BAB II
LITERATUR REVIEW
2.1 Tanaman Nilam
Nilam ((Pogostemon cablin Benth.) merupakan salah satu tanaman perdu yang sekarang banyak dilirik orang sebagai karena memiliki nilai ekonimis yang cukup tinggi. Keunggulan tanaman ini memiliki multi manfaat dan kahsiat yang cukup bagus dibanding dengan tanaman perdu yang lainnya. Minyak nilam merupakan jenis minyak atsiri yang memiliki kemampuan fiksasi tinggi sehingga banyak digunakan dalam pembuatan parfum, detergen dan condisioner rambut (Swamy and Sinniah , 2016; Swamy and U. R. Sinniah , 2010). Minyak atsiri merupakan jenis minyak yang disuling dari berbagai macam tumbuhan seperti serai, akar wangi, cengkeh, kayu manis, nilam, mawar dll. Minyak atsiri diperoleh dari akar, batang dan daun tanaman yang diekstraksi terlebih dahulu (Kusuma dan Mahfud, 2016; Bey, 2016 ).
Gambar. Nilam Pasaman Barat (Sumber: Koleksi Pribadi)
2.1.1.Jenis Tanaman Nilam
Nilam merupakan tumbuhan tropik yang termasuk dalam famili labitia, klas Angiospemae dan devisi Spermatopyta. Tanaman nilam merupakan jenis tanaman berakar serabut, bentuk daun bervariasi dari bulat hingga lonjong dab batangnya berkayu antara 10-20 cm. Secara umum, di Indonesia terdapat tiga jenis nilam yang dapat dibedakan berdasarkan karakter morfologi, kandungan dan kualitas minyak serta ketahanan hama dan penyakit (BP2LHK, 2015).:
a. Pogestemon Cablin Benth (Nilam Aceh)
Nilam ini memiliki ciri daunnya agak membulat seperti jantung, di bagian bawah jdaun terdapat bulu-bulu rambut sehingga warnanya tampak pucat dan tidak atau jarang berbunga. Kadar minyak antara 2,5-5% dan komposisi minyaknya bagus.
b. Pogestemon Heyneatus Benth (Nilam Jawa)
Nilam ini memiliki ciri daunnya lebih tipis, ujung daun agak runcing dan memiliki bunga. Kandungan minyak rendah hanya 1/3-1/2 dari nilam aceh yaitu 0,5-1,5%. Nilam jenis ini kurang diminati petani meskipun bentuknya lebih besar dan rimbun.
c. Pogestemon Hortensis Backer (Nilam Sabun)
Nilam jenis ini disebut nilam sabun karena digunakan sebagai pengganti sabu. Bentuk hampir sama dengan nilam jawa. Daunnya tipis, ujung daun agak runcing dan tidak berbunga, Kadar minyaknnya rendah, hanya sekitar 0,5-1,5% dan komposisi minyaknya pun jelek.
2.1.2 Agroekologi Tanaman Nilam
Nilam termasuk tanaman yang mudah tumbuh seperti tanaman herba lainnya. Namun untuk memperoleh produksi yang maksimal diperlukan kondisi ekologi sesuai untukpertumbuhannya. Berikut Tabel kesesuaian lahan dan iklim tanam nilam.
Tabel Kesesuaian Lahan Dan Iklim Tanam Nilam
No Parameter Tingkat Kesesuaian
Sangat sesuai Sesuai Kurang sesuai Tidak sesuai
1 Ketinggian tempat (m dpl) 100-400 0-100 400-700 700 >700
Tanah
1 Jenis Tanah Andosol, Latosol Regosol, Podsolik, Kambisol Lainnya Lainnya
2 Drainase Baik Agak Baik Agak Baik Terhambat Pasir
3 Tekstur Lempung Liat Berpasir Lainnya Pasir
4 Kedalaman air >100 75-100 50-75 <50
5 Ph 5,5-7 5-5,5 4.5-5 <4,5
6 C-Organik(%) 2-3 3-5 <1 –
7 P2O5 (ppm) 16-25 10-15 >25 –
8 K2O (me/100gr) >1 0,6-1 0,2-0,4 –
9 KTK(me/100gr >17 5-16 <5 –
Iklim
1 Curah Hujan Tahunan (mm) 2300-3000 150-2300 1200-1750 >3500
2 Hari Hujan Tahunan (mm) 120-180 100-120 180-210 210-230 85-100 <230 <85
3 Bulan Basah per tahun 10-11 7-9 <11 5-6 <5
4 Kelembaban Udara (%) 70-90 60-70 50-60 >90 <50
5 Temperatur (C) 24-28 24-25 26-28 23-24 28-29 <23 >29
Sumber: Balittro (1998) dalam Nuryani, Emmyzar dan Wiratno (2005)
2.1.3 Budidaya Nilam
Tanaman nilam dapat diperbanyak dengan cara vevetatif melalui stek pucuk, batang dan cabang. Usaha menjamin produktivitas dan kualitas nilam, bahan tanaman dipilih secara baik. Mutu bibit merupakan salah satu unsur yang menentukan keberhasilan budidaya. Bibit yang benar adalah bibit yang diambil dari kebun induk yang jelas varietasnya. Stek yang diambil dari pucuk menghasilkan pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan dengan bibit yang berasal dari stek bagian pangkal. Stek nilam dapat dilakukan dengan menggunakan polibag dan menggunakan bedengan. Penggunaan polibag bertujuan untuk mengurangi jumlah yang mati ketika dipindahkan (BP2LHK, 2015).
Umumnya nilam ditanam secara monokultur, namun dapat juga ditanam secara tumpangsari dengan tanaman lain seperti tanaman palawija (jagung, cabe. Terung dan lainnya). Selain dengan tanaman palawija, nilam dapat dipolatanamkan dengan tanaman tahunan seperti diantara kepala, kelapa sawit, karet yang masih berumur muda dan kayu putih karena tanaman nilam masih berproduksi dengan baik pada intensitas cahaya minimum 75% (Mile, 1999). Jarak tanam yang ideal adalah antara 75-100 cm antar baris dan 50-75 dalam baris. Pada lahan datar dan subur dapat digunakan jarak tanam yang lebih lebar minsal 100×100 cm, sedangkan di lahan miring jarak tanam yang digunakan lebih sempit misal 50×75 cm atau 75×75 cm. Pemupukan nilam dapat dilihat pada Tabel berikut.
Tabel 2.1. Pemupukan Susulan pada Tanaman Nilam
Umur Tanaman (bulan) Jenis dan dosis pupuk (Kg/Ha)
Urea ZA TSP KCl
1 75 75 75 50
2 50 50 – 50
3 25 25 – 12,5
Sehabis panen 75 75 75 75
2.1.4 Pemanenan Nilam
Nilam sudah dapat dipanen pada usia 6-8 bulan setelah tanam dan diulang secara periodik setiap 3-4 bulan. Tanda tanaman nilam sudah siap dipanen adalah ketika bagian bawah tanaman sudah menguning. Setelah berusia 3 tahun, tanaman harus diremajakan (Emmyzar, 2004). Panen bisanya dilakukan dengan pangkas setinggi 10-20 cm dari tanah. Produksi terna(daun dan ranting) pertama masih rendah (sekitar 50-75% dari produksi normal). Panen berikutnya dapat dilakukan setiap 3-4 bulan sekali tergantung curah hujan dan kesuburan tanah. Bila panen dilakukan menjelang musim kemarau, regenerasi tunas biasanya lebih lambat (BP2LHK, 2015)..
2.1.5 Pengolahan Pasca Panen Nilam
Pengeringan dilakukan untuk mengurangi kandungan air di dalam bahan. Pada proses pengeringan sebagian besar air dalam terna menguap dan meninggalkan ruang kosong pada bahan, akibatnya jaringan bahan mengerut dan sel minyak pecah sihingga minyak mudah keluar pada proses penyulingan. Pengeringan dilakukan dengan dengan cara menghamparkan terna nilam diatas lantai jemur yang dibuat dari semen atau alas tikar yang menggunakan rak bambu. Hamparan/lapisan terna nilam tidak terlalu tebal (maksimum 20 cm). Selama penjemuran terna harus dibolak balik agar pengeringan merata. Penjemuran dilakukan sampai kadar air dalam terna nilam mencapai 12-15% ditandai dengan warna daun nilam menjadi abu-abu kehijauan dan timbulnya aroma minyak nilam yang lebih tajam. Lama penjemuran yang memadai adalah 2 kali (hari) masing-masing selama 5 jam. Pengaruh cara pengeringan terhadap kadar dan mutu minyak nilam dapat dilihat pada tabel dan pengaruh bobot batang dan ranting nilam dalam terna terhadap rendemen minyak dapat dilihat pada tabel.
Tabel 6. Pengaruh Cara Pengeringan Terhadap Kadar dan Mutu Minyak Nilam
Cara Pengeringan Kadar Minyak (%) Kadar Patchouli Alkohol (%)
Dijemur 2 hari @ 5 jam 3,75 31,58
Dijemur 2 hari @ 7 jam 2,65 33,52
Dijemur 2 jam dan dilayukan 7 hari 2,52 32,93
Sumber: Hobir et al. (2003) dalam Ma���mun (2011)
Tabel 7. Pengaruh Bobot Batang dan ranting Nilam dalam
Terma terhadap Rendemen Minyak
Bobot Batang dan Ranting (%) Rendemen Minyak (%)
33 3,03
50 2,56
60 2,05
67 1,85
Sumber: Rusli (2002)
2.1.6 Penyulingan Nilam
Penyulingan minyaknilam adalah suatu proses pengambilan minyak dari terna kering dengan bantuan air, dimana minyak dan air tidak tercampur (Romansyah, 2002). Campuran cairan yang disuling dapat berupa cairan yang tidak larut (immiscible) dan selanjutnya membentuk dua fasa, atau cairan yang saling melarutkan secara sempurna (miscrible) yang hanya embentuk satu fasa. Pada prakteknnya penyulingan campuran cairan dua fasa dilakukan untuk memisahkan inyak atsiri dengan cara mengupan dengan bantuan uap. Minyak dipisahkan dari air sehingga diperoleh minyak murni, yang selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk industri kosmetik, sabut, obat dan lain-lain (BP2LHK, 2015).
Yuhono dan Suhiran (2007) dan Ma���mun (2011) menyebutkan bahwa secara umum cara penyulingan minyak nilam dilakukan dengan tiga macam, yaitu :
1. Penyulingan cara direbus (Water Distillation)
Bagian utama dari alat penyuling secara direbus yaitu tungku api, ketel untuk merebus air, kondensor (pendingin) dan penampung/pemisah minyak. Penyulingan
direbus, daun nilam kering dimasukkan dalam ketel berisi air dan dipanasi. Kapasitas ketel penyulingan bervariasi, mulai dari 200 – 2.000 liter. Ketel dibuat dari bahan antikarat, seperti stainless steel, besi, atau tembaga berlapis aluminium. Dari ketel akan keluar uap, kemudian dialirkan lewat pipa yang terhubung dengan kondensor (pendingin). Uap berubah menjadi air. Air yang sesungguhnya merupakan campuran air dan minyak itu akan menetes di ujung pipa dan ditampung dalam wadah. Selanjutkan, dilakukan proses pemisahaan sehingga diperoleh minyak nilam murni.
2. Penyulingan cara dikukus (Water and Steam Distillation)
Bagian utama dari alat penyuling secara dikukus yaitu tungku api, ketel penyuling, kondensor (pendingin) dan penampung/pemisah minyak. Pada cara ini bahan diletakkan di atas rak-rak atau saringan berlobang. Terna kering berada pada jarak tertentu di atas permukaan air. Ketel suling diisi air sampai permukaan air berada tidak jauh dari saringan. Ciri khas metode ini adalah uap selalu dalam keadaan basah, jenuh dan tidak terlalu panas dan bahan yang disuling hanya berhubungan dengan uap dan tidak dengan air panas
3. Penyulingan dengan uap langsung (Steam Distillation)
Bagian utama dari alat penyuling secara uap langsung yaitu tungku api, ketel uap, ketel penyuling, kondensor (pendingin), penampung/ pemisah minyak. Penyulingan dengan uap langsung prinsipnya hampir sama dengan penyulingan uap dan air, tetapi pada penyulingan uap langsung sumber panas terdapat pada ketel uap yang letaknya terpisah dari ketel suling, terna kering berada dalam ketel suling dan uap air dialirkan dari ketel uap pada bagian bawah suling dan menggunakan tekanan lebih tinggi.
Pemilihan cara tersebut berdasarkan sifak fisik dan kimia bahan yang akan disuling dan tiap-tiap cara mempunyai keunggulan serta kelemahannya masing-masing. Untuk mendapatkan rendemen dan mutu minyak yang baik disarankan untuk pengolahan minyak nilam dengan menggunakan cara penyulingan dikukus dan uap langsung. Namundemikian karena cara penyulingan dikukus merupakan penyulingan dengan tekanan uap rendah, cara ini tidak menghasilkan uap dengan cepat sehingga perpanjangan waktu penyulingan cukup penting artinya baik ditinjau dari mutu maupun rendemen minyak (BP2LHK, 2015).
2.2. Peranan, Peluang dan Kendala Pengembangan Agroindustri di Indonesia
Agroindustri adalah perusahaan industri yang memproses hasil pertanian dari bahan nabati (yang berasal dari tanaman) atau hewani (yang dihasilkan oleh hewan) menjadi produk dalam rangka meningkatkan nilai tambahnya. Proses yang digunakan mencakup pengubahan dan pengawetan melalui perlakuan fisik atau kimiawi, penyimpanan, pengemasan dan distribusi. Agroindustri merupakan suatu sistem terintegrasi yang melibatkan sumberdaya hasil pertanian, manusia, ilmu dan teknologi, uang dan informasi. Produk Agroindustri dapat berupa produk akhir yang siap dikonsumsi ataupun sebagai produk bahan baku industri lainnya.
Agroindustri dikelompokkan atas; 1). Agroindustri hulu yakni subsektor industri yang menghasilkan sarana produksi pertanian, seperti Pupuk, pestisida, herbisida, dll.2). Agroindustri hilir yaitu subsektor industri yang mengolah hasil-hasil pertanian, seperti Minyak goreng, ikan kaleng, sayuran kaleng, abon ikan asin, dsb.
Tujuan pembangunan agroindustri tidak dapat dilepaskan dari peranan agroindustri itu sendiri (Yusdja dan Iqbal, 2002). Peranan agroindustri bagi Indonesia yang saat ini sedang menghadapi masalah pertanian (Supriyati, 2006) antara lain (1) menciptakan nilai tambah hasil pertanian di dalam negeri; (2) menciptakan lapangan pekerjaan, khususnya dapat menarik tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor industri hasil pertanian (agroindustri); (3) meningkatkan penerimaan devisa melalui peningkatan ekspor hasil agroindustri; (4) memperbaiki pembagian pendapatan; dan (5) menarik pembangunan sektor pertanian.
Menurut Supriyadi (2006) peluang pengembangan agroindustri masih terbuka, baik ditinjau dari ketersediaan bahan baku maupun dari sisi permintaan produk olahan. Namun, masih ditemui kendalakendala dalam pengembangannya, antara lain: (1) kualitas dan kontinyuitas produk pertanian kurang terjamin; (2) kemampuan SDM masih terbatas; (3) teknologi yang digunakan sebagian besar masih bersifat sederhana, sehingga menghasilkan produk yang berkualitas rendah; dan (4) kemitraan antara agroindustri skala besar/sedang dengan agroindustri skala kecil/ rumah tangga belum berkembang secara luas. Implikasinya adalah pengembangan agroindustri harus didukung dengan kebijakan pemerintah untuk mengatasi kendala dan hambatan pengembangan agroindustri. Diperlukan kebijakan yang komprehensif dari peyediaan bahan baku sampai dengan pemasaran, serta dukungan SDM, teknologi, sarana dan prasarana, dan kemitraan antara agroindustri skala besar/sedang dengan agroindustri skala kecil/rumah tangga.
2.3 Sistem Dinamis
Menurut Sterman (2000), pendekatan sistem dinamik yang kompleks memerlukan
model formal dan metode simulasi untuk menguji, meningkatkan dan merancang kebijakan baru. Menurut Erma Suryani dalam buku ���pemodelan dan simulasi��� (2006) simulasi sistem dinamik merupakan simulasi kontinyu yang dikembangkan oleh Jay Forrester (MIT) tahun 1960-an, berfokus pada struktur dan perilaku sistem yang terdiri antar variabel dan loop feedback (umpan balik). Hubungan dan interaksi antar variabel dinyatakan dalam diagram kausatik. Proses umpan balik dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu (Suryani, 2006):
1. Umpan balik positif
Jenis umpan balik ini menciptakan proses pertumbuhan, dimana suatu kejadian dapat menimbulkan akibat yang akan memperbesar kejadian berikutnya secara terus menerus. Umpan balik ini dapat menyebabkan ketidakstabilan, ketidakseimbangan, serta pertumbuhan yang kontinyu. Contoh : sistem pertumbuhan penduduk.
2. Umpan balik negatif
Jenis umpan balik ini berusaha menciptakan keseimbangan dengan memberikan koreksi agar tujuan dapat dicapai. Contoh : sistem pengatur suhu ruangan.
Sistem dinamik adalah bidang profesional yang berhubungan dengan kompleksitas sistem. Sistem dinamika adalah dasar yang diperlukanmendasari pemikiran yang efektif tentang sistem. Sistem dinamik berhubungan dengan bagaimana hal-hal berubah melalui waktu, yang meliputi sebagian besar dari apa yang kebanyakan orang merasa sangat penting. Sistem dinamika menafsirkan sistem nyata ke dalam model simulasi komputer yang memungkinkan seseorang untuk melihat bagaimana struktur dan kebijakan pengambilan keputusan dalam system (Forrester ,2010).
Stocks dan flows adalah komponen utama dari sistem dinamik. Sebuah stocks mewakili penyimpanan beberapa jenis informasi atau entitas (seperti uang atau populasi) di sistem. Flows mendefinisikan laju perubahan terhadap stocks-menambahkan lebih dari jenis informasi atau entitas ke stocks, menghilangkan beberapa untuk diganti ke tempat lain dalam sistem, atau menghilangkan dari dalam sistem. Input-an lain untuk sistem yang bukan bagian dari model sistem itu sendiri termasuk konverter dan sumber dapat dimunculkan (Leaf, 2007).
Pada sistem dinamis, hal ini dapat dicapai dengan menggunakan causal loop, causal loop diagram menunjukkan hubungan sebab-akibat dalam sistem. Stocks dan converters yang digambar dengan panah, diambil dari penyebabnya ke titik yang memberikan akibat. Panah diberi label, apakah perubahan nilai berdampak dalam arah yang sama dengan penyebab yang nilai (yaitu, kenaikan atau penurunan positif), atau apakah nilai-nilai perubahan berlawanan arah. Kedua hubungan digambarkan sebagai positif dan negatif feedback. Sistem yang cenderung ke arah keadaan stabil mengandung feedback negatif loop, sedangkan sistem dengan feedback positif loop dapat memberikan perubahan bahkan perubahan yang sangat kecil dalam kondisi saat ini. Converters tidak pernah berpengaruh dalam sistem, converters hanya penyebab (Leaf, 2007).
Sistem dinamika menggunakan notasi diagram tertentu untuk stocks dan flows(Sterman, 2000) :
��� Stocks diwakili oleh empat persegi panjang (yang menunjukkan wadah memegang isi saham).
��� Flows masuk diwakili oleh pipe (panah) menunjuk ke (menambah) yang stocks.
��� Outflow yang diwakili oleh pipe menuju dari (mengurangkan dari) stocks.
��� Valves control the flows.
Tahapan Pemodelan Sistem Dinamik Menurut Sterman (2000), terdapat lima tahapan dalam mengembangkan model sistem dinamik seperti terlihat dalam yaitu:
Step 1: Problem articulation:
Pada tahap ini, kita perlu menemukan masalah yang sebenarnya, mengidentifikasi variabel kunci dan konsep, menentukan horison waktu dan mencirikan masalah secara dinamis untuk memahami dan merancang kebijakan menyelesaikannya.
Step 2: Dynamic hypothesis:
Pembuat model harus mengembangkan sebuah teori tentang bagaimana masalah tersebut muncul. Dalam step ini, perlu dikembangkan diagram causal loop yang menjelaskan hubungan kausal antara variabel dan mengkonversi diagram causal loop ke dalam diagram flow.
Step 3: Formulation:
Untuk menentukan model sistem dinamik, setelah mengubah diagram causal loop ke dalam diagram flow, selanjutnya harus menerjemahkan deskripsi sistem menjadi level, rates dan membuat persamaan / auxiliary equations. Untuk mengestimasi sejumlah parameter, hubungan perilaku, dan kondisi awal. Pembuatan equations akan mengungkapkan kesenjangan dan inkonsistensi yang harus diperbaiki dalam deskripsi sebelumnya.
Step 4: Testing:
Tujuan pengujian adalah untuk membandingkan perilaku simulasi model terhadap perilaku aktual dari sistem.
Step 5: Policy Formulation and evaluation:
Sejak pembuat model mengembangkan keyakinan dalam struktur dan perilaku model,pemodel dapat memanfaatkan model yang valid untuk merancang dan mengevaluasi kebijakan bagi perbaikan. Interaksi kebijakan yang berbeda juga harus diperhatikan, karena sistem nyata sangat nonlinear dan dampak kombinasi kebijakan biasanya tidak berupa dampaknya saja
Beberapa penelitian terkait penggunaan pendekatan sistem dinamis untuk memecahkan permasalahan dapat dilihat pada tabel berikut: .
Peneliti Topik Penelitian Metode
Teimoury et.al (2013) Analisis kebijakan import buah-buahan yang mudah membusuk sistem dinamis
Jeong Hanseok and Adamowsk Jan (2016) Pembuatan socio-hydrological model sistem dinamis
Tian Yihui, Govindan Kannan, Zhu Qinghua Pengembangan model kebijakan untuk memperluas green supply chain management sistem dinamis
Ozcan-Deniz Gulbin, Zhu Yimin (2016) model untuk pemilihan konstruksi dengan pertimbangan sustainability sistem dinamis
Poor Rafi Rahanandeh Langroodi
, Amiri Maghsoud (2016) Model pendekatan untuk rantai pasok multi level, multi product, multi region dengan kondisi perimintaan yang tidak menentu sistem dinamis
Li Chaoyu, Ren Jun and Wang Haiyan (2016) Model sistem menajemen risiko rantai pasok zat kimia sistem dinamis
Ding Zhikun , Yi Guizhen, Tam Vivian W.Y, Huang Tengyue (2016) Simulasi menajemen pengurangan jumalah sampah di China sistem dinamis
Vashirawongpinyo Paitoon (2010) Model analisis behavior of manufacturing dalam rantai pasok sistem dinamis
Azadeh Ali, Arani Hamed Vafa (2016) Optimasi rantai pasok biodisel sistem dinamasi dan program matematis
2.4 Penelitian Terdahulu
Berbagai penelitian terdahulu telah banyak dilakukan terkait dengan pengembangan agroindustri. Erni (2005) melakukan penelitian untuk formulasi strategi pengembangan agroindustri nilam menggunakan pendekatan fuzzy logic. Tujuannya untuk menentukan strategi guna meningkatkan produksi dan mutu minyak nilam. Pendekatan sistem digunakan untuk analisis kebutuhan, identifikasi sistem agroindustri nilam. Aplikasi metode fuzzy digunakan untuk pengambilan keputusan secara berkelompok dengan metode Multi Expert-Multi Criteria Decision Making sedang untuk pemilihan strategi digunakan metode fuzzy AHP. Hasil menunjukkan bahwa strategi paling penting adalah aplikasi dan pengembangan teknologi budidaya (51.62%), teknologi penyulingan (35.21%), dukungan pemodalan (8,25%) dan pengelolaan kelembagaan usaha (4.9%).
Halim Mahfud (2004) membuat penelitian yang berjudul pemodelan sistem pengembangan agroindustri minyak atsiri dengan pendekatan klaster. Latar Belakang penelitian terbatasan teknologi, kualitas sumber daya manusia dan pemodalan usaha serta tantangan persaingan yang ketat dalam perdangan internasional. Metodologi yang digunakan pads pengolahan data menggunakan kaidah independent preference evaluation, pada model kelembagaan menggunakan interpretatif structural modeling (ISM). Hasil yang didapat yaitu engembangan teknologi pengolahan dilakukan dengan pendeversivikasian produk yang dihasilkan.
Supriatna, dkk melakukan penelitian analisis sistem perencanaan model pengembangan agroindustri minyak daun cengkeh : studi kasus di sulawesi utara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sistem perencanaan awal sebuah agroindustri penyulingan minyak atsiri dari daun cengkeh di wilayah Sulawesi
Utara, serta menganalisis kelayakannya baik dari aspek teknik, manajemen maupun aspek finansialnya. Metode yang digunakan adalah rancangan tata letak pabrik (plant layout design) dan metode ekonometrik. Berdasarkan kriteria pemilihan lokasi pabrik di Sulawesi Utara. Simpulan penelitian ini bahwa pengembangan teknologi penyulingan minyak di Sulawesi Utara layak untuk dilaksanakan.
Indrawanto dan Mauludi melakukan penelitian berjudul strategi pengembangan industri nilam Indonesia. Pengembangan industri nilammengintegrasikan sektor usahatani, agroindustri penyulingan dan industri hilir nilam. Pembentukan klaster industri yang menggabungkan usahatani dengan agroindustri penyulingan di kabupaten sentra usahatani. Untuk menunjang terlaksananya strategi ini dengan baik maka perlu perlu diketahui status pasokan dan serapan industri nilam Indonesia saat ini.
Ahmad dan Priyono melakukan penelitian tentang pemberdayaan usaha mikro dan kecil (umk) melalui penguatan agroindustri di kabupaten banyumas. Metode yang digunakan analisis pertama adalah melakukan proyeksi perkembangan produk. Metode kedua adalah dengan menggunakan model tipologi daerah dan pemetaan. Kesimpulan penelitian ini, Pemerintah daerah perlu mengembangkan usaha mikro dan kecil dalam usaha agroindustri lebih lanjut. Pengembangan agroindustri sekaligus juga diarahkan untuk mengatasi permasalahan pengangguran dan pengentasan kemiskinan terutama di kawasan perdesaan.
Gu Wan-rong,et al, 2013 melakukan analisis SWOT untuk mendapatkan strategi pegembangan industri jagung di Cina Provinsi Heilongjiang. Strategi perlu dikembangkan karena telah terjadi kesenjangan secara nasional antara kekurangan pasokan jagung dan meningkatnya permintaan di jagung di Cina. Hasil dari mengruskan pemerintah meransang pengembangan industri jagung. Menurut Langyintuo, 2010, strategi pengembangan industri perlu dilakukan pada industri benih jagung agar produksi jagung meningkat. Penelitian ini dilakuakan di Afriaka bagian timur dan selatan.
Patari, 2011 mengkaji industri pengolahan kertas dan bubur kertas untuk mendapatkan strategi pengembangan karena sering terjadi perubahan iklim global dan lingkungan yang mempengaruhi pasokan bahan baku. Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dynamic capability yang mampu menghasilkan framework strategi yang bersifat dinamis. Jole, 2016 juga menggunakan sistem dinamis dalam pengembangan agroindustri jerut citrus. Penelitian dilakukan dengan membuat rencana produksi yang terintegrasi kemudian diuji dengan menggunakan sistem dinamis. Model aplikasi dan hasil penilaian menunjukkan bahwa perencanaan terpadu dapat meningkatkan pendapatan sebesar 70% dan marjin agribisnis sebesar 43%.
Evalia, 2015 telah mengkaji strategi pengembangan agroindustri gula semut aren di Kecamatan Lareh sago halaban. Metode penelitian adalah studi kasus dalam bentuk deskriptif kuantitatif. Teknik pengolahan data menggunakan analisis deskriptif, IFE/EFE,SWOT dan AHP. Hasil Pengolahan AHP diperoleh faktor penentu adalah Teknologi (0,439) dengan pelakunya adalah Pemerintah (0,577) serta strategi yang diprioritaskan adalah Pemberian bantuan berupa teknologi tepat guna dan teknologi packing untuk skala komersil (0,258).
Setyowati menganalisis usaha dan strategi pengembangan agroindustri keripik ketela ungu sebagai produk unggulan di kabupaten karanganyar. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan analisis usaha dan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usaha agroindustri keripik ketela ungu menguntungkan. Strategi pengembangan agroindustri keripik ketela ungu meliputi: Membangun kemitraan yang kuat dengan supplier ketela ungu, Pengembangan basis wilayah sentra ketela ungu, Efisiensi produksi keripik ketela ungu, Adopsi teknologi produksi, Perluasan segmen pasar, Peningkatan akses permodalan bagi agroindustri keripik ketela ungu, Peningkatan mutu produk keripik ketela ungu dan Diversifikasi produk olahan ketela ungu.
Ihsanudin, 2015 melakukan penelitian di Kabupaten Tulungagung Jawa Timur untuk menentukan strategi pengembangkan agroindustri perkebunan demi menkudung pengembangan ekonomi masyarakat. Metode analisis untuk menentukankomoditas perkebunan unggulan dipergunakan analisis LQ. Sedangkan untukmenentukan wilayah pengembangan adalah dengan menggunakan analisis deskriptif.Adapun perumusan strategi dipergunakan Analytical Hierarchy Process. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komoditas perkebunan unggulan di KabupatenTulungagung adalah kelapa. Sedangkan wilayah yang sesuai untuk pengembangankomoditas ini adalah Kecamatan Bandung, Tanggunggunung, Kalidawir, Pucanglaban,Rejotangan dan Ngunut. Sementara strategi pengembangan yang perlu dilakukan secaraberurutan adalah peluang pasar ketersediaan bahan baku, dukungan kebijakanpemerintah, kompetensi SDM, teknologi, permodalan dan infrastruktur.
Wardanu, 2014 melakukan penelitian yang bertujuan untuk merumuskan strategi pengembangan agroindustri kelapa di Ketapang.Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi dan wawancara. Wawancara dilakukan kepada 70 responden dengan rincian 25 responden dari petani kelapa, 15 responden dari pedagang pengumpul kelapa dan 25 responden dari masyarakat umum, serta 5 orang responden yang dianggap ahli dalam melakukan penilaian terhadap strategi pengembangan kelapa. Data dianalisis secara deskriptif kuantitatif dalam bentuk pembobotan dan rataan skor serta analisis strategi dengan analisis matriks Internal Factor Evaluation, matriks Eksternal Factor Evaluation, matriks Internal-Eksternal, serta matriks Strengths, Weaknesses, Opportunities, dan Threats. Hasil kajianmenunjukan bahwa faktor kekuatan adalah: ketersediaan bahan baku dengan nilai 0,281, sedangkan faktor yang menjadi kelemahan adalah: tingkat pendidikan relatif rendah dengan nilai 0,314.
Harisudin, 2013 memetakan strategi pengembangan agroindustri tempe di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Metode dasar penelitian adalah deskriptif analitik berbasis pada data primer dan skunder. Pemetaan prioritas agroindustri yang berkembang dianalisis dengan Analytical Hierarchy Process (AHP), dan perumusan alternatif strategi dianalisis dengan Matriks Internal-Eksternal (IE). Keputusan pemilihan strategi ditentukan dengan Quantitative Startegic Planning Matrix (QSPM). Hasil penelitian posisi bersaing agroindustri tempe berada pada kuadran V (strategi pengembangan produk dan penetrasi pasar). Berdasarkan QSPM diperoleh rekomendasi strategi yang paling tepat dilakukan oleh pelaku agroindustri tempe di Bojonegoro adalah strategi pengembangan produk.
Martiyanti, et al, 2015 mennngunakan analisis SWOT serta penentuan nilai daya tarik pada Analisis QSPM untuk strategi terbaik pengembangan agroindustri mocaf di Kota Singkawang. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah 1) faktor internal dan faktor eksternal apa saja yang berpengaruh terhadap pengembangan agroindustri mocaf di Kota Singkawang; 2) alternatif strategi apa yang dapat disusun guna mengembangkan agroindustri mocaf di Kota Singkawang; 3) bagaimana strategi terbaik untuk mengembangkan agroindustri mocaf di Kota Singkawang. Hasil penelitian didapat urutan pertama prioritas strategi pengembangan agroindustri mocaf di Kota Singkawang adalah optimalisasi penerapan teknologi pengolahan untuk menjamin mutu produk.
Rukayah 2015 menentukan strategi pengembangan agroindustri keripik singkong Primadona di Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekan Baru. Strategi dengan menggunakan anlisis SWOT. Dari hasil penelitian didapat prioritas strategi pada usaha agroindustri Keripik Singkong Primadona yaitu: peningkatan pelayanan dan penampilan produk, melakukan standarisasi produk, memperbanyak jumlah produksi, memperluas pengembangan pasar.
Ariesta, 2016 merancang strategi pengembangan usaha agroindustri beras siger di kelurahan Pinang Jaya Kemiling Kota Bandar Lampung. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif (SWOT, pengetahuan dan proses pengambilan keputusan konsumen) serta analisis deskriptif kuantitatif (analisis pendapatan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) kekuatan utama agroindustri adalah kualitas beras siger yang baik sedangkan kelemahan utama agroindustri adalah keterbatasan modal kerja, (2) pendapatan rata-rata usaha perbulan adalah sebesar Rp141.992,06 dengan nilai R/C lebih dari satu yang berarti agroindustri menguntungkan, (3) peluang utama agroindustri adalah kepemilikan alat mesin produksi sedangkan ancaman utama agroindustri adalah kurangnya pengawasan dan pembinaan dari pemerintah (4) konsumen sudah memiliki pengetahuan dan informasi mengenai karakteristik produk dan seluruh konsumen melakukan lima tahap proses pengambilan keputusan yaitu pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi alternatif, proses pembelian dan evaluasi pasca pembelian. Penelitian terkait minyak nilam mulai dari bahan baku, pengolahan, pemasaran dan manfaat dapat dilihat pada tabel berikut:
Peneliti Budidaya Teknologi Proses mesin peralatan Litbang Kajian Finansial Bisnis, Pemasaran dan Perdagangan
Gotama, 2014 X
Hariyani, 2015 x
Setya,dkk 2012, x
Kusuma and M. Mahfud 2016 x
Bey,et al,2016 X
Fadli,et al,2016 X
Park,et al,2016 X
Paul,et al, 2016 X
Swamy 2016 x
Rajagukguk,2009 x
Indah Shoraya, 2010 x
Putri Diana Pramifta dan Zetra Yulfi, 2011 x
Gotama, 2014 melakukan studi peningkatan nilai tambah produk minyak nilam mengetahui pengaruh metode distilasi, yaitu distilasi fraksinasi vakum dan distilasi dengan air (water distillation) pada peningkatan kadar PA dalam minyak nilam serta upaya kristalisasi PA. Hariyani, 2015 dan Emmyzar melakukan penelitian tentang pengaruh budidaya nilam terhadap produktifitas dan kualitas minyak atsiri tanaman nilam (pogostemon cablin benth. Setya, 2012, Kusuma and M. Mahfud 2016 melakukan penelitian tentang metode ekstraksi daun nilam. Bey , 2016, Fadli 2016, Park 2016, Paul 2010 melakukan penelitian tentang manfaat minyak atsiri dan minyak nilam. Swamy 2016 tentang prospek pegembangan agroindustri minyak nilam