Home > Sample essays > Essay 2016 12 30 000CAa

Essay: Essay 2016 12 30 000CAa

Essay details and download:

  • Subject area(s): Sample essays
  • Reading time: 10 minutes
  • Price: Free download
  • Published: 1 April 2019*
  • Last Modified: 18 September 2024
  • File format: Text
  • Words: 2,916 (approx)
  • Number of pages: 12 (approx)

Text preview of this essay:

This page of the essay has 2,916 words.



Hormon dan Perilaku Instabilitas : Testosterone dan Perilaku Agresi

Saat ini, ekspose dari perwujudan perilaku agresi banyak dijumpai pada media, bahkan dalam kehidupan sehari-hari. Kita menyaksikan acara televisi yang mempertontonkan agresivitas setiap harinya. Mencaci maki, mengumpat, perampokan, pembunuhan, kerusuhan serta segala jenis perilaku criminal dan tindak kekerasan, merupakan beberapa perwujudan dari perilaku agresi. Definisi perilaku agresi menurut Anderson & Huesman (2003, dalam Hogg & Vaughan, 2011) merupakan perilaku yang diarahkan kepada orang lain yang memiliki tujuan untuk menyakiti atau merusak.

Di kehidupan sehari-hari, pria dinilai cenderung bersikap lebih agressiv dibandingkan dengan wanita.  Dalam memahami perilaku agresi, tumbuh beberapa pendekatan untuk menjelaskan sebab terjadinya perilaku agresi. Salah satu pendekatan atau perspektif dalam menjelaskan munculnya perilaku agresi yakni dari pendekatan biologis. Laki-laki dinilai lebih aggressive dibandingkan wanita karena adanya peran hormon testosterone.

Testosteron mungkin akan selalu dikaitkan dalam pikiran orang dengan perilaku agresif, namun perannya dalam perilaku agresi merupakan sumber kontroversi. Mengapa level testosterone naik ketika itu terjadi – dan apakah hal itu menyebabkan agresi atau hanya merespon perilaku agresi sampai saat ini tidak jelas.

Penelitian muncul untuk mengkonfirmasi hal ini.

‘Menurut perspektif biologis, perilaku agresi disebabkan oleh meningkatnya hormon testosteron. Dalam suatu eksperimen, ilmuwan menyuntikkan hormon testosteron pada tikus dan beberapa hewan lain. Tikus-tikus tersebut berkelahi semakin sering dan lebih kuat. Sewaktu testosteron dikurangi hewan tersebut menjadi lembut'(http://digilib.uinsby.ac.id/9777/5/bab%202.pdf)

Eleanor Maccoby dan Carol Jacklin (1974) menunjukkan bahwa anak laki-laki tampak lebih agresif daripada anak perempuan. Anak laki-laki lebih sering melakukan permainan yang ‘tidak menyenangkan’, seperti menghukum, mendorong, dan menendang dibanding anak perempuan (Deaux & La France, 1998).

Fakta bahwa kebanyakan perilaku agresi yang muncul dilakukan oleh laki-laki ketimbang perempuan dihubungkan dengan organisasi dan aktivasi efek dari hormon testosterone (Pinel, 2009).

Testosteron merupakan hormon steroid dari kelompok androgen. Testosteron dihasilkan oleh testis pada jantan ( Wikipedia, 2013). Testosteron merupakan hormon yang paing kuat daripada hormon androgen lain, sehingga dianggap paling bertanggung jawab akan efek hormonal pria. Walaupun kedua jenis kelamin mensekresikan testosterone, tetapi laki-laki memproduksi dalam tingkat yang lebih tinggi. Tindakan testosteron pada otak dimulai dalam hidup embrio. Selama keempat untuk bulan kelima kehamilan lonjakan testosteron janin terjadi mencapai kadar testosteron dewasa yang menginduksi perubahan anatomi dan organisasi di otak embrio laki-laki.

Kasser, dan rekannya mengadakan penelitian yang melibatkan 30 orang mahasiswa laki-laki dan mengambil sampel air liur mereka untuk pengujian testosteron.  Kemudian mereka diajak untuk berinter aksi dengan pistol atau mainan anak-anak selama 15 menit. Setelah itu mereka memberikan sampel air liur yang lain. Hasilnya, laki-laki yang berinteraksi dengan pistol menunjukkan level testosteron yang tinggi dibandingkan dengan berinteraksi dengan mainan anak-anak.  Hal ini dibuktikan lagi, subyek menambahkan saus panas sebanyak yang mereka inginkan pada segelas air yang mereka percayai akan diminum oleh subyek yang lain (Klinesmith, Kasser, & McAndrew, 2006).

Sebagai tambahan, bertambahnya level testosteron secara sebagian menjadi mediasi dari efek berinteraksi dengan senjata pada perilaku agresi ini (Klinesmith, Kasser, & McAndrew, 2006)

Argumen dasar bahwa meningkatnya perilaku agresi pada laki-laki adalah hasil dari peningkatan testosterone  selama perekambangan prenatal. Di masa dewasa, testosterone bekerja sebagai ‘sinyal’agresi , lalu perilaku memicu respon terhadap situasi tertentu (Newman, 2009) Di laboratorium, injeksi testosterone terhadap binatang mengakibatkan meningkatnya agresifitas (Moyer, 1993).

Manusia bekerja sama dalam berbagai kegiatan, termasuk agresi dan pertahanan terhadap kelompok lain dari manusia (Carneiro 1970; Chagnon 1968 , 1979a, 2012 ; Harcourt dan de Waal 1992; Harimau 1969; Tiger dan Fox 1971 ; Wrangham 1999  dalam Flinn, 2012). Dalam jurnal yang diterbitkan oleh Flinn, dkk (2012) hasil analisanya menunjukkan bahwa testosteron pada orang dewasa dan remaja laki-laki meningkat ketika mereka mengalahkan orang luar yang bukan teman mereka dalam kompetisi.

Testosteron, secara langsung bertanggung jawab untuk mendorong perilaku yang kompetitif dan bahkan perilaku kriminal. Menurut Evolusioner Neuroandrogetic Teori, hormon seks pria(androgen) berkorelasi dengan peningkatan kemampuan laki-laki untuk memperoleh sumber daya, posisi hirarkis dan mitra seksual (Ellis, 2003, 2004).

Selain tindakan antisosial ataupun perilaku agresi yang sering dikaitkan dengan tetosteron, perilaku lain yang juga dikaitkan dengan testosteron adalah perilaku beresiko (booth). Riset yang dilakukan oleh Heusel dan Dabbs tahun 1996, mengkonfirmasi bahwa pekerja yang bekerja dalam perusahaan yang sama, mereka yang memiliki level testosterone lebih tinggi memiliki kecenderungan lebih untuk keluar atau dipecat dibandingkan dengan mereka yang memiliki level testosteronnya lebih rendah (brennon).

Eisenegger dan rekannya mereview dan mendiskusikan sebab pegaruh hormon testosteron dalam interaksi sosial pada hewan dan manusia dan menyelidiki mekanisme neurobiologis yang mungkin mendasari pengaruh ini. Eisenegger, berdasar dengan penemuan yang terbaru, beragumen bahwa testosteron bukan hanya semata berperan dalam perilaku agresi melainkan untuk pencarian dan mempertahankan status social (Eisenegger, Haushofer, & Fehr, 2011).

Monaghan dan Glickman (1992 dalam Booth, Granger, Mazur, & Kivlighan, 2006, p. 182) menyatakan bahwa level testosteron yang lebih tinggi merupakan asosiasi dengan perilaku dominasi yang kadang-kadang memerlukan agresi.

Beberapa peneliti menyarankan bahwa kita harus membedakan agresi dari dominasi. Agresi mengacu maksud untuk menimbulkan cedera, sementara dominasi adalah keinginan untuk mencapai atau mempertahankan status atas yang lain.

Dr. Christoph Eisenegger (2009) melakukan penelitian yang memastikan pengaruh hormon dalam mempengaruhi perilaku sosial bersama dengan Ernst Fehr.  Penelitian ini mengambil sebanyak 120 subjek. Mereka mengambil bagian dalam eksperimen perilaku dimana pembagian uang asli sudah di putuskan. Aturan memungkinkan kedua pihak unuk menawar secara adil maupun tidak adil. Partner negosiasi selanjutnya bisa menerima atau menolak penawaran yang diajukan. Semakin adil tawaran yang diajukan, semakin rendah kemungkinan untuk ditolak oleh partner negosiasi. Jika tidak tercapai kesepakatan, kedua pihak tidak akan mendapatkan apapun.

Sebelum penelitian ini dilakukan, sebagian subyek diberikan testosteron dengan dosis 0,5mg atauapun plasebo yang sesuai.

Jika kita percaya pada pandangan umum yang mengatakan bahwa level testosteron yang lebih tinggi akan cenderung mengadopsi perilaku agresi, egois, bahkan mengambil resiko,  maka subyek dengan level testosteron yang lebih tinggi akan memberikan bentuk penawaram yang negatif.

Hasil dari studi ini ternyata bertentangan dengan anggapan perilaku agresi diproduksi oleh level testosteron yang lebih tinggi. Subyek yang menerima testoteron tenyata membuat penawaran yang lebih adil. Sehingga mengurangi resiko penolakan tehadap penawaran minimum yang mereka tawarkan.

Temuan ini menunjukkan bahwa hormon meingkatkan sensivitas untuk status (Testosterone does not induce aggression, 2009). Menurut Mehta & Beer (2010) testosteron mempengaruhi agresi melalui orbitofrontal cortex (OFC). Orbito frontal cortex bertanggung jawab terhadap kontrol pengatur diri dan kontrol impuls. Terlihat dalam paradigma dimana orang memilih antara agresi atau hadiah uang. Efek testosteron pada agresi dijelaskan oleh penurunan aktivitas medial pada orbito frontal cortex. Temuan ini menurut Mehta&Beer menunjukkan bahwa testosteron meningkatkan kecenderungan ke perilaku agresi karena berkurangnya aktivasi sirkuit saraf kontrol impuls dan self-regulation (Mehta & Beer, 2010).

Data dari studi yang dilakukan oleh University of Tasmania yang dilakukan pada kadal menunjukkan bahwa peran testosterone dalam perilaku agresi tidak berhubungan secara langsung (Hormones: Study Data from University of Tasmania, 2015).

Sapolsky menyatakan hubungan antara laki-laki dan kekerasan : ‘Jumlah laki-laki mencapai kurang dari 50 persen dari populasi, namun mengakibatkan sebagian besar kasus kekerasan'(Brannon, 2002). Ia membenarkan bahwa hormone bisa mempengaruhi perilaku pada manusia, tetapi ia menentang keyakinan bahwa hormone testosteronlah yang  menyebabkan perilaku agresi.

Bohsem, dkk (2012) menerbitkan sebuah jurnal berjudul ‘Testosterone Inhibits Trust but Promotes Reciprocity’. Hasil analisa menunjukkan  bahwa dosis tunggal 0,5 mg testosteron menurunkan tingkat kepercayaan tetapi meningkatkan kemurahan hati ketika membalas kepercayaan. Dapat disimpulkan bahwa testosterone tidak hanya berpengaruh dalam perilaku agresi (antisosial) saja tetapi juga dalam perilaku prososial.

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh James Dabbs dan koleganya , tingkatan hormon berperan dalam perilaku agresi oleh laki-laki maupun perempuan. Tetapi riset tersebut mengindikasikan peran hormon tersebut tidaklah sesederhana itu.

Diperkirakan bahwa testosteron dapat mempengaruhi area otak yang mengontrol reaksi perilaku, seperti amigdala dan hipothalamus. perilaku agresif muncul di otak melalui interaksi antara struktur subkortikal dalam amigdala dan hipothalamus dimana emosi dilahirkan dan pusat kognitif prefontal dimana emosi dirasakan dan dikendalikan (Batrinos, 2012).

Pada laki-laki dewasa teknik neuroimaging yang telah diizinkan visualisasi fungsi otak telah menunjukkan testosteron yang mengaktifkan amigdala meningkatkan aktivitas emosional dan ketahanan terhadap prefrontal menahan kontrol. Efek ini ditentang oleh aksi kortisol yang memfasilitasi daerah prefrontal kontrol kognitif pada kecenderungan impulsif terangsang dalam struktur subkortikal. Tingkat impulsivitas diatur oleh serotonin menghambat reseptor. Para agen utama pengaruh neuroendokrin agresi dalam proses otak membentuk triad: testosteron mengaktifkan kecenderungan subkortikal terhadap agresi dan kortisol dan serotonin tindakan antagonis testosterone (Batrinos, 2012).

Penelitian yang dilakukan oleh Ellis pada tahun 2003 telah menambahkan sebuah evolusi. Dalam teori evolusi neuroandrogenic nya, Ellis berpendapat bahwa peningkatan level testosteron mengurangi sensitivitas otak terhadap rangsangan lingkungan, membuat orang bertindak keluar, dengan berkurangnya kemampuan untuk mengendalikan emosi.

Menurut penelitian terbaru, tingkat normal testosteron pada pria meningkatkan aktivitas di daerah otak yang terlibat dalam pengolahan ancaman dan perilaku agresif. Testosteron memiliki efek mendalam pada otak yang terlibat dalam agresi (Ellis, 2014).

Dr. John Krystal, editor Biological Psychiatry megatakan bahwa memahami efek testosteron pada pola aktivitas otak yang berhubungan dengan ancaman dan agresi dapat membantu untuk memahami respon "fight or flight" pada laki-laki yang relevan dengan perilaku agresi dan kecemasan. Untuk menyelidiki efek testosteron pada respon ancaman otak pada pria, tim merekrut 16 relawan laki-laki muda yang sehat. Berfokus pada struktur otak yang terlibat dalam pengolahan ancaman dan perilaku agresif, seperti amigdala, hipotalamus dan periaqueductal grey, para peneliti memiliki orang-orang yang lengkap hari 2 tes di mana mereka menerima obat atau testosteron.

Penelitian dilakukan dengan memberikan obat kepada partisipan untuk menekan meningkatnya atau menurunnya level testosteron sehingga semua peserta memiliki tingkat testosteron yang sama. Dengan demikian, setiap peserta yang menerima testosteron hanya memiliki level normal yang mereka dapatkan.  Selanjutnya, peserta menjalani tes fMRI scan sambil menyelesaikan face-matching task.

Setelah diteliti, data menunjukkan bahwa orang yang menerima testosteron telah meningkatkan reaktivitas amigdala, amygdala, dan periaqueductal grey saat melihat ekspresi wajah marah dibandingkan dengan kelompok yang menerima obat.

Para peneliti dari studi yang dipimpin oleh Justin Carr” dari Nipissing University di Kanada, mengatakan studi sebelumnya menemukan bahwa pemberian dosis tunggal testosteron pada subyek dipengaruhi fungsi sirkuit otak, meskipun, secara mengejutkan,  studi ini dilakukan pada wanita (Ellis, 2014).

Salah satu studi yang dilakukan oleh Dabbs, de la Rue, dan Wilson (1990, dalam Brannon 2002) meneliti perbedaan  level  hormone testosteron menurut berbagai pekerjaan pada laki-laki, meliputi dokter, pemain sebak bola, salesman, actor, pendeta, professor, pemadam kebakaran, maupun pengangguran. Hasil analisa menunjukkan bahwa hanya ada perbedaan signifikan yang muncul pada perbandingan antara actor dan pemain sepak bola, yang keduanya memiliki level testosterone lebih tinggi daripada pendeta. Riset yang mengukur antara level testosterone dengan prestasi pada pekerjaan menunjukkan hubungan yang kompleks : Laki-laki dengan level testosterone yang lebih tinggi mempunyai status pekerjaan yang lebih rendah. Dabbs menafsirkan temuan ini untuk menunjukkan bahwa level testosterone yang tinggi berhubungan dengan perilaku antisosial.

Contoh spesifik lain yang menghubungkan antara testosterone dan kekerasan muncul dalam studi yang dilakukan Dabbs, Carr, Frady, & Riad (1995) pada narapidana laki-laki. Narapidana yang melakukan tindakan kriminal terhadap individu termasuk kejahatan seks dan kekerasan memiliki level testosterone yang lebih tinggi ketimbang yang melakukan kejahatan non-kekerasan. Narapidana yang memiliki level testosterone lebih tinggi juga lebih suka melanggar peraturan dan terlibat dalam konfrontasi personal ketika dalam tahanan (Brannon, 2002).

Wanita juga mensekresi hormon testosterone. Walaupun memproduksi dalam jumlah yang rendah. Beberapa periset juga menyelidiki hubungan antara level testosterone dengan perilaku pada wanita. Studi ini dilakukan oleh Dabbs dan koleganya (1988). Ia membandingkan level testosterone terhadap tahanan wanita dengan wanita yang berada dalam perguruan tinggi. Tahanan dengan level testosterone yang tinggi memiliki catatan kejahatan kekerasan tak berasalan memiliki level testosterone paling tinggi. Anehnya, rata-rata level testosterone antara tahanan wanita sama halnya dengan wanita yang sedang menempuh pendidikan (Brannon, 2002).

Studi lain dilakukan oleh Purifoy & Koopman (1979) menunjukkan bahwa level androgen pada wanita berkenaan dengan pekerjaan. Rata-rata wanita dengan hormon androgen yang tinggi memiliki keahlian professional, teknikal, dan manajerial pekerjaan dibandingkan dengan wanita yang menjadi ibu rumah tangga. Kemungkinannya level androgen bisa jadi mempengaruhi pemilihan pekerjaan dan bisa jadi stress dalam karir mempengaruhi level androgen.

Semua riset diatas menunjukkan antara testosterone dan perilaku agresi bukanlah hubungan sebab-akibat yang sederhana.  Dari berbagai riset yang telah dilakukan oleh peneliti diatas, penulis menyimpulkan bahwa testosteron lebih penting sevagai cara untuk mempersiapkan tubuh terhadap efek egresi daripada agresi itu sendiri.

Penelitian terbaru dilakukan oleh Montoya, dkk (2011) meneliti hubungan testosterone, kortisol, dan serotonin sebagai kunci dari perilaku agresi social. Serotonin merupakan zat kimia alami yang diproduksi oleh otak. Kekurangan neurotransmiter serotonin menyebabkan berbagai gejala perilaku dan perubahan biologis, misalnya agresi, kesulitan belajar, perubahan fungsi seksual, gangguan atensi, perubahan nafsu makan, gangguan irama pernapasan, gangguan tidur, gangguan sekresi steroid, dan aliran darah (Azmitia, 1999).  Sedangkan hormon kortisol merupakan penghambat agresi. Hormon kortisol memiliki efek mediasi pada hormon yang berkaitan dengan agresi, yaitu testosteron. Hal ini mungkin saja disebabkan karena hormon kortisol meningkatkan kecemasan dan kemungkinan penarikan social (Wikipedia, 2015).

‘Studi terbaru menunjukkan bahwa steroid kortisol mungkin bersama-sama mengatur perilaku perilaku agresi. Telah dihipotesiskan bahwa ketidakseimbangan antara kortisol dan testosteron prediktif untuk psikopatologi agresif, dengan testosteron tinggi rasio kortisol predisposisi untuk gaya perilaku agresif secara social’ (Montoya, Terburg, Bos, & van Honk, 2011)

Dalam jurnalnya yang berjudul ‘Testosterone, Cortisol, and Serotonin as Key Regulators of Social Aggression: A Review and Theoretical Perspective’ Montoya dkk menjabarkan hubungan antara testosterone (T) dengan steroid kortisol (CRT). Baru-baru ini, telah disarankan bahwa keseimbangan antara level T dan CRT , yaitu testosteron / rasio kortisol (T / CRT), mungkin prediktif untuk kedua jenis agresi (Terburg, dkk 2009; van Honk, dkk 2010). Agresi yang dihubungkan yakni agresi reaktif dan agresi proaktif.

Agresi reaktif, yang juga disebut sebagai agresi impulsif, adalah agresi yang tidak direncanakan dan didorong dengan pengaruh.  Agresi proaktif, yang disebut juga sebagai agresi instrumental, merupakan agresi yang direncanakan dan ditandai dengan kurangnya emosi (Blair, 2010).

Bukti yang berkembang mengatakan bahwa testosterone (T) dan cortisol (CRT) sama-sama mengatur terjadinya agresi sosial. Pendekatan dual-hormone, bisa juga disebut sebagai hipotesa dual-hormone, yang menyatakan bahwa pengaruh testosterone pada perilaku sosial manusia di moderasi oleh hormon kortisol. Pengujian hipotesis ini dilakukan kepada partisipan sebanyak 53 orang wanita undergraduated. Pada tahap awal diambil air liur sebagai sampel. Kemudian partisipan dihina dan diperolok secara pribadi dan diberikan kesempatan untuk membalas provokator.  Peserta dibagi secara acak ditugaskan untuk menang atau kalah dalam persaingan ini. Hasil penelitian ini mengemukakan bahwa pemenang memiliki level testosteron yang lebih tinggi daripada pihak yang kalah.

Bagaimana mekanisme yang terjadi pada hormon testosterone dan kortisol ini? T adalah produk akhir dari sumbu hypothalamus-hipofisis-adrenal (HPA) dan CRT merupakan produk akhir dari sumbu hipotalams-hipofisis-gonad (HPG).

Sumbu HPA terdiri dari 3 tingkatan. Yang pertama ialah inti paraventrikular (PVN) yang asalnya dari hipothalamus. nantinya menghasilkan corticotropin-realeasing-hormone(CRH) sebagai respon terhadap stres. Tingkat kedua sumbu HPA yakni yang ditingkatkan oleh CRH dalam pelepasan hormon adrenokortikotropik (ACTH), oleh hipofisis. ACTH kemudian merangsang korteks adrenal, yang mngerah pada sintesis dan pelepasan kortisol pada manusia.

Sumbu HPG juga terdiri dari tiga tingkatan. Tingkat pertama yaitu hipothalamus, dan tingkat kedua yaitu kelenjar hipofisis dimana GnRH dan luteinizing hormone (LH) bersama dengan folikel-stimulating-hormon (FSH) lepas secara berturut-turut.

Gonad, tingkat ketiga sumbu HPG, tempat dimana hormon LH dan FSH diangkut bertanggung jawab dalam produksi testosteron (T), produk akhir HPG.

Adrenal dan sistem gonad berinteraksi secara antagonis. Sumbu HPG menghambat sumbu HPA dan sebaliknya. CRT menghambat aktivitas sumbu HPG pada semua tingkatan, dan testosteron menghambat aktivitas hipothalamus yang ada pada tingkat ketiga sumbu HPA (Johnson et al. 1992; Tilbrook et al. 2000; Viau 2002 dalam montoya).  Interaksi seperti itu nantinya akan menghasilkan ketidakseimbangan, dengan T tinggi CRT rendah atau sebaliknya.

Interaksi yang terjadi antara sumbu HPG dan HPA, perlu dicatat, berbeda antara wanita dan pria. Hal ini karena adanya perbedaan fungsi pria dan wanita dalam memproduksi hormon androgen. Oleh karena itu, meskipun sumbu HPA dan HPG terdapat pada kedua jenis kelamin, hubungan yang terjadi antara keduanya mungkin berbeda antara pria dan wanita (Montoya, Terburg, Bos, & van Honk, 2011).

Kecenderungan perilaku agresi sosial yang disebabkan oleh hormon cortisol dan testosteron disebut oleh Terburg, dkk (2009) dan van Honk, dkk (2010) sebagai hipotesis ratio T/CRT.

Kesimpulan yang bisa diambil dari riset-riset yang telah dilakukan oleh peneliti diatas yakni pengaruh hormon androgen dalam perilaku sangatlah kompleks. Ada kemungkinan level  hormon testosterone memproduksi perilaku agresi, atau perilaku agresi dan kompetisilah yang berpengaruh meningkatkan level testosterone. Bukti dari riset yang dilakukan memang menunjukkan bahwa tahanan dengan level hormon testosterone yang lebih tinggi melakukan kejahatan dengan kekerasan daripada tahanan yang memiliki level testosterone lebih rendah. adanya peran penting testosteron dalam manifestasi perilaku yang ada di pusat amigdalajuga terlibat dalam perilaku agresi.

Adanya pengaruh dari luar seperti provokator bisa memicu terjadinya perilaku agresi, seperti yang diungkap oleh Denson dan rekannya, adanya peran tinggi dari aktivitas provokasi sosial sebagai penjelasan yag mungkin untuk hipotesis dual-hormone (Denson, Mehta , & Ho, 2012). Testosterone bukanlah penyebab utama munculnya perilaku agresi termasuk kekerasan yang dilakukan oleh pria.

Daftar Pustaka

(2015). Hormones: Study data of Tasmania provide new insight into hormones (examining the role of testosterone in mediating short-term aggressive responses to social stimuli in lizard). Life Science Weekly.

Batrinos, M. L. (2012). Testosterone and Aggressive Behavior in Man. Int J Endocrinol Metab, 563-568.

Blair, R. J. (2010). Neuroimaging of psychopathy and antisocial behavior: A targeted review. Current Psychiatry Reports, 76-82.

Booth, A., Granger, D. A., Mazur, A., & Kivlighan, K. T. (2006). Testosterone and Social Behavior. Social Forces Vol. 85 No. 1, 180-204.

Brannon, L. (2002). Gender Psychological Perspective. Boston: Allyn & Bacon.

Denson, T. F., Mehta , P. H., & Ho, T. D. (2012). Endogenous testosterone and cortisol jointly influence reactive aggression in women. j.psyneuen, 416-424.

Eisenegger, C., Haushofer, J., & Fehr, E. (2011). The role of testosterone in social interaction. 263-271.

Ellis, M. (2014, Agustus 12). Male aggression: testosterone increases brain's threat response. Retrieved January 3, 2015, from Medical News Today: http://www.medicalnewstoday.com/articles/280915.php&usg=ALkJrhi5dbPV7tneGy__jzklUJGHqlqLDQ

Hogg, M. A., & Vaughan, G. M. (2011). Social Psychology 6th Edition. England: Pearson Education Limited.

Klinesmith, J., Kasser, T., & McAndrew, F. T. (2006). Guns, Testosterone, and Aggression : An Experimental Test of A Mediational Hypothesis. Psychological Science Vol. 17 No. 7, 568-571.

Mazur, A. (2006). The Role of Testosterone in Male Dominance Contests that Turn Violent. Social Biology, 24-29.

Mehta, P. H., & Beer, J. (2010). Neural Mechanisms of the Testosterone’Aggression Relation: The Role of Orbitofrontal Cortex. Journal of Cognitive Neuroscience Vol. 22 No. 10, 2357-2368.

Montoya, E. R., Terburg, D., Bos, P. A., & van Honk, J. (2011). Testosterone, cortisol, and serotonin as key regulators of social aggression: A review and theoretical perspective.

Newman, M. (2009). Hormones. In Encyclopedia of Gender and Society (pp. 439-441). Thousand Oaks: SAGE Publications, Inc.

Testosterone does not induce aggression, s. s. (2009, Desember 9). Science Daily. (U. o. Zurich, Interviewer)

About this essay:

If you use part of this page in your own work, you need to provide a citation, as follows:

Essay Sauce, Essay 2016 12 30 000CAa. Available from:<https://www.essaysauce.com/sample-essays/essay-2016-12-30-000caa/> [Accessed 11-06-26].

These Sample essays have been submitted to us by students in order to help you with your studies.

* This essay may have been previously published on EssaySauce.com and/or Essay.uk.com at an earlier date than indicated.