Judul : Analisis Perubahan Morfologi Longsorlahan Menggunakan teknik Structure from Motion di Dusun Kalisari, Salaman, Magelang
Kata Kunci : Unmanned Aerial Vehicle (UAV), Data Digital Elevation Model (DEM), Longsor, Perubahan Morfologi
1. Tinjauan Pustaka
a. Geomorfologi
Geomorfologi adalah ilmu dalam bidang kebumian yang menjelaskan mengenai suatu bentukan di permukaan bumi (Harvey, 2012) dan berfokus juga pada proses yang menyebabkan terbentuknya suatu bentuklahan tersebut (Summerfield, 1991). Objek kajian dalam geomorfologi tidak hanya terbatas pada kenampakan di permukaan bumi, namun juga mengkaji pada kenampakan di suatu badan air (dan dibawah permukaan air) maupun di planet lainnya (Goudie, 2004). Kajian dalam konteks geomorfologi memfokuskan pada hubungan antara suatu bentukan lahan dengan proses yang masih berjalan ataupun proses yang membentuk suatu bentukan lahan tersebut. Konteks kajian dalam geomorfologi juga berfokus terhadap kejadian masa lampau untuk memahami proses terbentuknya maupun perkembangan suatu bentukan lahan (Hugget, 2011 ; Summerfield, 1991). Menurut Huggett (2011) sekarang ini terdapat beberapa pendekatan yang digunakan untuk mengkaji bentukan lahan yaitu
• Proses-respon atau pendekatan fungsional yang dibangun berdasarkan karakteristik fisik maupun kimia
• Evolusi bentuk lahan yang memiliki keterkaitan dengan sejarah geologi
• Karakterisasi bentuk lahan dan sistemnya
• Pendekatan kelingkungan
Perkembangan ilmu geomorfologi sekarang sudah luas dan menghasilkan beberapa cabang ilmu terapan maupun bersinggungan dengan ilmu ilmu lainnya (Goudie, 2004). Fokusan dalam ilmu geomorfologi sekarang juga berupa permodelan bentuk lahan yang digunakan dalam mendefinisikan ataupun memprediksikan kejadian yang akan datang seperti longsorlahan, banjir, dan perubahan jangka panjang (Strahler, 2010). Kajian mengenai geomorfologi modern lebih cenderung membahas mengenai konteks kebencanaan yang mungkin dihasilkan oleh hasil aktivitas geomorfik (Huggett, 2011). Menurut Verstappen (2014) terdapat empat aspek dasar dalam kajian geomorfologi yaitu
• Geomorfologi Statik, yang membahas mengenai bentuk lahan yang ada dan terdapat
• Geomorfologi Dinamik, yang membahas mengenai perubahan dalam jangka pendek pada suatu bentuklahan
• Geomorfologi Genetik, yang membahas mengenai proses terbentuknya suatu bentuk lahan atau bahasan mengenai perubahan dalam jangka panjang dalam suatu bentuk lahan
• Geomorfologi Lingkungan, yang membahas mengenai keterkaitan antara geomorfologi dengan aspek ekologi di lingkungan
Aspek geomorfologi dalam konsep teknis penyusunan peta geomorfologi dirumuskan oleh Zuidam (1983) yaitu berupa
• Morfologi, yang membahas mengenai deskrisp bentukan lahan di permukaan bumi, dan masih terbagi menjadi dua yaitu morfometri (deskripsi secara kuantitatif) dan morfografi (deskripsi secara kualitatif)
• Morfogenesis, yang membahas mengenai asal dan proses yang membentuk suatu bentukan lahan. Tenaga yang menjadi asal dan proses ini berupa tenaga eksogen dan endogen
• Morfokronologi, yang membahas mengenai tahapan terbentuknya suatu bentukan lahan melalui karakteristik umur relatif maupun absolut yang ditemukan
• Morfoaransemen, yang membahas antara hubungan bentukan proses geomorfologi yang terjadi dengan kondisi aspek lingkungan
b. Perubahan Morfologi
Evolusi geomorfologi adalah pengertian mengenai perubahan dari suatu bentukan lahan sepanjang waktu. Kajian evolusi geomorfologi merupakan gabungan dari kajian sejarah evolusi dan fungsi geomorfologi. Aspek matematis dan permodelan telah memudahkan dalam pengamatan studi geomorfologi dalam skala kecil (Goudie, 2004). Terjadinya proses perubahan geomorfologi dapat disebabkan oleh beberapa hal yaitu seperti adanya tenaga tektonisme (Ntokos, 2018;Kirkby, 1971), vulkanisme (SUMBER), erosi-sedimentasi (sumber), dan longsorlahan
Contoh dari bentuk evolusi geomorfologi ini ialah berupa perubahan lereng akibat longsor, perubahan bentuk pantai akibat proses erosi – sedimentasi (Cendrero dan Dramis, 1996;Gallo, et al, 2014). Menurut Huggett (2011) proses evolusi geomorfologi ini dapat dianggap sebagai suatu sistem geomorfologi yang menyebabkan proses terbentuknya suatu struktur. Hungr, et al (2014) menjelaskan perubahan geomorfologi dapat terjadi dalam tingkat yang lambat yang terjadi dalam waktu yang lama, sehingga menyebabkan adanya perubahan bentuk lereng.
Gambar 1.3 Contoh perubahan morfologi pada suatu lereng
Sumber : Huggett, 2011
Pengukuran dalam perubahan morfologi mengalami perkembangan dalam instrumen yang digunakan dan terkait dengan analisis geomorfometri. Menurut Pike, Evans, dan Hengl (2009) pengukuran perubahan morfologi pada awalnya dilakukan dengan melakukan analisis kenampakan kontur yang kemudian dikembangkan perhitungan secara matematis oleh Charles Mason (seorang astronomer inggris). Perkembangan awal dalam analisis ini masih terkait pada kenampakan yang ada diatas permukaan bumi dengan mengembangkan analisis secara matematis dengan menggunakan garis kontur. Pengembangan dengan menggunakan peralatan mulai dikembangkan sejak perang dunia ke-dua. Analisis mengenai perubahan perubahan mulai sejak tahun 1960-an yang diiringi pula dengan kedatangan teknologi komputer (Pike, Evans, dan Hengl 2009). Pengamatan perubahan morfologi pada suatu lokasi dapat diamati dengan menggunakan pendekatan geomorfometri (SUMBER CARI)
c. Geomorfometri
Gambar 1.1 Turunan ilmu geomorfometri dan asal ilmu geomorfometri
Sumber : Pike, Evans, dan Hengl, 2009
Geomorfometri adalah sebuah ilmu yang mempelajari mengenai bentukan lahan yang di kuantifikasi (Pike, Evans, dan Hengl, 2009). Ilmu ini terkait dengan aspek morfologi yang ada di dalam aspek geomorfologi oleh Zuidam (1983), sehingga dapat dikatakan ilmu ini merupakan turunan dari pembahasan geomorfologi (Pike dan dikau, 1995). Objek kajian dalam ilmu geomorfometri ialah pada kenampakan permukaan bumi yang ditampilkan dengan menggukan data DEM (Pike, Evans, dan Hengl, 2009). Data DEM sendiri telah banyak digunakan sebagai masukan dalam proses analisis geomorfometri (Allder, et al, 1982). Umumnya proses pengolahan data geomorfometri dilakukan dengan lima tahapan sebagai berikut (Pike, Evans, dan Hengl, 2009).
Gambar 1.2 Proses pengolahan Geomorfometri
Sumber : Pike, Evans, dan Hengl, 2009
Analisis geomorfometri didasarkan pada perhitungan ketinggian suatu bentuk lahan, yang kemudian dapat dikembangkan lebih lanjut dan menjadi analisis yang lebih spesifik, misal nya kemiringan lereng (Goudie, 2004). Penggunaan geomorfometri berguna dalam melakukan pemetaan maupun permodelan kenampakan di permukaan bumi (Hengl dan MacMillan, 2009). Salah satu contoh penggunaan geomormetri ialah dalam melakukan analisis perubahan geomorfologi. Perubahan geomorfologi dalam geomorfometri diamati melalui perbedaan nilai antara dua data DEM pada waktu yang berbeda (Evans, et al, 2009).
Parameter pengukuran yang terdapat dalam ilmu geomorfometri ialah terkait dengan karakteristik morfologi pada suatu permukaan tanah, yang umumnya merupakan karakteristik morfometri (Pike, Evans, dan Hengl, 2009). Olaya (2009) menjelaskan parameter dalam geomorfometri merupakan informasi yang dapat didapatkan secara langsung melalui pengamatan data DEM. Beberapa parameter dalam pengamatan geomorfometri dapat bersifat lokal maupun regional. Parameter lokal dapat disebutkan sebagai karakteristik yang dihitung melalui kondisi pada setiap pixel, sedangkan parameter regional lebih mengarah kepada relasi antara pixel dan hal yang tidak tetap disekitar pixel (Olaya, 2009). Tabel 1.1 berikut menjelaskan mengenai parameter bentuklahan lokal dan regional dalam geomorfometri
Tabel 1.1 Beberapa parameter bentuklahan dalam geomorfometri
Parameter bentuklahan Tipe Penjelasan
Lereng Lokal Laju perkembangan
Aspek Lokal Arah laju perkembangan
Kecembungan Lokal Mekanisme akumulasi pertama
Profil kecembungan Lokal Mekanisme akumulasi kedua
Area tangkapan Regional Besaran laju aliran
Hipsometri Regional Persebaran nilai ketinggian
Ketinggian tangkapan Regional Karakteristik laju aliran
Insolasi Regional/lokal Intensitas radiasi matahari
Visual Exposure Regional Lokasi yang terlihat
Kekasaran Lokal Kompleksitas medan
Sumber : Olaya, 2009
d. Longsorlahan
Longsoradalah semua gerakan perpindahan massa atau massa diatas permukaan bumi yang menuruni suatu lereng akibat tenaga tertentu. Material longsor dapat berupa tanah, batuan, debris, dan material organik (Cornfoth, 2005). Adanya proses longsor dapat menyebabkan terjadi perubahan suatu bentuk morfologi lereng tempat terjadinya proses longsor (Cornfoth, 2005; Stumpf, dkk, 2014). Pergerakan longsor dapat terjadi secara sesaat dikarenakan adanya ketidakseimbangan lereng, dan kejadian longsor merupakan kejadian yang menyebabkan suatu lereng menjadi stabil. Proses longsor dapat dimulai dengan muncul tanda crack pada bagian lereng atau gerakan creep pada tanah (Goudie, 2004).
Hasil dari proses longsor yang terjadi akan menghasilkan bentukan yang khas pada permukaan bumi (Cornfoth, 2005). Pemahaman mengenai bagian longsor akan memudahkan dalam melakukan analisis mengenai perubahan yang terjadi longsor. Menurut the Canadian Geotechnical Society bagian dan dimensi longsor dapat dibagi menjadi berikut
Gambar 1.5 a.) bagian longsor b.) dimensi longsor
Sumber : the Canadian Geotechnical Society, 2013
Indikator morfologi yang dapat berubah akibat gerakan longsor ialah mengenai panjang lereng, kemiringan lereng, dan bentuk lereng. Kejadian longsor sendiri dapat memiliki bentuk morfologi tersendiri. Morfologi longsor tergambar melalui bagian longsor (Cornfoth, 2005). Perhitungan dalam longsor dapat berupa perhitungan laju perubahan lereng, dimensi longsor, indeks kekasaran, indeks kecembungan (Olaya, 2009;Lucieer, dkk, 2014;Stumpf, dkk, 2014;Giordan, dkk, 2013). Densmore dan Hovius (2000) dalam Pike, Evans, dan Hengl (2009) menjelaskan pengamatan morfologi longsor dapat menggunakan analisis geomorfometri dan interpretasi foto udara. Indikator yang dapat diamati dengan geomorfometri ialah mengenai volumetric, kekasaran, kecembungan, dan sebagainya (Evans, et al, 2009)
Klasifikasi longsor dapat ditentukan berdasarkan proses pergerakan yang terjadi, material yang mengalami pergerakan, dan kecepatan perpindahan (Hungr, et al 2014). Klasifikasi tipe longsor pertama diusulkan oleh Varnes (1978), yang membagi longsoran secara umum berdasarkan cara pergerakan dan material, dan didapatkan sebanyak 29 klasifikasi. Tabel klasifikasi Varnes (1978) dapat dilihat pada tabel 1.2 berikut. Hungr, et al (2014) melakukan modifikasi klasfikasi longsor tersebut, sehingga terdapat penambahan menjadi 32 klasifikasi. Modifikasi ini digunakan untuk memudahkan dalam mengakomodasi hal kompleks yang masih dapat dijelaskan, maupun mengakomodasi perbedaan definisi tanah dan batuan antara bidang geoteknik dan geologi (Hungr, et al, 2014). Klasifikasi modifikasi hungr, et al (2014) dapat dilihat pada tabel 1.2. berikut
Tabel 1.2 Klasifikasi pergerakan longsor Varnes (1978)
Jenis gerakan Tipe gerakan
Bedrock Tanah
Jatuhan Rockfall Soilfall
Sedikit Rotational Slump Planar
Block Glide Planar
Block Glide Rotational
Block Slump
Luncuran Debris Slide Lateral Spreading
Banyak Rockslide
Material
Pecahan batu Pasir Debut Gabungan Lempung
Kering Aliran pecahan batu Sandrun Loess flow
Aliran Aliran lahan yang cepat Debris Avalanche Aliran yang lambat
Basah Aliran pasir atau debut Aliran debris Aliran lumpur
Kompleks Kombinasi dari tipe pergerakan
Sumber : Varnes, 1978
Tabel 1.3 Klasifikasi Longsor Modifikasi Varnes (1978) oleh Hungr, et al (2014)
Jenis Gerakan Batuan Tanah
Jatuhan Jatuhan Batu/Es Jatuhan debris/silt/Boulder
Topple Rock Block Topple Gravel/Sand/Silt Topple
Rock Flexural Topple
Slide Rock Rotational Slide Clay/Silt Rotional Slide
Rock Planar Slide Clay/Silt Planar Slide
Rock Wedge Slide Gravel/Sand/Debris Slide
Rock Compound Slide Clay/Slit Compound Slide
Rock Irregular Slide
Spread Rock Slope Spread Sand/Silt Liquefaction Spread
Sensitive Clay Spread
Flow Rock/Ice Avalanche Sand/Silt/Debris dry flow
Sand/Silt/Debris Flowside
Sensitive Clay Flowside
Debris Flow
Mud Flow
Debris Flood
Debris Avalanche
Earthflow
Peatflow
Slope deformation Mountain slope deformation Soil Slope deformation
Rock slope deformation Soil Creep
Soilfluction
Sumber : Hungr, et al, 2014
Gambar 1.6 Klasifikasi Pergerakan longsor
Sumber : Hungr, et al, 2014
Penyebab longsor secara umum ialah adanya kegagalan pada lereng. Van Westen, dkk (2008) menjabarkan faktor dalam penyebab longsor terbagi menjadi faktor lingkungan (batuan, tanah, morfologi, geomorfologi, dan penggunaan lahan) dan faktor pemicu (gempa bumi, cuaca, aktivitas manusia, dan perubahan muka airtanah). Cornfoth (2005) menjelaskan jika penyebab terjadinya longsor ialah berupa curah hujan, airtanah, pelapukan tanah, pemotongan lereng, gempa bumi (tenaga tektonik, maupun vulkanik). Proses yang terjadi pada longsoran saling berkaitan dan dapat ditentukan oleh faktor yang dominan.
Longsor dapat berubah menjadi tidak aktif atau dorman apabila tidak ditemukan adanya aktivitas selama 12 bulan terakhir (Goudie, 2004). Reaktivasi longsor merupakan kejadian dari terdapatnya aktivitas pada longsor yang dorman. Hal tersebut dapat disebabkan oleh beberapa kondisi seperti curah hujan, adanya gempa bumi, aktivitas manusia, dan pergerakan airtanah (Rosone, dkk, 2018) yang menyebabkan kondisi longsoran lama menjadi tidak stabil. Pergerakan longsor lama dapat terjadi secara lambat dan membentuk gerakan creep pada tanah (Massey, dkk, 2013). DIKEI GAMBAR. The Canadian Geotechnical Society (1993) menjelaskan terdapat 8 kondisi keaktifan longsorlahan yang berupa sebagai berikut
1. Longsor aktif : merupakan sebutan untuk longsor yang masih aktif bergerak
2. Longsor terhenti : sebutan untuk longsor yang mengalami pergerakan selama 12 bulan terakhir, namun tidak aktif pada kurang lebih 1 bulan terakhir
3. Longsor yang aktif kembali (reaktivasi) : merupakan sebutan untuk longsor tidak aktif yang menjadi aktif akibat proses tertentu
4. Longsor tidak aktif : sebutan untuk longsor yang tidak mengalami pergerakan selama 12 bulan terakhir
5. Longsor dorman : sebutan untuk longsor tidak aktif yang dapat reaktivasi kembali oleh penyebab longsoran
6. Longsor yang ditinggalkan : sebutan untuk longsor tidak aktif yang tidak lagi terpengaruh oleh penyebab awalnya
7. Longsor yang stabil : sebutan untuk longsor tidak aktif yang telah dilakukan pemeliharan supaya tidak terjadi longsor kembali
8. Longsor relict : merupakan sebutan untuk longsor tidak aktif yang telah berkembang akibat pengaruh cuaca maupun faktor geomorfik yang berbeda saat terjadi longsoran.
Gambar 1.6 Kondisi keaktifan longsor
Sumber : The Canadian Geotechnical Society, 1993
The Canadian Geotechnical Society (1993) juga membagi tingkat distribusi keaktifan longsor berdasarkan pergerakan materialnya. Distribusi keaktifan longsor yang dimaksud ialah sebagai berikut
1. Advancing : menandakan longsor aktif berkembang ke arah gerakan longsor
2. Retrogressive : menandakan longsor aktif berkembang ke arah yang berlawanan dengan gerakan longsor
3. Enlarging : menandakan longsor aktif berkembang ke dua arah
4. Diminishing : menandakan longsor aktif yang berkurang volume perubahan materialnya
5. Confined : menandakan longsor aktif yang membentuk lereng curam tanpa timbulnya permukaan yang aktif bergerak
6. Moving : menandakan longsor aktif yang bergerak tanpa merubah volume
7. Widening : menandakan longsor aktif yang melebar (panjang mahkota longsor bertambah)
Gambar 1.7 Distribusi Keaktifan Longsor
Sumber : The Canadian Geotechnical Society, 1993
e. Foto udara Format Kecil
Foto udara format kecil (FUFK) merupakan salah satu keluaran yang dihasilkan oleh proses penginderaan jauh fotografi, dikarenakan memiliki perekaman dengan menggunakan sensor kamera dalam menangkap cahaya (Sutanto, 1986). Salah satu wahana yang dapat digunakan dalam menghasilkan FUFK ialah unmanned aerial vehicle (UAV) (Aber, et al, 2010). Turner et al (2015) menjelaskan UAV mampu menghasilkan FUFK dengan resolusi yang sangat bagus (1 – 20 cm), selain itu dapat digunakan untuk menghasilkan kenampakan tiga dimensi dengan lebih detail. UAV sebagai wahana pengambilan foto udara dirasa cukup baik karena memiliki kelebihan mempunyai sistem autopilot, gimbal kamera, geotag, ukuran yang relatif ringan, dan lebih fleksibel dalam waktu terbang (Lucieer, et al, 2014;Turner, et al, 2015). Pengamatan pergerakan longsor menggunakan FUFK hasil pengamatan UAV sudah mulai digunakan semenjak tahun 2012 (Lucieer, et al, 2014).
Gambar 1.8 Salah satu contoh UAV
Sumber : Lucieer, et al, 2014
Resolusi dalam FUFK ditentukan berdasarkan ketinggian terbang saat mengambil foto dari suatu wahana, yang diasumsikan memiliki kondisi sensor yang setara (Aber, et al, 2010). Pengambilan gambaran pada ketinggian rendah akan menghasilkan nilai resolusi yang lebih baik. Aber et al (2010) menjelaskan perhitungan dalam menentukan skala yang sesuai ialah berdasarkan pembagian antara panjang focal pada lensa dengan ketinggian terbang, dan dapat dirumuskan sebagai berikut
f. Structure from Motion
Structure from Motion (SfM) merupakan salah satu metode dalam menyajikan data kenampakan tiga dimensi dengan murah (Michelleti, et al, 2015). Teknik ini awalnya dikembangkan pada tahun 1990an dan berkembang untuk fitur otomatis pada satu dekade kedepan (Westoby, et al, 2012). Snavely et al (2008) dalam Lucieer et al (2014) menjelaskan bahwa perkembangan teknik SfM pada awalnya ditunjukkan untuk menganalisis kenampakan tiga dimensi gedung, dan situs arkeologi. Perkembangan sekarang menunjukkan teknik SfM digunakan untuk keperluan ilmu kebumian dan mulai bisa diolah melalui perangkat lunak komersil dengan menggunakan hasil foto UAV yang diambil berdasarkan jalur terbang tertentu dan memiliki kenampakan overlapping (Lucieer, et al, 2014).
Algoritma yang dikembangkan dalam teknik SfM ialah dengan menemukan nilai pixel yang sama pada antara dua foto (Michelleti, et al, 2015). Persamaan nilai antara dua pixel tersebut menandakan adanya kesamaan objek sehingga bisa dikatakan objek tersebut bertampalan, selain memerlukan nilai pixel yang sama diperlukan pula nilai koordinat dari suatu foto untuk mengetahui letak antara foto satu sama lain , adanya nilai koordinat (X,Y,Z) pada setiap foto, maka dapat dibentuk juga model tiga dimensi FUFK hasil pemrosesan SfM (Lucieer, et al, 2014). Nilai pixel yang sama dipilih melalui keypoint yang umumnya tergambar pada berbagai skala, dan ditentukan oleh tekstur maupun resolusi gambar (Westoby, et al, 2012). Rekonstruksi gambar dilakukan secara bertahap hingga seluruh rangkaian set foto terhubung menjadi satu, sehingga bisa dibentuk penampakan FUFK yang sesuai (Turner, et al, 2015)
2. Kerangka Teori
Kejadian Longsorlahan yang terjadi pada Dusun Kalisari, Salaman, Magelang diklasifikasi sebagai longsor lama yang masih aktif karena masih terdapat aktivitas pergerakan, meskipun dalam pergerakan yang kecil. Longsorlahan yang terjadi di Dusun Kalisari memiliki material longsoran yang berupa tanah lempung. Aktivitas longsor yang masih aktif menandakan terjadinya pergerakan material longsoran. Pergerakan material ini menyebabkan terjadi perubahan morfologi longsor yang berupa perubahan dimensi longsor, dikarenakan terdapat perubahan posisi dari material longsor yang menyebabkan terjadinya perubahan bentuk longsor maupun ukuran longsor. Berdasarkan adanya aktivitas longsor maka menjadi dasar dalam memperoleh tujuan pertama dan kedua dalam penelitian ini yaitu untuk mengukur laju perubahan longsor yang terdapat pada Longsor di Dusun Kalisari dan mengetahui posisi perubahan yang terjadi dalam longsor.
Faktor keaktifan longsor tersebut disebabkan kondisi lereng yang belum stabil dan dipicu oleh beberapa faktor seperti gempa bumi, hujan, airtanah, dan aktivitas manusia. Material longsor yang berupa tanah berperan pula dalam mengatur kondisi keseimbangan lereng. Parameter dalam tanah yang berperan dalam mengatur terjadinya longsor ialah pada karakteristik tekstur tanah dan indikator konsistensi tanah. Tanah dapat berperan dalam menentukan pergerakan material yang terjadi. Faktor hujan merupakan faktor yang menjadi pemicu terjadinya longsor yang mudah teramati dan memiliki kecenderungan untuk nilai yang cenderung fluktuatif. Hasil dari proses hujan mampu memicu faktor lainnya seperti ketinggian airtanah, dan juga akan membentuk reaksi tersendiri dengan karakteristik tanah sehingga mampu menyebabkan longsor. Berdasarkan hal ini pada tujuan ketiga ditujukan untuk mengetahui pengaruh curah hujan terhadap perubahan longsor di Dusun Kalisari. Ini digunakan agar mengetahui sebab-akibat terjadinya proses longsoran di Dusun Kalisari. Penelitian ini dengan digambarkan secara sistematis melalui flowchart kerangka pemikiran pada Gambar 1.
Gambar 1 Kerangka Pemikiran Penelitian
DAFTAR PUSTAKA
Bockheim, J. G., Gennadiyev, A. N., Hartemink, A. E., & Brevik, E. C. (2014). Soil-forming factors and Soil Taxonomy. Geoderma, 226–227(1), 231–237. https://doi.org/10.1016/j.geoderma.2014.02.016
Cornforth, D. H. 2005. Landslides in Practice. New Jersey: John Wiley & Sons.
Foth, Henry D., 1990. Fundamentals of Soil Science. New Jersey : John Wiley & Sons
Giordan, D., Allasia, P., Manconi, A., Baldo, M., Santangelo, M., Cardinali, M., Guzzetti, F. (2013). Morphological and kinematic evolution of a large earthflow: The Montaguto landslide, southern Italy. Geomorphology, 187, 61–79. https://doi.org/10.1016/j.geomorph.2012.12.035
Glenn, N. F., Streutker, D. R., Chadwick, D. J., Thackray, G. D., & Dorsch, S. J. (2006). Analysis of LiDAR-derived topographic information for characterizing and differentiating landslide morphology and activity. Geomorphology, 73(1–2), 131–148. https://doi.org/10.1016/j.geomorph.2005.07.006
Goudie, Andrew S. 2004. Encyclopedia of Geomorphology. London : Routledge Taylor and Francis Group
Harvey, Adrian. 2012. Introducing Geomorphology. Edinburgh : Dunedin
Hugget, R. J. 2011. Fundamental of Geomorphology (Third Edition). USA: Routledge.
Hungr, O., Leroueil, S., & Picarelli, L. (2014). The Varnes classification of landslide types, an update. Landslides, 11(2), 167–194. https://doi.org/10.1007/s10346-013-0436-y
Lucieer, A., Jong, S. M. d., & Turner, D. (2014). Mapping landslide displacements using Structure from Motion (SfM) and image correlation of multi-temporal UAV photography. Progress in Physical Geography, 38(1), 97–116. https://doi.org/10.1177/0309133313515293
Massey, C. I., Petley, D. N., & McSaveney, M. J. (2013). Patterns of movement in reactivated landslides. Engineering Geology, 159, 1–19. https://doi.org/10.1016/j.enggeo.2013.03.011
Olaya, Victor. 2009. Basic Land Surface Parameters. Development in Soil Science Volume 33
Pike, R.J., I.S. Evans, dan T. Hengl. 2009. Geomorphometry : A Brief Guide. Development in Soil Science Volume 33
Rosone, M., Ziccarelli, M., Ferrari, A., & Farulla, C. A. (2018). On the reactivation of a large landslide induced by rainfall in highly fissured clays. Engineering Geology, 235(February), 20–38. https://doi.org/10.1016/j.enggeo.2018.01.016
Sartohadi, J., Suratman, Jamulya & Dewi, N. I. S., 2012. Pengantar Geografi Tanah. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Schaetzl, R. J. & Anderson, S., 2005. Soils Genesis and Geomorphology. New York: Cambridge University Press.
Stumpf, A., Malet, J. P., Allemand, P., Pierrot-Deseilligny, M., & Skupinski, G. (2015). Ground-based multi-view photogrammetry for the monitoring of landslide deformation and erosion. Geomorphology, 231, 130–145. https://doi.org/10.1016/j.geomorph.2014.10.039
Summerfield, M. A. 1991. Global Geomorphology: An Introduction to the study of landforms. Longman
van Westen, C. J., Castellanos, E., & Kuriakose, S. L. (2008). Spatial data for landslide susceptibility, hazard, and vulnerability assessment: An overview. Engineering Geology, 102(3–4), 112–131. https://doi.org/10.1016/j.enggeo.2008.03.010
Verstappen, H. Th. (2014). Geomorfologi Terapan: Survei Geomorfologikal untuk Pengembangan Lingkungan (diterjemahkan dari judul: Applied Geomorphology: geomorphological suveys for environmental development). Yogyakarta: Penerbit Ombak.
Zuidam van, R. A. 1983. Guide to Geomorphologic Aerial Photographic Interpretation and Mapping. ITC Enschede The Nederland.