Home > Sample essays > Essay 2017 07 17 000DDQ

Essay: Essay 2017 07 17 000DDQ

Essay details and download:

  • Subject area(s): Sample essays
  • Reading time: 14 minutes
  • Price: Free download
  • Published: 1 April 2019*
  • Last Modified: 23 July 2024
  • File format: Text
  • Words: 400 (approx)
  • Number of pages: 2 (approx)

Text preview of this essay:

This page of the essay has 400 words.



BAB II

LITERATUR REVIEW

2.1 Tanaman Nilam

Nilam ((Pogostemon cablin Benth.) merupakan salah satu tanaman perdu yang sekarang banyak dilirik orang sebagai karena memiliki nilai ekonimis yang cukup tinggi. Keunggulan tanaman ini memiliki multi manfaat dan kahsiat yang cukup bagus dibanding dengan tanaman perdu yang lainnya. Minyak nilam merupakan jenis minyak atsiri yang memiliki kemampuan fiksasi tinggi sehingga banyak digunakan dalam pembuatan parfum, detergen dan condisioner rambut (Swamy  and Sinniah , 2016; Swamy  and U. R. Sinniah , 2010). Minyak atsiri merupakan jenis minyak yang disuling dari berbagai macam tumbuhan seperti serai, akar wangi, cengkeh, kayu manis, nilam, mawar dll. Minyak atsiri diperoleh dari akar, batang dan daun tanaman yang diekstraksi terlebih dahulu (Kusuma dan Mahfud, 2016; Bey, 2016 ).

Gambar. Nilam Pasaman Barat (Sumber: Koleksi Pribadi)

2.1.1.Jenis Tanaman Nilam

Nilam merupakan tumbuhan tropik yang termasuk dalam famili labitia, klas Angiospemae dan devisi Spermatopyta. Tanaman nilam merupakan jenis tanaman berakar serabut, bentuk daun bervariasi dari bulat hingga lonjong dab batangnya berkayu antara 10-20 cm. Secara umum, di Indonesia terdapat tiga jenis nilam yang dapat dibedakan berdasarkan karakter morfologi, kandungan dan kualitas minyak serta ketahanan hama dan penyakit (BP2LHK, 2015).:

a. Pogestemon Cablin Benth (Nilam Aceh)

Nilam ini memiliki ciri daunnya agak membulat seperti jantung, di bagian bawah jdaun terdapat bulu-bulu rambut sehingga warnanya tampak pucat dan tidak atau jarang berbunga. Kadar minyak antara 2,5-5% dan komposisi minyaknya bagus.

b. Pogestemon Heyneatus Benth (Nilam Jawa)

Nilam ini memiliki ciri daunnya lebih tipis, ujung daun agak runcing dan memiliki bunga. Kandungan minyak rendah hanya 1/3-1/2 dari nilam aceh yaitu 0,5-1,5%. Nilam jenis ini kurang diminati petani meskipun bentuknya lebih besar dan rimbun.

c. Pogestemon Hortensis Backer (Nilam Sabun)

Nilam jenis ini disebut nilam sabun karena digunakan sebagai pengganti sabu. Bentuk hampir sama dengan nilam jawa. Daunnya tipis, ujung daun agak runcing dan tidak berbunga, Kadar minyaknnya rendah, hanya sekitar 0,5-1,5% dan komposisi minyaknya pun jelek.

2.1.2 Agroekologi Tanaman Nilam

Nilam termasuk tanaman yang mudah tumbuh seperti tanaman herba lainnya. Namun untuk memperoleh produksi yang maksimal diperlukan kondisi ekologi sesuai untukpertumbuhannya. Berikut Tabel kesesuaian lahan dan iklim tanam nilam.

Tabel Kesesuaian Lahan Dan Iklim Tanam Nilam

No Parameter Tingkat Kesesuaian

Sangat sesuai Sesuai Kurang sesuai Tidak sesuai

1 Ketinggian tempat (m dpl) 100-400 0-100   400-700 700 >700

Tanah

1 Jenis Tanah Andosol, Latosol Regosol, Podsolik, Kambisol Lainnya Lainnya

2 Drainase Baik Agak Baik Agak Baik Terhambat Pasir

3 Tekstur Lempung Liat Berpasir Lainnya Pasir

4 Kedalaman air >100 75-100 50-75 <50

5 Ph 5,5-7 5-5,5 4.5-5 <4,5

6 C-Organik(%) 2-3 3-5 <1 –

7 P2O5 (ppm) 16-25 10-15 >25 –

8 K2O (me/100gr) >1 0,6-1 0,2-0,4 –

9 KTK(me/100gr >17 5-16 <5 –

Iklim

1 Curah Hujan Tahunan (mm) 2300-3000 150-2300 1200-1750 >3500

2 Hari Hujan Tahunan (mm) 120-180 100-120   180-210 210-230  85-100 <230 <85

3 Bulan Basah per tahun 10-11 7-9 <11  5-6 <5

4 Kelembaban Udara (%) 70-90 60-70 50-60 >90 <50

5 Temperatur (C) 24-28 24-25  26-28 23-24  28-29 <23  >29

Sumber: Balittro (1998) dalam Nuryani, Emmyzar dan Wiratno (2005)

2.1.3 Budidaya Nilam

Tanaman nilam dapat diperbanyak dengan cara vevetatif melalui stek pucuk, batang dan cabang. Usaha menjamin produktivitas dan kualitas nilam, bahan tanaman dipilih secara baik. Mutu bibit merupakan salah satu unsur yang menentukan keberhasilan budidaya. Bibit yang benar adalah bibit yang diambil dari kebun induk yang jelas varietasnya. Stek yang diambil dari pucuk menghasilkan pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan dengan bibit yang berasal dari stek bagian pangkal. Stek nilam dapat dilakukan dengan menggunakan polibag dan menggunakan bedengan. Penggunaan polibag bertujuan untuk mengurangi jumlah yang mati ketika dipindahkan (BP2LHK, 2015).

Umumnya nilam ditanam secara monokultur, namun dapat juga ditanam secara tumpangsari dengan tanaman lain seperti tanaman palawija (jagung, cabe. Terung dan lainnya). Selain dengan tanaman palawija, nilam dapat dipolatanamkan dengan tanaman tahunan seperti diantara kepala, kelapa sawit, karet yang masih berumur muda dan kayu putih karena tanaman nilam masih berproduksi dengan baik pada intensitas cahaya minimum 75% (Mile, 1999). Jarak tanam yang ideal adalah antara 75-100 cm antar baris dan 50-75 dalam baris. Pada lahan datar dan subur dapat digunakan jarak tanam yang lebih lebar minsal 100×100 cm, sedangkan di lahan miring jarak tanam yang digunakan lebih sempit misal 50×75 cm atau 75×75 cm. Pemupukan nilam dapat dilihat pada Tabel berikut.

Tabel 2.1. Pemupukan Susulan pada Tanaman Nilam

Umur Tanaman (bulan) Jenis dan dosis pupuk (Kg/Ha)

Urea ZA TSP KCl

1 75 75 75 50

2 50 50 – 50

3 25 25 – 12,5

Sehabis panen 75 75 75 75

2.1.4 Pemanenan Nilam

Nilam sudah dapat dipanen pada usia 6-8 bulan setelah tanam dan diulang secara periodik setiap 3-4 bulan. Tanda tanaman nilam sudah siap dipanen adalah ketika bagian bawah tanaman sudah menguning. Setelah berusia 3 tahun, tanaman harus diremajakan (Emmyzar, 2004). Panen bisanya dilakukan dengan pangkas setinggi 10-20 cm dari tanah. Produksi terna(daun dan ranting) pertama masih rendah (sekitar 50-75% dari produksi normal). Panen berikutnya dapat dilakukan setiap 3-4 bulan sekali tergantung curah hujan dan kesuburan tanah. Bila panen dilakukan menjelang musim kemarau, regenerasi tunas biasanya lebih lambat (BP2LHK, 2015)..

2.1.5 Pengolahan Pasca Panen Nilam

Pengeringan dilakukan untuk mengurangi kandungan air di dalam bahan. Pada proses pengeringan sebagian besar air dalam terna menguap dan meninggalkan ruang kosong pada bahan, akibatnya jaringan bahan mengerut dan sel minyak pecah sihingga minyak mudah keluar pada proses penyulingan. Pengeringan dilakukan dengan dengan cara menghamparkan terna nilam diatas lantai jemur yang dibuat dari semen atau alas tikar yang menggunakan rak bambu. Hamparan/lapisan terna nilam tidak terlalu tebal (maksimum 20 cm). Selama penjemuran terna harus dibolak balik agar pengeringan merata. Penjemuran dilakukan sampai kadar air dalam terna nilam mencapai 12-15% ditandai dengan warna daun nilam menjadi abu-abu kehijauan dan timbulnya aroma minyak nilam yang lebih tajam. Lama penjemuran yang memadai adalah 2 kali (hari) masing-masing selama 5 jam. Pengaruh cara pengeringan terhadap kadar dan mutu minyak nilam dapat dilihat pada tabel dan pengaruh bobot batang dan ranting nilam dalam terna terhadap rendemen minyak dapat dilihat pada tabel.

Tabel 6.   Pengaruh  Cara  Pengeringan  Terhadap  Kadar  dan Mutu Minyak Nilam

Cara Pengeringan Kadar Minyak (%) Kadar Patchouli Alkohol (%)

Dijemur 2 hari @ 5 jam 3,75 31,58

Dijemur 2 hari @ 7 jam 2,65 33,52

Dijemur 2 jam dan dilayukan 7 hari 2,52 32,93

Sumber: Hobir et al. (2003) dalam Ma���mun (2011)

Tabel 7.  Pengaruh Bobot Batang dan ranting Nilam dalam

Terma terhadap Rendemen Minyak

Bobot Batang dan Ranting (%) Rendemen Minyak (%)

33 3,03

50 2,56

60 2,05

67 1,85

Sumber: Rusli (2002)

2.1.6 Penyulingan Nilam

Penyulingan minyaknilam adalah suatu proses pengambilan minyak dari terna kering dengan bantuan air, dimana minyak dan air tidak tercampur (Romansyah, 2002). Campuran cairan yang disuling dapat berupa cairan yang tidak larut (immiscible) dan selanjutnya membentuk dua fasa, atau cairan yang saling melarutkan secara sempurna (miscrible) yang hanya embentuk satu fasa. Pada prakteknnya penyulingan campuran cairan dua fasa dilakukan untuk memisahkan inyak atsiri dengan cara mengupan dengan bantuan uap. Minyak dipisahkan dari air sehingga diperoleh minyak murni, yang selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk industri kosmetik, sabut, obat dan lain-lain (BP2LHK, 2015).

Yuhono  dan  Suhiran  (2007)  dan  Ma���mun  (2011) menyebutkan bahwa secara umum cara penyulingan minyak nilam dilakukan dengan tiga macam, yaitu :

1. Penyulingan cara direbus (Water Distillation)

Bagian  utama  dari  alat  penyuling  secara  direbus yaitu  tungku  api,  ketel  untuk merebus  air,  kondensor (pendingin)  dan  penampung/pemisah  minyak. Penyulingan

direbus, daun nilam kering dimasukkan dalam ketel berisi air  dan  dipanasi.  Kapasitas  ketel  penyulingan  bervariasi, mulai  dari  200  –  2.000  liter.  Ketel  dibuat  dari  bahan antikarat,  seperti  stainless  steel,  besi,  atau  tembaga berlapis aluminium. Dari ketel  akan keluar  uap, kemudian dialirkan  lewat  pipa  yang  terhubung  dengan  kondensor (pendingin).  Uap  berubah  menjadi  air.  Air  yang sesungguhnya merupakan campuran air dan minyak itu akan menetes  di  ujung  pipa dan  ditampung  dalam  wadah. Selanjutkan,  dilakukan  proses  pemisahaan  sehingga diperoleh minyak nilam murni.

2. Penyulingan cara dikukus (Water and Steam Distillation)

Bagian  utama  dari  alat  penyuling secara dikukus yaitu tungku api, ketel penyuling, kondensor (pendingin) dan penampung/pemisah minyak. Pada cara ini bahan diletakkan di atas rak-rak atau saringan berlobang. Terna kering berada pada jarak tertentu di atas permukaan air. Ketel suling diisi air sampai permukaan air berada tidak jauh dari saringan. Ciri khas metode ini adalah uap selalu dalam  keadaan  basah,  jenuh  dan  tidak  terlalu  panas  dan bahan  yang  disuling  hanya  berhubungan  dengan  uap  dan tidak dengan air panas

3. Penyulingan dengan uap langsung (Steam Distillation)

Bagian  utama  dari  alat  penyuling  secara  uap langsung  yaitu  tungku  api,  ketel  uap,  ketel  penyuling, kondensor (pendingin), penampung/ pemisah minyak. Penyulingan dengan uap langsung prinsipnya hampir sama  dengan  penyulingan  uap  dan  air,  tetapi  pada penyulingan  uap  langsung  sumber  panas  terdapat  pada ketel  uap  yang  letaknya  terpisah  dari  ketel  suling,  terna kering berada dalam ketel suling dan uap air dialirkan dari ketel  uap  pada  bagian  bawah  suling  dan  menggunakan tekanan lebih tinggi.

Pemilihan cara tersebut berdasarkan sifak fisik dan kimia  bahan  yang  akan  disuling  dan  tiap-tiap  cara mempunyai  keunggulan  serta  kelemahannya  masing-masing.  Untuk  mendapatkan  rendemen  dan  mutu  minyak yang  baik  disarankan  untuk  pengolahan  minyak  nilam dengan  menggunakan  cara  penyulingan  dikukus  dan  uap langsung. Namundemikian karena cara penyulingan dikukus merupakan  penyulingan  dengan  tekanan  uap  rendah,  cara ini  tidak  menghasilkan  uap  dengan  cepat  sehingga perpanjangan waktu penyulingan cukup penting artinya baik ditinjau dari mutu maupun rendemen minyak (BP2LHK, 2015).

2.2. Peranan, Peluang dan Kendala Pengembangan Agroindustri di Indonesia

Agroindustri adalah perusahaan industri yang memproses hasil pertanian dari bahan nabati (yang berasal dari tanaman) atau hewani (yang dihasilkan oleh hewan) menjadi produk dalam rangka meningkatkan nilai tambahnya. Proses yang digunakan mencakup pengubahan dan pengawetan melalui perlakuan fisik atau kimiawi, penyimpanan, pengemasan dan distribusi. Agroindustri merupakan suatu sistem terintegrasi yang melibatkan sumberdaya hasil pertanian, manusia, ilmu dan teknologi, uang dan informasi. Produk Agroindustri dapat berupa produk akhir yang siap dikonsumsi ataupun sebagai produk bahan baku industri lainnya.

Agroindustri dikelompokkan atas; 1). Agroindustri hulu yakni subsektor industri yang menghasilkan sarana produksi pertanian, seperti Pupuk, pestisida, herbisida, dll.2). Agroindustri hilir yaitu subsektor industri yang mengolah hasil-hasil pertanian, seperti Minyak goreng, ikan kaleng, sayuran kaleng, abon ikan asin, dsb.

  Tujuan pembangunan agroindustri tidak dapat dilepaskan dari peranan agroindustri itu sendiri (Yusdja dan Iqbal, 2002). Peranan agroindustri bagi Indonesia yang saat ini sedang menghadapi masalah pertanian (Supriyati, 2006) antara lain (1) menciptakan nilai tambah hasil pertanian di dalam negeri; (2) menciptakan lapangan pekerjaan, khususnya dapat menarik tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor industri hasil pertanian (agroindustri); (3) meningkatkan penerimaan devisa melalui peningkatan ekspor hasil agroindustri; (4) memperbaiki pembagian pendapatan; dan (5) menarik pembangunan sektor pertanian.

Menurut Supriyadi (2006) peluang pengembangan agroindustri masih terbuka, baik ditinjau dari ketersediaan bahan baku maupun dari sisi permintaan produk olahan. Namun, masih ditemui kendalakendala dalam pengembangannya, antara lain: (1) kualitas dan kontinyuitas produk pertanian kurang terjamin; (2) kemampuan SDM masih terbatas; (3) teknologi yang digunakan sebagian besar masih bersifat sederhana, sehingga menghasilkan produk yang berkualitas rendah; dan (4) kemitraan antara agroindustri skala besar/sedang dengan agroindustri skala kecil/ rumah tangga belum berkembang secara luas. Implikasinya adalah pengembangan agroindustri harus didukung dengan kebijakan pemerintah untuk mengatasi kendala dan hambatan pengembangan agroindustri. Diperlukan kebijakan yang komprehensif dari peyediaan bahan baku sampai dengan pemasaran, serta dukungan SDM, teknologi, sarana dan prasarana, dan kemitraan antara agroindustri skala besar/sedang dengan agroindustri skala kecil/rumah tangga.

2.3 Sistem Dinamis

Menurut Sterman (2000), pendekatan sistem dinamik yang kompleks memerlukan

model  formal  dan  metode  simulasi  untuk  menguji,  meningkatkan  dan  merancang kebijakan baru. Menurut  Erma  Suryani  dalam  buku  ï¿½ï¿½ï¿½pemodelan  dan  simulasi���  (2006)  simulasi sistem  dinamik  merupakan  simulasi  kontinyu  yang  dikembangkan  oleh  Jay  Forrester (MIT)  tahun  1960-an,  berfokus  pada  struktur  dan  perilaku  sistem  yang  terdiri  antar variabel  dan  loop  feedback  (umpan  balik).  Hubungan  dan  interaksi  antar  variabel dinyatakan  dalam  diagram  kausatik.  Proses  umpan  balik  dapat  dikelompokkan  menjadi dua bagian yaitu (Suryani, 2006):

1.  Umpan balik positif

Jenis umpan balik ini menciptakan proses pertumbuhan, dimana suatu kejadian dapat menimbulkan  akibat  yang  akan  memperbesar  kejadian  berikutnya  secara  terus menerus. Umpan balik ini dapat menyebabkan ketidakstabilan, ketidakseimbangan, serta pertumbuhan yang kontinyu. Contoh : sistem pertumbuhan penduduk.

2.  Umpan balik negatif

Jenis  umpan  balik  ini  berusaha  menciptakan  keseimbangan  dengan  memberikan koreksi agar tujuan dapat dicapai. Contoh : sistem pengatur suhu ruangan.

Sistem  dinamik  adalah  bidang  profesional  yang  berhubungan  dengan kompleksitas  sistem.  Sistem  dinamika  adalah  dasar  yang  diperlukanmendasari  pemikiran  yang  efektif  tentang  sistem.  Sistem  dinamik  berhubungan  dengan bagaimana  hal-hal  berubah  melalui  waktu,  yang  meliputi  sebagian  besar  dari  apa  yang kebanyakan orang merasa sangat penting. Sistem dinamika menafsirkan sistem nyata ke dalam model simulasi komputer yang memungkinkan seseorang untuk melihat bagaimana struktur dan kebijakan pengambilan keputusan dalam system (Forrester ,2010).

Stocks  dan  flows  adalah  komponen  utama  dari  sistem  dinamik.  Sebuah  stocks mewakili penyimpanan beberapa jenis informasi atau entitas (seperti uang atau populasi) di sistem. Flows  mendefinisikan laju perubahan terhadap stocks-menambahkan lebih dari jenis informasi atau entitas ke  stocks, menghilangkan beberapa untuk diganti ke tempat lain dalam sistem, atau menghilangkan dari dalam sistem. Input-an lain untuk sistem yang bukan  bagian  dari  model  sistem  itu  sendiri  termasuk  konverter  dan  sumber  dapat dimunculkan (Leaf, 2007).

Pada sistem dinamis, hal ini dapat dicapai dengan menggunakan causal loop,  causal loop  diagram menunjukkan hubungan sebab-akibat dalam sistem.  Stocks  dan  converters yang digambar dengan panah, diambil dari penyebabnya ke titik yang memberikan akibat. Panah  diberi  label,  apakah  perubahan  nilai  berdampak  dalam  arah  yang  sama  dengan penyebab  yang  nilai  (yaitu,  kenaikan  atau  penurunan  positif),  atau  apakah  nilai-nilai perubahan  berlawanan  arah.  Kedua  hubungan  digambarkan  sebagai  positif  dan  negatif feedback.  Sistem  yang  cenderung  ke  arah  keadaan  stabil  mengandung  feedback  negatif loop,  sedangkan  sistem  dengan  feedback  positif  loop  dapat  memberikan  perubahan bahkan  perubahan  yang  sangat  kecil  dalam  kondisi  saat  ini.  Converters  tidak  pernah berpengaruh dalam sistem, converters hanya penyebab (Leaf, 2007).

Sistem  dinamika  menggunakan  notasi  diagram  tertentu  untuk  stocks  dan  flows(Sterman, 2000) :

��� Stocks diwakili oleh empat persegi panjang (yang menunjukkan wadah memegang isi saham).

��� Flows masuk diwakili oleh pipe (panah) menunjuk ke (menambah) yang stocks.

��� Outflow yang diwakili oleh pipe menuju dari (mengurangkan dari) stocks.

��� Valves control the flows.

Tahapan Pemodelan Sistem Dinamik Menurut Sterman (2000), terdapat lima tahapan dalam mengembangkan model sistem dinamik seperti terlihat dalam yaitu:

Step 1: Problem articulation:

Pada  tahap  ini,  kita  perlu  menemukan  masalah  yang  sebenarnya,  mengidentifikasi variabel  kunci  dan  konsep,  menentukan  horison  waktu  dan  mencirikan  masalah  secara dinamis untuk memahami dan merancang kebijakan menyelesaikannya.

Step 2: Dynamic hypothesis:

Pembuat model harus mengembangkan sebuah teori tentang bagaimana masalah tersebut muncul.  Dalam  step  ini,  perlu  dikembangkan  diagram  causal  loop  yang  menjelaskan hubungan  kausal  antara  variabel  dan  mengkonversi  diagram  causal  loop  ke  dalam diagram flow.

Step 3: Formulation:

Untuk  menentukan  model  sistem  dinamik,  setelah  mengubah  diagram  causal  loop  ke dalam  diagram  flow,  selanjutnya  harus  menerjemahkan  deskripsi  sistem  menjadi  level, rates  dan  membuat  persamaan  /  auxiliary  equations.  Untuk  mengestimasi  sejumlah parameter,  hubungan  perilaku,  dan  kondisi  awal.  Pembuatan  equations  akan mengungkapkan  kesenjangan  dan  inkonsistensi  yang  harus  diperbaiki  dalam  deskripsi sebelumnya.

Step 4: Testing:

Tujuan  pengujian  adalah  untuk  membandingkan  perilaku  simulasi  model  terhadap perilaku aktual dari sistem.

Step 5: Policy Formulation and evaluation:

Sejak pembuat model mengembangkan keyakinan dalam struktur dan perilaku model,pemodel dapat memanfaatkan model yang valid untuk merancang dan mengevaluasi kebijakan bagi perbaikan. Interaksi kebijakan yang berbeda juga harus diperhatikan, karena sistem nyata sangat nonlinear dan dampak kombinasi kebijakan biasanya tidak berupa dampaknya saja

Beberapa penelitian terkait penggunaan pendekatan sistem dinamis untuk memecahkan permasalahan dapat dilihat pada tabel berikut: .

Peneliti Topik Penelitian Metode

Teimoury et.al (2013) Analisis kebijakan import buah-buahan yang mudah membusuk sistem dinamis

Jeong Hanseok  and Adamowsk Jan (2016) Pembuatan  socio-hydrological  model   sistem dinamis

Tian Yihui, Govindan Kannan, Zhu Qinghua Pengembangan model kebijakan untuk memperluas green supply chain management sistem dinamis

Ozcan-Deniz Gulbin, Zhu Yimin (2016) model untuk pemilihan konstruksi dengan pertimbangan sustainability sistem dinamis

Poor Rafi Rahanandeh  Langroodi

, Amiri Maghsoud (2016) Model pendekatan untuk rantai pasok multi level, multi product, multi region dengan kondisi perimintaan yang tidak menentu sistem dinamis

 Li Chaoyu,  Ren Jun  and Wang Haiyan (2016) Model sistem menajemen risiko rantai pasok zat kimia sistem dinamis

Ding Zhikun , Yi Guizhen,  Tam Vivian W.Y, Huang Tengyue (2016) Simulasi menajemen pengurangan jumalah sampah di China sistem dinamis

Vashirawongpinyo Paitoon (2010) Model analisis behavior of manufacturing dalam rantai pasok sistem dinamis

Azadeh Ali, Arani Hamed Vafa (2016) Optimasi rantai pasok biodisel sistem dinamasi dan program matematis

2.4 Penelitian Terdahulu

Berbagai penelitian terdahulu telah banyak dilakukan terkait dengan pengembangan agroindustri. Erni (2005) melakukan penelitian untuk formulasi strategi pengembangan agroindustri nilam menggunakan pendekatan fuzzy logic. Tujuannya untuk  menentukan strategi  guna  meningkatkan  produksi  dan  mutu  minyak  nilam. Pendekatan  sistem  digunakan  untuk  analisis  kebutuhan,  identifikasi sistem  agroindustri  nilam.   Aplikasi  metode  fuzzy  digunakan  untuk pengambilan  keputusan  secara  berkelompok  dengan  metode  Multi Expert-Multi  Criteria  Decision  Making  sedang  untuk  pemilihan strategi  digunakan  metode  fuzzy  AHP. Hasil menunjukkan bahwa strategi  paling  penting  adalah  aplikasi  dan pengembangan teknologi budidaya (51.62%), teknologi penyulingan (35.21%),  dukungan  pemodalan  (8,25%)  dan  pengelolaan kelembagaan usaha (4.9%).

Halim Mahfud (2004) membuat penelitian yang berjudul pemodelan sistem pengembangan agroindustri minyak atsiri dengan pendekatan klaster. Latar Belakang penelitian terbatasan teknologi, kualitas sumber daya manusia dan pemodalan usaha serta tantangan persaingan yang ketat dalam perdangan internasional. Metodologi yang digunakan pads pengolahan data menggunakan kaidah independent preference evaluation, pada model kelembagaan menggunakan interpretatif structural modeling (ISM). Hasil yang didapat yaitu engembangan teknologi pengolahan dilakukan dengan pendeversivikasian produk yang dihasilkan.

Supriatna, dkk melakukan penelitian analisis sistem perencanaan model pengembangan agroindustri minyak daun cengkeh : studi kasus di sulawesi utara. Penelitian  ini  bertujuan  untuk menganalisis  sistem  perencanaan  awal sebuah  agroindustri  penyulingan  minyak atsiri dari daun cengkeh di wilayah Sulawesi

Utara, serta menganalisis kelayakannya baik dari aspek teknik, manajemen maupun aspek finansialnya. Metode  yang digunakan  adalah  rancangan  tata  letak pabrik  (plant  layout  design)  dan  metode ekonometrik. Berdasarkan kriteria pemilihan lokasi  pabrik  di  Sulawesi  Utara. Simpulan penelitian ini bahwa  pengembangan teknologi  penyulingan  minyak  di  Sulawesi Utara layak untuk dilaksanakan.

Indrawanto dan Mauludi melakukan penelitian berjudul strategi pengembangan industri nilam Indonesia. Pengembangan  industri  nilammengintegrasikan  sektor  usahatani,  agroindustri penyulingan  dan  industri  hilir  nilam. Pembentukan  klaster  industri  yang menggabungkan usahatani dengan agroindustri penyulingan  di  kabupaten  sentra  usahatani. Untuk  menunjang  terlaksananya strategi  ini  dengan  baik  maka  perlu   perlu diketahui  status  pasokan  dan  serapan  industri nilam Indonesia saat ini.

Ahmad dan Priyono melakukan penelitian tentang pemberdayaan usaha mikro dan kecil (umk) melalui penguatan agroindustri di kabupaten banyumas. Metode yang digunakan analisis  pertama  adalah  melakukan  proyeksi  perkembangan  produk. Metode  kedua  adalah  dengan  menggunakan  model  tipologi  daerah  dan  pemetaan. Kesimpulan  penelitian  ini,  Pemerintah  daerah  perlu  mengembangkan  usaha mikro dan kecil dalam usaha  agroindustri lebih lanjut. Pengembangan agroindustri sekaligus juga  diarahkan  untuk  mengatasi  permasalahan  pengangguran  dan  pengentasan  kemiskinan terutama  di  kawasan  perdesaan.

Gu Wan-rong,et al, 2013 melakukan analisis SWOT untuk mendapatkan strategi pegembangan industri jagung di Cina Provinsi Heilongjiang. Strategi perlu dikembangkan karena telah terjadi kesenjangan secara nasional antara kekurangan pasokan jagung dan meningkatnya permintaan di jagung di Cina. Hasil dari mengruskan pemerintah meransang pengembangan industri jagung. Menurut  Langyintuo, 2010, strategi pengembangan industri perlu dilakukan pada industri benih jagung agar produksi jagung meningkat. Penelitian ini dilakuakan di Afriaka bagian timur dan selatan.

Patari, 2011 mengkaji industri pengolahan kertas dan bubur kertas untuk mendapatkan strategi pengembangan karena sering terjadi perubahan iklim global dan lingkungan yang mempengaruhi pasokan bahan baku. Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dynamic capability yang mampu menghasilkan framework strategi yang bersifat dinamis. Jole, 2016 juga menggunakan sistem dinamis dalam pengembangan agroindustri jerut citrus. Penelitian dilakukan dengan membuat rencana produksi yang terintegrasi kemudian diuji dengan menggunakan sistem dinamis. Model aplikasi dan hasil penilaian menunjukkan bahwa perencanaan terpadu dapat meningkatkan pendapatan sebesar 70% dan marjin agribisnis sebesar 43%.

Evalia, 2015 telah mengkaji strategi pengembangan agroindustri gula semut aren di Kecamatan Lareh sago halaban. Metode penelitian adalah studi kasus dalam bentuk deskriptif kuantitatif. Teknik pengolahan data menggunakan analisis deskriptif, IFE/EFE,SWOT dan AHP. Hasil Pengolahan AHP diperoleh faktor penentu adalah Teknologi (0,439) dengan pelakunya adalah Pemerintah (0,577) serta strategi yang diprioritaskan adalah Pemberian bantuan berupa teknologi tepat guna dan teknologi packing untuk skala komersil (0,258).

Setyowati menganalisis usaha dan strategi pengembangan agroindustri keripik ketela ungu sebagai produk unggulan di kabupaten karanganyar. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan analisis usaha dan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usaha agroindustri keripik ketela ungu menguntungkan. Strategi pengembangan agroindustri keripik ketela ungu meliputi: Membangun kemitraan yang kuat dengan supplier ketela ungu, Pengembangan basis wilayah sentra ketela ungu, Efisiensi produksi keripik ketela ungu, Adopsi teknologi produksi, Perluasan segmen pasar, Peningkatan akses permodalan bagi agroindustri keripik ketela ungu, Peningkatan mutu produk keripik ketela ungu dan Diversifikasi produk olahan ketela ungu.

Ihsanudin, 2015 melakukan penelitian di Kabupaten Tulungagung Jawa Timur untuk menentukan strategi pengembangkan agroindustri perkebunan demi menkudung pengembangan ekonomi masyarakat. Metode analisis untuk menentukankomoditas perkebunan unggulan dipergunakan analisis LQ. Sedangkan untukmenentukan wilayah pengembangan adalah dengan menggunakan analisis deskriptif.Adapun perumusan strategi dipergunakan Analytical Hierarchy Process. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komoditas perkebunan unggulan di KabupatenTulungagung adalah kelapa. Sedangkan wilayah yang sesuai untuk pengembangankomoditas ini adalah Kecamatan Bandung, Tanggunggunung, Kalidawir, Pucanglaban,Rejotangan dan Ngunut. Sementara strategi pengembangan yang perlu dilakukan secaraberurutan adalah peluang pasar ketersediaan bahan baku, dukungan kebijakanpemerintah, kompetensi SDM, teknologi, permodalan dan infrastruktur.

Wardanu, 2014 melakukan penelitian yang bertujuan untuk merumuskan strategi pengembangan agroindustri kelapa di Ketapang.Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi dan wawancara. Wawancara dilakukan kepada 70 responden dengan rincian 25 responden dari petani kelapa, 15 responden dari pedagang pengumpul kelapa dan 25 responden dari masyarakat umum, serta 5 orang responden yang dianggap ahli dalam melakukan penilaian terhadap strategi pengembangan kelapa. Data dianalisis secara deskriptif kuantitatif dalam bentuk pembobotan dan rataan skor serta analisis strategi dengan analisis matriks Internal Factor Evaluation, matriks Eksternal Factor Evaluation, matriks Internal-Eksternal, serta matriks Strengths, Weaknesses, Opportunities, dan Threats. Hasil kajianmenunjukan bahwa faktor kekuatan adalah: ketersediaan bahan baku dengan nilai 0,281, sedangkan faktor yang menjadi kelemahan adalah: tingkat pendidikan relatif rendah dengan nilai 0,314.

Harisudin, 2013 memetakan strategi pengembangan agroindustri tempe di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Metode dasar penelitian adalah deskriptif analitik berbasis pada data primer dan skunder. Pemetaan prioritas agroindustri yang berkembang dianalisis dengan Analytical Hierarchy Process (AHP), dan perumusan alternatif strategi dianalisis dengan Matriks Internal-Eksternal (IE). Keputusan pemilihan strategi ditentukan dengan Quantitative Startegic Planning Matrix (QSPM). Hasil penelitian posisi bersaing agroindustri tempe berada pada kuadran V (strategi pengembangan produk dan penetrasi pasar). Berdasarkan QSPM diperoleh rekomendasi strategi yang paling tepat dilakukan oleh pelaku agroindustri tempe di Bojonegoro adalah strategi pengembangan produk.

Martiyanti, et al, 2015 mennngunakan analisis SWOT serta penentuan nilai daya tarik pada Analisis QSPM untuk strategi terbaik pengembangan agroindustri mocaf di Kota Singkawang. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah 1) faktor internal dan faktor eksternal apa saja yang berpengaruh terhadap pengembangan agroindustri mocaf di Kota Singkawang; 2) alternatif strategi apa yang dapat disusun guna mengembangkan agroindustri mocaf di Kota Singkawang; 3) bagaimana strategi terbaik untuk mengembangkan agroindustri mocaf di Kota Singkawang. Hasil penelitian didapat urutan pertama prioritas strategi pengembangan agroindustri mocaf di Kota Singkawang adalah optimalisasi penerapan teknologi pengolahan untuk menjamin mutu produk.

Rukayah 2015 menentukan strategi pengembangan agroindustri keripik singkong Primadona di Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekan Baru.  Strategi dengan menggunakan anlisis SWOT. Dari hasil penelitian didapat prioritas strategi pada usaha agroindustri Keripik Singkong Primadona yaitu: peningkatan pelayanan dan penampilan produk, melakukan standarisasi produk, memperbanyak jumlah produksi, memperluas pengembangan pasar.

Ariesta, 2016 merancang strategi pengembangan usaha agroindustri beras siger di kelurahan Pinang Jaya Kemiling Kota Bandar Lampung. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif (SWOT, pengetahuan dan proses pengambilan keputusan konsumen) serta analisis deskriptif kuantitatif (analisis pendapatan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) kekuatan utama agroindustri adalah kualitas beras siger yang baik sedangkan kelemahan utama agroindustri adalah keterbatasan modal kerja, (2) pendapatan rata-rata usaha perbulan adalah sebesar Rp141.992,06 dengan nilai R/C lebih dari satu yang berarti agroindustri menguntungkan, (3) peluang utama agroindustri adalah kepemilikan alat mesin produksi sedangkan ancaman utama agroindustri adalah kurangnya pengawasan dan pembinaan dari pemerintah (4) konsumen sudah memiliki pengetahuan dan informasi mengenai karakteristik produk dan seluruh konsumen melakukan lima tahap proses pengambilan keputusan yaitu pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi alternatif, proses pembelian dan evaluasi pasca pembelian. Penelitian terkait minyak nilam mulai dari bahan baku, pengolahan, pemasaran dan manfaat dapat dilihat pada tabel berikut:

Peneliti Budidaya Teknologi Proses mesin peralatan Litbang Kajian Finansial Bisnis, Pemasaran dan Perdagangan

Gotama, 2014 X

Hariyani, 2015 x

Setya,dkk 2012, x

Kusuma and  M. Mahfud 2016 x

Bey,et al,2016 X

Fadli,et al,2016 X

Park,et al,2016 X

Paul,et al, 2016 X

Swamy 2016 x

Rajagukguk,2009 x

Indah Shoraya, 2010 x

Putri Diana Pramifta dan Zetra Yulfi, 2011 x

Gotama, 2014 melakukan studi peningkatan nilai tambah produk minyak nilam mengetahui pengaruh metode distilasi, yaitu distilasi fraksinasi vakum dan distilasi dengan air (water distillation) pada peningkatan kadar PA dalam minyak nilam serta upaya kristalisasi PA.   Hariyani, 2015 dan Emmyzar melakukan penelitian tentang pengaruh budidaya nilam terhadap produktifitas dan  kualitas minyak atsiri tanaman nilam (pogostemon cablin benth. Setya, 2012, Kusuma and  M. Mahfud 2016 melakukan penelitian tentang metode ekstraksi daun nilam. Bey , 2016, Fadli 2016, Park 2016, Paul 2010 melakukan penelitian tentang manfaat minyak atsiri dan minyak nilam. Swamy 2016 tentang prospek pegembangan agroindustri minyak nilam

About this essay:

If you use part of this page in your own work, you need to provide a citation, as follows:

Essay Sauce, Essay 2017 07 17 000DDQ. Available from:<https://www.essaysauce.com/sample-essays/essay-2017-07-17-000ddq/> [Accessed 12-06-26].

These Sample essays have been submitted to us by students in order to help you with your studies.

* This essay may have been previously published on EssaySauce.com and/or Essay.uk.com at an earlier date than indicated.