Hormon dan Perilaku Instabilitas : Testosterone dan Perilaku Agresi
Saat ini, ekspose dari perwujudan perilaku agresi banyak dijumpai pada media, bahkan dalam kehidupan sehari-hari. Kita menyaksikan acara televisi yang mempertontonkan agresivitas setiap harinya. Mencaci maki, mengumpat, perampokan, pembunuhan, kerusuhan serta segala jenis perilaku criminal dan tindak kekerasan, merupakan beberapa perwujudan dari perilaku agresi. Definisi perilaku agresi menurut Anderson & Huesman (2003, dalam Hogg & Vaughan, 2011) merupakan perilaku yang diarahkan kepada orang lain yang memiliki tujuan untuk menyakiti atau merusak.
Di kehidupan sehari-hari, pria dinilai cenderung bersikap lebih agressiv dibandingkan dengan wanita. Dalam memahami perilaku agresi, tumbuh beberapa pendekatan untuk menjelaskan sebab terjadinya perilaku agresi. Salah satu pendekatan atau perspektif dalam menjelaskan munculnya perilaku agresi yakni dari pendekatan biologis. Laki-laki dinilai lebih aggressive dibandingkan wanita karena adanya peran hormon testosterone.
Testosteron mungkin akan selalu dikaitkan dalam pikiran orang dengan perilaku agresif, namun perannya dalam perilaku agresi merupakan sumber kontroversi. Mengapa level testosterone naik ketika itu terjadi – dan apakah hal itu menyebabkan agresi atau hanya merespon perilaku agresi sampai saat ini tidak jelas.
Penelitian muncul untuk mengkonfirmasi hal ini.
‘Menurut perspektif biologis, perilaku agresi disebabkan oleh meningkatnya hormon testosteron. Dalam suatu eksperimen, ilmuwan menyuntikkan hormon testosteron pada tikus dan beberapa hewan lain. Tikus-tikus tersebut berkelahi semakin sering dan lebih kuat. Sewaktu testosteron dikurangi hewan tersebut menjadi lembut'(http://digilib.uinsby.ac.id/9777/5/bab%202.pdf)
Eleanor Maccoby dan Carol Jacklin (1974) menunjukkan bahwa anak laki-laki tampak lebih agresif daripada anak perempuan. Anak laki-laki lebih sering melakukan permainan yang ‘tidak menyenangkan’, seperti menghukum, mendorong, dan menendang dibanding anak perempuan (Deaux & La France, 1998).
Fakta bahwa kebanyakan perilaku agresi yang muncul dilakukan oleh laki-laki ketimbang perempuan dihubungkan dengan organisasi dan aktivasi efek dari hormon testosterone (Pinel, 2009).
Testosteron merupakan hormon steroid dari kelompok androgen. Testosteron dihasilkan oleh testis pada jantan ( Wikipedia, 2013). Testosteron merupakan hormon yang paing kuat daripada hormon androgen lain, sehingga dianggap paling bertanggung jawab akan efek hormonal pria. Walaupun kedua jenis kelamin mensekresikan testosterone, tetapi laki-laki memproduksi dalam tingkat yang lebih tinggi. Tindakan testosteron pada otak dimulai dalam hidup embrio. Selama keempat untuk bulan kelima kehamilan lonjakan testosteron janin terjadi mencapai kadar testosteron dewasa yang menginduksi perubahan anatomi dan organisasi di otak embrio laki-laki.
Kasser, dan rekannya mengadakan penelitian yang melibatkan 30 orang mahasiswa laki-laki dan mengambil sampel air liur mereka untuk pengujian testosteron. Kemudian mereka diajak untuk berinter aksi dengan pistol atau mainan anak-anak selama 15 menit. Setelah itu mereka memberikan sampel air liur yang lain. Hasilnya, laki-laki yang berinteraksi dengan pistol menunjukkan level testosteron yang tinggi dibandingkan dengan berinteraksi dengan mainan anak-anak. Hal ini dibuktikan lagi, subyek menambahkan saus panas sebanyak yang mereka inginkan pada segelas air yang mereka percayai akan diminum oleh subyek yang lain (Klinesmith, Kasser, & McAndrew, 2006).
Sebagai tambahan, bertambahnya level testosteron secara sebagian menjadi mediasi dari efek berinteraksi dengan senjata pada perilaku agresi ini (Klinesmith, Kasser, & McAndrew, 2006)
Argumen dasar bahwa meningkatnya perilaku agresi pada laki-laki adalah hasil dari peningkatan testosterone selama perekambangan prenatal. Di masa dewasa, testosterone bekerja sebagai ‘sinyal’agresi , lalu perilaku memicu respon terhadap situasi tertentu (Newman, 2009) Di laboratorium, injeksi testosterone terhadap binatang mengakibatkan meningkatnya agresifitas (Moyer, 1993).
Manusia bekerja sama dalam berbagai kegiatan, termasuk agresi dan pertahanan terhadap kelompok lain dari manusia (Carneiro 1970; Chagnon 1968 , 1979a, 2012 ; Harcourt dan de Waal 1992; Harimau 1969; Tiger dan Fox 1971 ; Wrangham 1999 dalam Flinn, 2012). Dalam jurnal yang diterbitkan oleh Flinn, dkk (2012) hasil analisanya menunjukkan bahwa testosteron pada orang dewasa dan remaja laki-laki meningkat ketika mereka mengalahkan orang luar yang bukan teman mereka dalam kompetisi.
Testosteron, secara langsung bertanggung jawab untuk mendorong perilaku yang kompetitif dan bahkan perilaku kriminal. Menurut Evolusioner Neuroandrogetic Teori, hormon seks pria(androgen) berkorelasi dengan peningkatan kemampuan laki-laki untuk memperoleh sumber daya, posisi hirarkis dan mitra seksual (Ellis, 2003, 2004).
Selain tindakan antisosial ataupun perilaku agresi yang sering dikaitkan dengan tetosteron, perilaku lain yang juga dikaitkan dengan testosteron adalah perilaku beresiko (booth). Riset yang dilakukan oleh Heusel dan Dabbs tahun 1996, mengkonfirmasi bahwa pekerja yang bekerja dalam perusahaan yang sama, mereka yang memiliki level testosterone lebih tinggi memiliki kecenderungan lebih untuk keluar atau dipecat dibandingkan dengan mereka yang memiliki level testosteronnya lebih rendah (brennon).
Eisenegger dan rekannya mereview dan mendiskusikan sebab pegaruh hormon testosteron dalam interaksi sosial pada hewan dan manusia dan menyelidiki mekanisme neurobiologis yang mungkin mendasari pengaruh ini. Eisenegger, berdasar dengan penemuan yang terbaru, beragumen bahwa testosteron bukan hanya semata berperan dalam perilaku agresi melainkan untuk pencarian dan mempertahankan status social (Eisenegger, Haushofer, & Fehr, 2011).
Monaghan dan Glickman (1992 dalam Booth, Granger, Mazur, & Kivlighan, 2006, p. 182) menyatakan bahwa level testosteron yang lebih tinggi merupakan asosiasi dengan perilaku dominasi yang kadang-kadang memerlukan agresi.
Beberapa peneliti menyarankan bahwa kita harus membedakan agresi dari dominasi. Agresi mengacu maksud untuk menimbulkan cedera, sementara dominasi adalah keinginan untuk mencapai atau mempertahankan status atas yang lain.
Dr. Christoph Eisenegger (2009) melakukan penelitian yang memastikan pengaruh hormon dalam mempengaruhi perilaku sosial bersama dengan Ernst Fehr. Penelitian ini mengambil sebanyak 120 subjek. Mereka mengambil bagian dalam eksperimen perilaku dimana pembagian uang asli sudah di putuskan. Aturan memungkinkan kedua pihak unuk menawar secara adil maupun tidak adil. Partner negosiasi selanjutnya bisa menerima atau menolak penawaran yang diajukan. Semakin adil tawaran yang diajukan, semakin rendah kemungkinan untuk ditolak oleh partner negosiasi. Jika tidak tercapai kesepakatan, kedua pihak tidak akan mendapatkan apapun.
Sebelum penelitian ini dilakukan, sebagian subyek diberikan testosteron dengan dosis 0,5mg atauapun plasebo yang sesuai.
Jika kita percaya pada pandangan umum yang mengatakan bahwa level testosteron yang lebih tinggi akan cenderung mengadopsi perilaku agresi, egois, bahkan mengambil resiko, maka subyek dengan level testosteron yang lebih tinggi akan memberikan bentuk penawaram yang negatif.
Hasil dari studi ini ternyata bertentangan dengan anggapan perilaku agresi diproduksi oleh level testosteron yang lebih tinggi. Subyek yang menerima testoteron tenyata membuat penawaran yang lebih adil. Sehingga mengurangi resiko penolakan tehadap penawaran minimum yang mereka tawarkan.
re…