan karena arus modernisasi dan sekularisasi yang masuk kedalam seluruh kehidupan selain itu pesantren berusaha untuk mempertahankan kuantitas santrinya serta mempertahankan eksistensinya di dunia pendidikan Islam. Sama halnya dengan penelitian yang dilakukan Hasibuan (2013) menemukan bahwa sistem pendidikan di pondok pesantren telah diperbaharui yang dikarenakan respon terhadap modernitas yang berproses secara linear. Sukandi (2012) banyak pesantren yang mulai meninggalkan salafi karena tujuan yang diemban dari pesantren yang mengusung bahwa pendidikan agama tanpa diimbangi pendidikan umum merupakan hal yang tidak lengkap, dan sebaliknya pula bahwa pendidikan umum tanpa diimbangi pendidikan agama juga tidak lengkap. Hal ini juga didukung oleh penelitian Fikriyati (2007), menunjukan bahwa pesantren yang melakukan perubahan kearah modernitas berpegang teguh pada prinsip “al-muhafadzatu ‘ala al-qodim wa al-akhdzu bi al jadid al-ashlah” yaitu mempertahankan tradisi lama yang baik dan menyerap hal baru yang baik pula.

Penelitian yang dilakukan Bosetti (2004) menjelaskan mengenai faktor yang membuat orangtua mengambil keputusan dalam pemilihan sekolah untuk anak berdasarkan kelas sosialnya, hasil studinya menunjukan bahwa sekolah swasta yang bukan berbasiskan agama akan menarik siswa dari keluarga yang berstatus sosial ekonomi tinggi, sedangkan sekolah swasta yang berbasiskan agama akan menjadi pilihan untuk siswa dari keluarga yang berasal dari status sosial ekonomi yang rendah. Selain itu dalam penelitian Kitiarsa (2008) menjelaskan komodifikasi merupakan suatu upaya untuk mengubah agama menjadi menjadi barang yang dapat dijual, sehingga menjadikan agama ke dalam berbagai skala atau tingkatan untuk bertransaksi di pasar. Agama akan menjadi komoditas jika agama telah dijadikan sebagai barang untuk diperjualbelikan. Menurut (Fealy 2008 dalam Anis 2013) meningkatnya komodifikasi dalam Islam disebabkan oleh perubahan teknologi dan kondisi sosial ekonomi beberapa puluh tahun terakhir ini yang mendorong maraknya pencarian kepastian moral, kekayaan spiritual dan kesalihan identitas. Jati (2015) juga menjelaskan pilihan untuk mengislamkan masyarakat  melalui dua hal yaitu  secara Salafi-tradisional dan juga modernis. Salafi atau tradisional cenderung lebih cendrung mengislamkan masyarakat Muslim yang kemudian membentuk komunitaskomunitas ideologis. Sedangkan kalangan modernis, lebih melihat kepada adaptasi dan akulturasi nilai modernis dengan nilai Islam melalui perkembangan zaman yang tidak dapat ditahan. Dan munculnya fenomena Post-Islamisme menjadi dasar analisis mengenai Islam Populer. Fenomena tersebut mengkritik kemunduran pembangunan masyarakat Muslim kalangan Salafi yang tidak mendapatkan pengaruh luas. Post-Islamisme sendiri merupakan antitesis terhadap pembangunan masyarakat ala Salafi yang tidak menghendaki adanya modernisasi. Hal itu justru membuat kalangan masyarakat Muslim kian termarjinalkan dan didiskreditkan karena tidak mampu beradaptasi dengan zaman dan kemajuan ekonomi yang kian meningkat setiap harinya. Hal ini berarti bahwa Post-Islamisme sendiri lebih melihat pada pembangunan masyarakat lebih menuju modernitas.

Berdasarkan studi-studi yang telah dijelaskan dapat disimpulkan bahwa dampak dari modernisasi banyak pesantren yang meninggalkan metode Salafiyah dan cendrung beralih ke Pesantren Modern. Penulis setuju bahwa modernisasi menekankan adanya proses perubahan dari tradisional ke modern karena kita tidak dapat menahan arus globalisasi yang telah masuk kesetiap elemen kehidupan kita sehingga tidak dapat dipungkiri komodifikasi islam dapat terjadi pada pendidikan pesantren. Akan tetapi, penulis tidak setuju pada tulisan Bosetti, karena pada konteks Indonesia di perkotaan, sekolah yang berbasiskan agama cenderung diisi oleh masyarakat kelas atas. Oleh karena itu, berdasarkan uraian diatas, sejumlah pertanyaanpun muncul. Pertanyaan tersebut terutama mengacu bukan saja pada faktor-faktor apa saja yang membuat Pesantren Modern semakin meningkat jumlahnya, tetapi juga beraitan dengan peran Pesantren Modern ditengah perubahan sosial yang terjadi termasuk mengenai semakin trelihatnya gap ataupun kelas sosial yang terjadi dalam Pesantren sehingga dampak yang terjadi hanya golongan tertentu yang dapat mengakses Pesantren tersebut.

Dalam studi ini peneliti memiliki argumen yaitu dibukanya Pesantren Modern yang merupakan cabang dari sekolah tertentu yang sudah ternama sehingga hal ini merupakan suatu bentuk komodifikasi Pendidikan Keislaman. Selain itu, pendidikan Pesantren Modern yang memiliki kemajuan IPTEK yang membutuhkan materi ekonomi tinggi sehingga santri yang bersekolah di pesantren ini berasal dari kelas sosial menengah keatas. Kemudian pada Pesantren Modern seleksi penerimaan santri dilakukan secara ketat dan telah menetapkan biaya pendidikan yang setiap tahunnya mengalami kenaikan sehingga Pesantren Modern semakin sulit diakses oleh kelas sosial bawah.

Metodologi

Pada studi ini metode yang dipilih adalah metode penelitian kualitatif. Pada penelitian ini peneliti berusaha memahami, mengeksplor mengenai objek yang akan diteliti secara mendalam. Melalui pendekatan ini, peneliti akan melihat perubahan sosial yang terjadi akibat adanya suatu fenomena yang dapat menyebabkan suatu perubahan di masyarakat. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan dapat menjelaskan dan memberikan gambaran secara mendalam mengenai sistem pendidikan pondok pesantren di era modernisasi.

Teknik pengumpulan data yang dilakukan pada studi ini dengan cara observasi langsung dan wawancara mendalam serta data sekunder untuk menambah informasi dari informan yang berguna untuk menjawab dan mendukung argumen yang telah ditulis peneliti. Pondok Pesantren Al- Adzkar yang berada di Jl. Pinang RT 02/014 Pamulang Timur, Tangerang Selatan 15417 ini dipilih sebagai objek penelitian ini. Informan pada penelitian ini adalah Pengelola Yayasan (Kyai), Kepala Sekolah MTs, Kepala Sekolah MA, Ustadz dan Ustadzah serta beberapa orangtua santri. Dalam penelitian ini, penulis melakukan strategi validitas data dengan cara melakukan triangulasi data untuk memvalidasi jawaban dari informan melalui analisa data sekunder serta data primer yang dilakukan dengan melakukan indepth interview bersama informan lain.

Kerangka Konsep

Pesantren

Secara umum Pondok Pesantren didefinisikan sebagai lembaga pendidikan yang memiliki 5 elemen pokok; (1) Pondok/Asrama: adalah tempat tinggal bagi para santri. Pondok inilah yang menjadi ciri khas dan tradisi pondok pesantren dan membedakannya dengan sistem pendidikan lain yang berkembang di Indonesia, (2) Masjid: merupakan tempat untuk mendidik para santri terutama dalam praktek seperti shalat, pengajian kitab klasik, pengkaderan kyai, dll, (3) Pengajaran kitab-kitab klasik: merupakan tujuan utama pendidikan di pondok pesantren, (4) Santri: merupakan sebutan untuk siswa/murid yang belajar di pondok pesantren, dan (5) Kyai: merupakan pimpinan pondok pesantren. Kata kyai sendiri adalah gelar yang diberikan masyarakat kepada seorang ahli agama Islam yang menjadi pimpinan pesantren dan mengajarkan kitab-kitab klasik. (Pendidikan Islam Kementerian Agama 2012)

Modernisasi

Modernisasi merupakan sebuah perubahan dari suatu arah ke arah lain yang lebih maju atau meningkat di berbagai aspek dalam kehidupan. Singkatnya, modernisasi adalah sebuah proses perubahan dari cara tradisional ke cara baru yang lebih maju, yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat (Sztompka, 2004 dalam Rosana 2011). Selain itu (Moore, 1965 dalam Rosana 2011) menjelaskan bahwa modernisasi merupakan sebuah perubahan yang terjadi secara signifikan dikehidupan dari masa tradisional atau pra moderen baik secara teknologi hingga organisasi sosial, menuju ke arah pola yang ekonomis dan politis sebagai ciri negara barat yang stabil.

Ekslusi Sosial

Eksklusi sosial merujuk pada proses dinamis tersingkirnya atau tertutupnya  (secara penuh maupun sebagian) seseorang dari sistem sosial, ekonomi, politik atau budaya yang menentukan integrasi sosial dirinya dalam kehidupan masyarakat (Byrne, 2005). Ketidakadilan distribusi sosial ekonomi dan kemiskinan sangat berkaitan erat, hal ini terlihat masih banyaknya jumlah golongan miskin atau masyarakat yang berada kelas sosial yang rendah tidak dapat mendapatkan kesempatan dan akses yang setara dengan angota masyarakat lain. Sehingga lapisan SSE paling rendah (golongan paling miskin) semakin tidak mendapatkan kesempatan dan akses untuk mendapatkan fasilitas kebutuhan hidup yang paling mendasar seperti pendidikan dan kesehatan. Kesenjanganpun semakin terlihat ketika kesempatan dan akses untuk memenuhi kebutuhan mendasar antara lapis SSE paling tinggi dengan lapisan SSE paling rendah pasti akan lebih mudah didapati oleh lapis SSE yang paling Tinggi (Seda, Francisia SSE 2007)

Kelas Sosial

Kelas sosial dapat diartikan sebagai “stratifikasi sosial atau tingkatan yang hampir homogen dan bertahan lama dalam kehidupan masyarakat, yang tersusun secara bertingkat/  berhierarki serta memiliki anggota yang berbagi nilai, minat dan perilaku yang sama” (Kotler dan Keller, 2009). Selain itu, Weber juga mengartikan kesempatan hidup sebagai “...their opportunities to provide themselves with material goods, positive living conditions, and favorable life experiences”(Gerth dan Mills, 1958 dalam Pattinasarany, 2016). Weber juga melihat bahwa kelas berhubungan erat dengan kesempatan hidup seseorang. Masyarakat yang menduduki kelas sosial yang lebih tinggi memiliki kesempatan hidup yang lebih tinggi pula dan juga dapat memperoleh akses yang lebih besar, dan sebaliknya bagi masyarakat dengan kelas sosial yang lebih rendah.

Sosiolog Warner, membuat klasifikasi komunitas dalam tiga kelas, yaitu atas, tengah, dan bawah. Kemudian ia membagi lagi ketiga kelas tersebut menjadi atas dan bawah, sehingga terdapat enam kelas yang terdiri dari strata atas-atas, atas-bawah, tengah-atas, tengah-bawah, bawah-atas, dan bawah-bawah. Tabel 1.1 di bawah ini memperlihatkan stratifikasi 6 kelas Warner berserta deskripsi pekerjaan dalam setiap kelas.

Tabel 1.1.

Kelas Sosial W. Lloyd Warner

No Kelas Sosial Deskripsi

1 Atas-atas Orang-orang kaya lama

2 Atas-bawah Orang-orang yang menjadi kaya karena usaha sendiri selama hidupnya

3 Tengah-atas Profesional dengan penghasilan besar, seperti dokter, pengacara, kaum eksekutif perusahaan

4 Tengah-bawah Profesional dengan penghasilan yang lebih rendah, tetapi bukan tenaga kerja manual, seperti polisi, pekerja perusahaan non-manajerial, pemilik usaha skala kecil

5 Bawah-atas Disebut sebagai “kelas pekerja” yang terdiri dari pekerja kerah biru dan pekerja manual

6 Bawah-bawah Pengangguran, gelandangan, dan pekerja miskin

Sumber: Warner et.al, 1949 dalam Pattinasarany, 2015.

Tidak berbeda jauh dengan Warner, Lembaga BCG Perspectives juga mengklasifikasikan kelas sosial menjadi 6 kelompok berdasarkan pengeluaran setiap bulan yang dilakukan diantaranya sebagai berikut:

Tabel 1.2

Kelas Sosial Menurut BCG

Kelas Sosial Pengeluaran

Atas-atas lebih besar dari Rp 7.500.000

Atas-bawah Rp 5.000.001 - Rp 7.500.000

Tengah-atas Rp 3.000.001 - Rp 5.000.000

Tengah-bawah Rp 2.000.001 - Rp 3.000.000

Bawah-atas Rp 1.000.001 Rp 2.000.000

Bawah-bawah lebih kecil dari Rp 1.000.000

Sumber: BCG Perspective

Komodifikasi Islam

Kitiarsa (2008) mengidentifikasikan komodifikasi sebagai suatu upaya untuk mengubah agama menjadi menjadi barang yang dapat dijual, sehingga menjadikan agama ke dalam berbagai skala atau tingkatan untuk bertransaksi di pasar. Agama akan menjadi komoditas jika agama telah dijadikan sebagai barang untuk diperjualbelikan. Fealy (2008 dalam Anis 2013) juga mengatakan Meningkatnya komodifikasi Islam secara umum disebabkan oleh perubahan teknologi dan kondisi sosial ekonomi beberapa puluh tahun terakhir ini yang mendorong maraknya pencarian kepastian moral, kekayaan spiritual dan kesalihan identitas.

Temuan dan Analisa

Gambaran Umum Pondok Pesantren Al- Adzkar

Pesantren Al-Adzkar merupakan Modern Islamic Boarding School, pesantren Al-Adzkar memiliki visi dan misi sebagai berikut

“Terwujudnya pesantren Al-Adzkar yang modern, unggul dalam ilmu keislaman, pengetahuan umum dan teknologi, serta mengedepankan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris dalam berkomunikasi”.  (Visi Pesantren Al-Adzkar)

 “Mengajarkan ilmu keislaman, pengetahuan umum, dan teknologi secare terpadu; Menyelenggarakan pendidikan tahsin dan tahfizh Al-Qur'an, serta Bahasa Arab dan Bahasa Inggris secara berkesinambungan; Menanamkan kecintaan beribadah, akhlaqul karimah, hidup mandiri, sederhana, dan disiplin; serta menyelenggarakan pendidikan pesantren yang sehat, bersih, tertib, dan nyaman.” (Misi Pesantren Al-Adzkar)

Pondok Pesantren Al-Adzkar ini mulai berdiri sejak tahun 2012, keberadaan Pondok Pesantren Al-Adzkar belum lama hal ini dijelaskan dalam wawancara yang dilakukan kepada pengelola yayasan sebagai berikut:

“ Pesantren ini sekarang tahun ke-5, mulai tahun ajaran 2012/2013. pindah ke bangunan yang disini itu tahun ketiga, tahun pertama dan tahun kedua bangunannya masih gabung dengan SD karena masih sedikit muridnya” (Wawancara dengan A, Pengelola Yayasan, 10 Agustus 2016)

Dengan mengusung pendidikan yang modern seperti yang telah tertuang dalam visi dan misinya.  Selain itu pesantren  Al- Adzkar memiliki 5 elemen pokok sesuai dengan yang dijelaskan oleh Pendidikan Islam Kementerian Agama yaitu (1) Pondok/Asrama: Pesantren Al-Adzkar memiliki pondok yang terbagi menjadi dua untuk asrama laki-laki dan asrama putri  (2) Masjid: Pesantren Al-Adzkar juga memiliki dua tempat ibadah untuk membatasi antara santri putra dan putri, (3) Pengajaran kitab-kitab klasik: Pada pondok pesantren Al-Adzkar mempelajari 4 kitab , (4) Santri: Pondok Pesantren memiliki santri perempuan dan laki-laki sebanyak 225 santri untuk tingkat MTs (5) Kyai: Pondok Pesantren Al-Adzkar memiliki figur atau sosok Kyai yaitu Ustad Ali.

Pesantren yang mengusungkan Modern Islamic Boarding School ini telah melakukan terobosan dengan mengikuti perkembangan zaman. Modernisasi yang dimaksud ialah sebuah proses perubahan dari cara tradisional ke cara baru yang lebih maju, yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hal ini juga dilakukan oleh Pondok Pesantren Al-Adzkar, terbukti dengan hasil wawancara yang dilakukan dengan Pengelola Yayasan Pesantren Al-Adzkar sebagai berikut:

“Pesantren dulu kan tradisional atau yang biasa dibilang salafi, berikutnya juga ada pesantren modern. penggagasnya juga kan pesantren gontor, dalam perkembangannya sudah ada perkembangan lagi. dan pesantren modern itu dimulai dari gontor. kalo di gontor itu modernnya ini sepengathuan saya saja, dulu pesantren kan ga ada sekolah formalnya nah sekarang udah ada sekolah formalnya, nah disitu menjadi modern di era itu sekitar tahun 1920-an kan gontor mulai berdiri itu sekitar 1926 ya jadi ditahun itu gontor sudah modern ditahun, nah kalau tahun sekarang sudah dikembangan lagi anaknya gontor itu darunnajah. nah darunnajah itu sudah mengembangkan yang dari gontor ........  Kita juga tidak membatasi diri dengan apa yang perkembanngan  diluar, tapi kita saring. dan kita sebisa mungkin dipesantren tekankan pada anak itu di pesantren dengan tertutup tapi memberikan kesempatan ke santri untuk mengakses informasi dari luar. biasanya kan kalo pesantren tradasional kan membatasi ruang gerak santrinya, tapi di pesantren modern tidak begitu.” (Wawancara dengan A, Pengelola Yayasan, 10 Agustus 2016)

Meskipun Pondok Pesantren Al-Adzkar mengusung konsep keikhlasan, akan tetapi dengan perubahan sosial yang membutuhkan ekonomi yang terus naik. Sehingga kesenjanganpun semakin terlihat ketika kesempatan dan akses untuk memenuhi kebutuhan mendasar antara lapis SSE paling tinggi dengan lapisan SSE paling rendah pasti akan lebih mudah didapati oleh lapis SSE yang paling Tinggi. Hal ini juga terlihat di pesantren Al-Adzkar yang biaya setiap tahunnya mengalami kenaikan sehingga masyarakat kelas bawah sulit untuk mengakses. Hal ini terbukti dari wawancara yang dilakukan kepada Pengelola Yayasan sebagai berikut:

“ kalo tahun pertama biaya masuk 3000000 biaya bulanannya 600000, tahun kedua biaya masuk 4000000 biaya bulanannya 700000, tahun ketiga biaya masuk 5000000 bulanannya 800000, tahun keempat biaya masuk 7000000 bulanannya 850000, tahun kelima biaya masuk 9500000 bulanannya 900000.” (Wawancara dengan A, Pengelola Yayasan, 10 Agustus 2016)

Dengan pengeluaran yang cukup mahal setiap bulannya, hal ini memacu orang tua untuk bekerja lebih giat karena biaya yang dikeluarkan tidaklah murah. Oleh karena itu orangtua santri yang menyekolahkan anaknya di pondok pesantren tergolong cukup elite, terlebih pekerjaan yang dilakukan orang tua santri bukanlah pekerjaan yang berpenghasilan rendah. Salah satu contohnya orang tua santri yang merupakan dari golongan elite sebagai berikut:

“Namanya juga pegawai negeri sipil, orang bisa ngitug kan.. golongan 4A berapa ya kan.. dengan tambah sertifikasi ya sekitar 8 jutaan tante doang belom ditambah om sih itu.. ya kalo digabung mah bisa 15 jutaan lebih lah ya” (Wawancara dengan E, Orangtua santri, 10 Agustus 2016)

Kitiarsa (2008) menjelaskan bahwa, komodifikasi berarti komodifikasi sebagai suatu upaya untuk mengubah agama menjadi menjadi barang yang dapat dijual, sehingga menjadikan agama ke dalam berbagai skala atau tingkatan untuk bertransaksi di pasar. Hal ini juga terbukti dari observasi yang dilakukan, karena Pesantren Al-Adzkar berdiri dari sebuah yayasan Al-Adzkar yang memiliki TK Islam, SD Islam, MTs, dan MA. Yang membuat yayasan mengembangkan keberbagai tingkatan pendidikan, serta tidak menutup kemungkinan akan mendirikan Sekolah Tinggi ataupun Institut.

Kesimpulan

Setelah dilakukannya analisa pada temuan temuan diatas, penulis beranggapan bahwa. Argumen yang diajukan peneliti sebelumnya mengenai Pesantren Modern yang merupakan cabang dari sekolah tertentu yang sudah ternama sehingga hal ini merupakan suatu bentuk komodifikasi Pendidikan Keislaman. Komodifikasi ini terbukti dari yayasan Al-Adzkar yang merambah keberbagai tingkat pendidikan disetiap beberapa tahunnya dengan memperjual belikan Keislaman atau label Islam.

Selain itu, pendidikan Pesantren Modern yang memiliki kemajuan IPTEK yang membutuhkan materi ekonomi tinggi sehingga santri yang bersekolah di pesantren ini berasal dari kelas sosial menengah keatas merupakan argumen kedua yang peneliti ajukan. Hal ini terbukti dari biaya pendidikan yang setiap tahunnya mengalami kenaikan sehingga Pesantren Modern semakin sulit diakses oleh kelas sosial bawah.

Saran yang dapat diberikan oleh peneliti adalah pendidikan yang Islam yang Modern seharusnya dapat pula menyerap konsep keikhlasan yang dilakukan oleh pendidikan Islam yang Tradisional. Sehingga masyarakat dari berbagai kalangan dapat pula mengakses pendidikan Islam yang Modern. Sepertinya peran pemerintah juga diperlukan dalam menjalankan pendidikan Islam yang Modern agar dapat menurunkan biaya pendidikan Islam yang Modern.

Daftar Pustaka

Anis, Elis Z. (2008). Islam Ala Iklan Komodifikasi Identitas Keislaman Dalam Iklan Di Televisi Indonesia. Yogyakarta: Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Bosetti, Lynn. (2004). Determinants of school choice: Understanding how parents choose elementary schools in Alberta. Okanagan: Journal of Education Policy 19(4):387-405

Bryne, David. (2005).Social Exclusion. United Kingdom: McGraw-Hill Education

Chamid, Abu. (2008). Transformasi Kurikulum Pesantren Studi Kasus: Pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak. Semarang: Institut Agama Islam Negeri Walisongo

Creswell, John W. (2002). Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches (2nd ed.). California: Sage Publications, Inc.

Fikriyati, Umi Najikhah. (2007). Tradisi Pesantren ditengah Perubahan Sosial Studi Kasus: Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta. Yogyakarta: Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Hasibuan, Riadul Muslim. (2013). Sistem Pendidikan Pondok Pesantren  Salafiyah di Eraa Modern Studi Kasus: Pergumulan Antara Tradisionalisme Dan Modernisasi Dalam Sistem Pendidikan Pondok pesantren Syekh Muhammad Dahlan Aek Hayauara Sibuhuan Kabupaten Padang Lawas Provinsi Sumatera Utara. Riau: Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Jati, Wasisto Raharjo. (2015). Islam Populer Sebagai Pencarian Identitas Muslim Kelas Menegah Indonesia. Jakarta: Pusat Penelitian Politik LIPI Jakarta Teosofi: Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam Volume 5, Nomor 1

Kotler, P., & Keller, K. L. (2009). Marketing management. Upper Saddle River, N.J: Pearson Prentice Hall.

Ma'shum,Saifullah. (1998). Dinamika Pesantren: Telaah Kritis Keberadaan Pesantren Saat ini. Depok: Yayasan Islam al-Hamidiyah.

Noor, Muhammad. (2010). Tradisi Pesantren Ditinjau dari Aspek Manajemen.

Riau: Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Nur'aeni, Zaki. (2005). Daarut Tauhiid: Modernizing a Pesantren Tradition. Studia Islamika: Indonesian Journal for Islamic Volume 12, Nomor 3

Pattinasarany, Indera Ratna Irawati. (2016). Stratifikasi dan Mobilitas Sosial. Yayasan Obor.

Rosana, Ellya. (2011). Modernisasi dan Perubahan Sosial. Lampung:  Jurnal TAPIs Vol 7 No. 12

Seda, Francisia SSE. (2007). Persoalan Disparitas Sosial dan Proses Eksklusi Sosial. Depok: Lab Sosio Universitas Indonesia

Sukandi. (2012). Lahir dan Perkembangan Pesantren Al-Basyariyah di Bandung. Bandung: Universitas Padjajaran.

Widyarini. (2014). Pengaruh Persepsi Biaya, Lokasi, Fasilitas, Lingkungan, Figur Pengasuh, dan Metode Belajar Terhadap Kepuasan Santri Tinggal di Pondok Pesantren. Yogyakarta.: Jurnal Az-Zarqa' Vol. 6 No. 1

“Analisis dan Interpretasi Data pada Pondok Pesantren, Madrasah Diniyah (Madin), dan Taman Pendidikan Qur'an (TPQ) Tahun Pelajaran 2011- 2012”, http://pendis.kemenag.go.id/file/dokumen/pontrenanalisis.pdf, diakses pada tanggal 01 Agustus 2016 pukul 08.25.

“Indonesia's Rising Middle-Class and Aflluent Consumers”, https://www.bcgperspectives.com/content/articles/center_consumer_customer_insight_consumer_products_indonesias_rising_middle_class_affluent_consumers/?chapter=7#chapter7  diakses pada 09 Agustus 2016 pukul 19.20

...(download the rest of the essay above)

About this essay:

This essay was submitted to us by a student in order to help you with your studies.

If you use part of this page in your own work, you need to provide a citation, as follows:

Essay Sauce, . Available from:< https://www.essaysauce.com/essays/marketing/2016-8-16-1471366306.php > [Accessed 23.10.19].